Tidak apa-apa

Jika kamu cuma seorang diri, tidak apa-apa.

Jika kamu selalu disalahkan, tidak apa-apa.

Jika kamu tidak diingat orang, tidak apa-apa.

Jika kamu hanya jadi bayang-bayang, tidak apa-apa.

Jika kerja kerasmu tidak dihargai, tidak apa-apa.

Jika kamu dibebani pekerjaan yang bukan tanggung jawabmu, tidak apa-apa.

Jika kamu hanyalah debu, tidak apa-apa.

Asalkan hubunganmu dengan Tuhanmu tidak apa-apa…

Luka

Rasanya pasti gak mudah. Keputusan yg kamu ambil sudah tepat. Hidup harus terus berjalan. Meski luka masih terasa sakit, bersihkan, obati, lalu balutlah dg perban, dan teruslah berjalan.

Saat di perjalanan, sambil terus meringis menahan rasa sakit, luka itu lama2 akan sembuh. Mungkin kita akan segera dipertemukan, mungkin juga tidak. Cepat atau lambat, keduanya adalah ujian, apakah kita mau kembali memasrahkan semua kepadaNya atau tidak. Dia yg memilihkan ujian ini utk kita, Dia telah mengukur bahwa kita mampu. InsyaAllah.

Semoga Allah swt mengobati setiap hati yg luka dan memeluk kita dg hangat rahmatNya.

Saudarimu, yang (berusaha) mencintaimu karena Allah

Jika

Jika tahun ini kau masih di sini, tak terbayang akan seperti apa. Bukan mensyukuri, tapi…gempa ini bukan salah satu kesukaanmu.

Kau tahu…tahun ini ada lagi yg akan mengunjungimu. Mungkin agak sulit waktunya, kau sibuk..beliau juga sibuk. Tunggulah beberapa menit, sepertinya tidak akan lama. Dunia ini sudah semakin tua. Semoga semua segera baik-baik saja, di sini. Di sana, juga.

Jauh

Jauh itu.. jarak dari bumi tempat kakiku menjejak dengan rumah-Mu..

Jauh itu.. jarak hatiku dengan petunjuk dari kitab-Mu dan sabda Rasul-Mu..

Jauh itu.. jarak antara mimpi dan doa-doa dengan ketetapan-Mu..

Jauh itu.. jarak antara Kau dan aku dengan tipisnya iman dan keyakinanku pada-Mu..

 

Kuesioner BNPT?

Tiga hari lalu, datang dua orang berpenampillan mahasiswa masuk ruang dosen. Kurang lebih seperti ini dialog singkatnya dengan saya.

X : Permisi, kami dari BNPT kemarin menyebar kuesioner untuk diisi.
A : BNPT itu apa? (memastikan saya tidak salah dengar)
X : Badan Nasional Penanggulangan Teroris, bu.
A : Oh, iya bagaimana?
X : Kemarin kami titip kuesioner sama seorang dosen laki-laki yg duduk di meja ini. Bisa kami ambil sekarang?
DAS : Wah, saya kurang tahu, karena tidak ada yg menitipkan ke saya. Pak Fa*** kenal adik-adik ini?
AFH : Nggak tahu. Kemarin nitip ke siapa?
X : Yang putih pakai kacamata, sebentar saya coba telpon dulu. (Keluar ruangan sebentar lalu balik lagi). Pak Jumadi namanya.
DAS : Nggak ada yg namanya pak Jumadi di sini, jangan-jangan nitipnya sama ‘penampakan’ 🙄
AF : Pak Zu***n jangan-jangan
X : Iya, pak Zu***n
DAS : Jauh banget dari Jumadi jadi Zu***n. Side telpon beliau pak F****?
AFH : Kemarin side dititip kuesioner, dimana ditaruh? (Mencari ke meja di bagian lain ruangan). Ini bu Ajeng. (Menyerahkan satu paket kuesioner).
DAS: Ini, tapi belum diisi sepertinya.
AFH : Isi sudah bu Ajeng
DAS : Haduh, saya mau praktikum sebentar lagi. Ini kuesioner apa ya?
X : Jadi kami bekerja sama dengan dinas *******, kuesioner ini disebarkan di tiap universitas dengan target 100 mahasiswa dan 25 dosen. Ini tentang kearifan lokal untuk menanggulangi isu-isu yg ada di masyarakat. (Bla bla bla.. Saya gak begitu jelas). Ibu tinggal isi sebentar saja, di bagian biodata.
DAS : Lho, ini kan ada banyak pertanyaannya.
X : Iya bu, tidak perlu diisi. Kami sudah ada datanya untuk diupload secara online. Kami hanya butuh data ibu yg mengisi.
DAS : Ya tidak bisa begitu, nanti kalau kosong, ini diisi orang lain, datanya tidak sesuai dengan saya dong. Tanggung jawab hasil survey ini bagaimana? Abal-abal datanya!
X : Iya bu, kami harus upload hari ini terakhir soalnya.
DAS : Maaf saya tidak bisa. Silahkan cari dosen lain, tapi lakukan wawancara dengan benar, jangan dibuat-buat!

