Rumah-Nya

Tidak setiap yang ingin ke sana akan sampai, hanya yang Diundang-Nya saja, yang dapat masuk ke dalam Rumah-Nya, katanya.

Dan yang terpilih kadang bukan orang yang berpunya, tetapi Dimuliakan-Nya, sehingga mudahlah jalannya menuju ke sana.

Bagaimana cara menjadi yang terpilih? Apa yang harus dilakukan untuk mendapat undangan-Nya? Padahal jiwa masih saja hampa… Padahal jiwa seringkali alpa… iman yang tak seberapa, ibadah yang terinfeksi riya, sedih saat saudara mendapat rejeki tak terkira, doa yang sering tak terkirimkan karena putus asa tak percaya.

Tuhan, hari ini hujan, setelah sepekan lebih kering dan terik setiap harinya. Doa bertahun lalu, tentang hikmah di setiap waktu, karuniakanlah, untuk jiwa-jiwa ringkih penuh dosa namun tetap mencari arti hidup di dunia.

Dan Tuhan, mohon kiranya, terkirim undangan ke alamat rumah jiwa-jiwa yang memintanya. Jiwa-jiwa yang merindukan cahaya.

Iklan

Pinta

Tidak elok mengajukan pinta, rasanya, jika masih saja berat tangan terulur untuk berbagi rizki yang Dititipkan-Nya

Tidak sopan mengajukan pinta, rasanya, jika saat menghadap-Nya masih saja berseliweran pikiran tentang dunia, khusyuk jauh dari jiwa

Tidak layak mengajukan pinta, rasanya, jika dipanggil oleh-Nya masih saja berat kaki melangkah menuju rumah-Nya

Bahkan setan lebih dituruti bujuk rayunya, padahal jelas dalam kitab-Nya, selalu Diingatkan-Nya bahwa ia adalah musuh besar manusia yang pelupa

Seperti meminta keajaiban dan tersadar tahun ini tinggal dua bulan saja!

Sungguh malu mengajukan pinta, karena diri terlampau hina

 

 

 

Waktu

Aku selalu mencarimu
sewaktu terik ataupun hujan
Tapi sosokmu tak terlihat
seperti hilang dalam bayangan

Aku selalu menunggumu
dalam sepi ataupun keramaian
Tapi suaramu tak terdengar
seperti teredam dalam hingar bingar

Waktu tak mau lagi tersenyum
Waktu hanya diam
Bermain ombak dan pasir pantai, bosan
Berlari di atas angin menuju lautan, lelah

Aku (hanya) ingin (meng)hilang
bersama waktu yang terduduk di buritan

 

Esensi Mengulang

Apa yang kita cari dari berlelah-lelah duduk di bangku kuliah? Apakah sekedar lulus karena tuntutan orang tua? Atau memang karena kita merasa butuh akan ilmu yang membuat jiwa mendewasa? Atau untuk mendapat nilai IPK yang tinggi sehingga mudah mencari kerja?

Pada dasarnya, nilai yang didapat bukanlah pemberian dosen, tapi sejatinya torehan pemahaman diri akan ilmu yang meresap dalam kalbu dan kesungguhan serta etika dalam berguru. Dirilah yang mengukirnya. Maka jika ada yang diberikan waktu mengulang mata kuliah tertentu itu adalah konsekuensi dari apa yang kita putuskan. Untuk tidak bersungguh-sungguh, untuk tidak fokus, untuk merasa tidak ada gunanya. Sungguh, tak ada yang sia-sia. Jika memang (merasa) salah langkah, putuskanlah segera untuk belok kiri di persimpangan atau terus melangkah hingga akhir tujuan.

Sejatinya, satu sisi dari nilai yang kita dapatkan dalam lembar KHS adalah bahan evaluasi, bahwa ada yang harus diperbaiki dalam diri. Bukan orang lain yang harus dituntut untuk memaklumi atau dimaki-maki. Bukan ‘mengakhiri’ sebagai ujung dari depresi.