Mereka pun keluar ruangan. Mungkin begini cara BNPT mendapat data tentang radikalisme yg katanya berkembang di kampus-kampus.  Miris.

Yang saya salut, mereka jujur banget bilang kalau datanya sudah ada. Mungkin karena tidak boleh bohong saat puasa ya 🤣. Hadeuh.

 

 

Bahagia hidup bersama Quran (Catatan Pengajian Nuzulul Quran)

3 Juni 2018 / 18 Ramadhan 1439H, Masjid Raya At Taqwa

Pemateri: Ust. Ahmad Musyaddad (penerjemah resmi kerajaan Arab Saudi)

Penyelenggara acara: IKADI NTB

P_20180603_102523.jpg

Ustadz Ahmad Musyaddad saat menyampaikan kajian 


Segala sesuatu yg berhubungan dg Al Quran adalah mulia. Malaikat yg membawa wahyu Al Quran adalah Jibril, karena itu Jibril adalah malaikat yg paling mulia. Nabi Muhammad saw adalah nabi yg diberikan Al Quran. Oleh karena itu, beliau menjadi manusia yg paling mulia. Jika kita ingin menjadi mulia di hadapan Allah, maka dekatlah dengan Al Quran.

Level pertama dalam berinteraksi dengan Quran adalah dengan banyak membacanya. Tetapi Al Quran bukan sekedar bacaan utk mendapat pahala. Di dalamnya ada petunjuk, manual book hidup kita. Hudallinnaas. Quran juga berisi pembeda antara yg haq dan bathil, oleh karena itu Al Quran juga disebut Al Furqan (Pembeda). Menurut Ibnu Taimiyah, orang yg gemar membaca Quran akan memiliki kecemerlangan akal, menyucikan jiwa, fisiknya sehat. Bahagia didapat jika dekat dengan Al Quran. Orang jahiliah zaman Rasul memiliki kebiasaan yg aneh, pantang masuk rumah dari pintu depan. Datangnya Al Quran mensyariatkan masuk dari pintu depan, tradisi masyarakat berubah dan menjadi lebih baik. 

Dalam QS. Al Baqarah terdapat urutan pengajaran Al Quran berdasarkan doa nabi Ibrahim, yaitu tilawah (membaca), ta’lim. (mengajarkan ilmu), dan tazkiyah (mensucikan jiwa). Di ayat lain doa Nabi Ibrahim dijawab Allah dengan urutan berbeda. Rasulullah saw diperintahkan Allah swt utk membacakan Al Quran, mensucikan jiwa, dan mengajarkan makna. Membaca Al Quran yang dilanjutkan dengan mensucikan jiwa akan menjadikan kita paham dengan benar. Orang yg tidak mensucikan diri sebelum belajar, maka ilmunya tidak membawa kebaikan.

Menjadi mulia dengan menghafal Quran, adalah level interaksi yg lebih tinggi daripada tilawah. Quran adalah salah satunya kitab yg dihafalkan. Tradisi ini hanya ada pada umat Muhammad saw. Kitab sebelumnya tidak dihafal oleh umat sebelumnya. Uzair disebut sebagai anak Tuhan oleh kaum Yahudi karena kemampuannya menghafal Taurat. Jika kaum Yahudi zaman itu hidup saat ini, mungkin akan banyak manusia disebut anak Tuhan. 

Di Mauritania, di daerah bernama Singkiti, anak usia 10 tahun harus hafal Al Quran. Jika tidak, menjadi aib bagi keluarga. Cara menghafalnya adalah sang ibu menyuruh anaknya menulis 1 paragraf Quran, lalu diminta membaca berulang hingga 100 kali ke arah barat. Setelah selesai, maka ganti ke arah timur, dst. Setelah selesai seluruh penjuru mata angin, maka hafalan itu akan sangat menempel. Barulah menulis paragraf selanjutnya.  

Level interaksi selanjutnya adalah tadabur Al Quran. Salah satu cara tadabur Quran adalah dengan membaca tafsir Al Quran. Hal ini menjadi suatu keutamaan utk memahami makna dari Al Quran. Contoh ayat ‘masuk pintu depan’, bukan sekedar bermakna masuk ke dalam rumah dari pintu depan. Seorang ulama menafsirkan bahwa makna ayat ini adalah jika menemui masalah, masuklah dari pintu yg sesuai. Jika sakit, pergilah ke dokter, bukan ke bengkel. Ayat lain memperlihatkan kondisi calon penghuni neraka yg mendapati pintu neraka terbuka begitu mereka sampai di depan pintu. Sementara itu calon penghuni surga mendapati pintu surga sudah terbuka, bahkan aroma surga menyeruak sejauh bermil-mil. Hal ini menunjukkan penghargaan Allah swt yg sangat tinggi terhadap orang2 beriman. Analoginya seperti menyambut gubernur, pintunya tentu sudah dibuka sejak lama, bahkan karpet merah dibentangkan untuk yg masuk ke dalam. Berbeda dengan napi calon penghuni penjara yg dianalogikan sebagai calon penghuni neraka.

Dalam menafsirkan Quran ada yg disebut tafsir bil ma’sur dan tafir bir rai, tafsir dengan dalil dan tafsir dengan analisa. Tafsir bil ma’sur adalah tafsir dengan dalil dari hadist nabi dan Quran. Contohnya: ihdinasshirotol mustaqiim, jalan yg lurus. Apa itu jalan yg lurus? Penjelasannya ada di Al Quran, yaitu jalan yg dilalui oleh para Nabi, syuhada, dan orang2 sholeh. Adapun tafsir bir roi, ada yg baik ada yg tercela. Yg baik adalah yg sesuai kaidah penafsiran, dlm konteks bahasa Arab yg baik dan benar. Tafsir ini masih diterima selama masih memiliki rujukan yg benar dan tidak bertentangan dg tafsir bil ma’sur. Orang yg menafsirkan Quran dengan cara ini hendaknya memiliki pemahaman bahasa Arab yg baik, tidak menafsirkan tanpa ilmu yg cukup. 

Sedekah Ramadhan Pak Tukang Parkir

Beberapa hari lalu di awal Ramadhan saya ke JNE untuk mengirimkan paket. Seperti biasa mobil saya parkir di depan, setelah itu saya pun masuk ke dalam kantor JNE. Tak berapa lama, selesailah urusan saya, si paket siap dikirimkan, saya memutuskan segera pulang.

Di parkiran, bapak Tukang Parkir yg biasa sudah siap-siap ambil posisi di belakang Geeva. Saya pun siap-siap dengan selembar Rp 2000-an untuk diberikan ke beliau. Seingat saya, tarif parkir untuk mobil segitu kan ya? Maka setelah selesai memundurkan mobil sesuai petunjuk Tukang Parkir, selembar Rp 2000-an itu saya serahkan pada beliau. Tak disangka, beliau malah memberikan saya kembalian Rp 1000-an. Lho?! Aneh ya? Biasanya tukang parkir malah minta tambah, ini malah dikurangi????

Baik sangka saya, ini karena Ramadhan. Si bapak memilih menyedekahkan tenaganya setengah tidak perlu dibayar. MasyaAllah.

Semoga Allah swt menerima amal ikhlas si Bapak Tukang Parkir dan memberikan rezeki yg berkah. Sesungguhnya, Allah swt menghitung amal setiap hamba-Nya, meski hanya sebesar zarrah, sesuai dari niatnya. Terimakasih pak Tukang Parkir, telah mengajarkan hal yg sangat penting, tapi sering kita lupakan, bahwa sedekah itu tak hanya bisa dilakukan ketika berlimpah.