Sejatinya, mengulang seperti latihan kembali sebelum terjun ke medan perang. Dan dosen, seperti seorang komandan, hanya melatih lalu menilai apakah pasukannya sudah siap dan layak tempur atau tidak.  Tak elok bukan, belum mahir gunakan senjata dan beladiri, dikomando untuk bertempur melawan musuh. Resiko luka parah babak belur, bahkan bisa jadi pulang tanpa eh hanya nama. Bahaya!

Yakinkan diri, yakinilah, bahwa mengulang bukan akhir segalanya. Seringkali dalam percobaan, dibutuhkan pengulangan untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Pastinya saat latihan, pengulangan membuat diri jadi lebih terampil. Selalu dalam menghafal Al Qur’an, pengulangan membuat ayat-ayat jadi lebih melekat. Kadangkala dalam perkuliahan, pengulangan diperlukan untuk menjadi pelajaran dan memberi kesempatan diri jadi lebih baik dari sebelumnya.

Yakinkan diri dan yakinilah, bahwa mengulang bukan akhir segalanya. Terlambat dari yang lain karena harus mengulang bukanlah kegagalan. Mereka yang gagal adalah yang memutuskan untuk berhenti melangkah.

Catatan: Ada kalanya mengulang bukan karena salah pada diri, tapi karena dosen yang perlu dievaluasi (bahkan diganti). Tetap saja, kehendak Allah senantiasa baik. Yakinlah, Allah Maha Melihat dan Menghendaki kebaikan untuk kita.  

 

 

Save me from myself

I want it all
I want it now
Forget about the consequences
I know that it’s bad, it’s better to wait
But sometimes I can be selfish
And the only sound I hear is right now
And all my patience gets locked out
I know that it’s wrong
And I want to change
I need You here with me

Chorus:
Allah, Allah, Allah
Save me from myself
Allah, Allah, Allah
Lord I need Your help
Allah, Allah, Allah
Save me from myself
Allah, Allah, Allah

Big lights pull me in every time
And it’s so hard to break a pattern
But I see it clear, what’s deep inside
Is the only thing that really matters
So tell me how, how to turn it around
Before my senses hit the ground
‘Coz I know that’s it’s wrong
And I want to change
I need You here with me

CHORUS

Save me from myself
‘Coz I tripped and fell
And there is nothing, nothing
that I won’t do
Oh, save me from myself
‘Coz I need Your help
And now I’m running, running
Back to You

Writers: Maher Zain, Paddy Dalton, Moh Denebi, Bara Kherigi

(Tidak) Ada yang Sempurna

“Tidak ada pantai yg sempurna,” kataku berusaha memupus keraguanmu untuk bermain air di pantai keempat yang kita temui. Matahari sudah semakin terik, kita sudah sampai di sini dan tak punya waktu untuk mencari yg lebih baik dari ini. “Ayo lari!” dan kakimu mantap mengejar langkahku. Di sisi kanan ombak datang dan pergi sambil membawa dedaunan panjang berwarna hijau kehitaman, kita berlari mencari tempat yang lebih ‘sepi’ dari hempasan ‘rumput laut’, sambil tertawa bersama deru angin.

“Kenapa tidak ada pantai yg sempurna? Pantai yang pertama tadi sebenarnya paling asyik, tapi ada anak-anak penjual gelang yang mengganggu… di pantai kedua ombaknya terlalu besar, pantai ketiga ada kepiting kecil, dan di sini banyak rumput lautnya,” katamu saat kita berhasil memanjat bukit Seger, duduk menghadap pantai dan laut lepas di bawah sana. Nada suaramu masih menyisakan kecewa. Aku kira kata-kataku tentang itu sudah hilang dibawa ombak ke tengah laut lepas saat kita asyik bermain air dan pasir pantai. Ternyata ‘melupakan’ (memang) jauh lebih sulit.

“Karena tidak ada yang sempurna di dunia. Yang sempurna adanya nanti, di surga… Apa yang ada di dunia ini (mungkin) hanya satu persen dari kenikmatan yang ada di surga,” kataku berusaha memperbaiki rasa. Kau diam. Entah mengerti atau tidak.

Aku berharap kau tidak melupakannya dan kelak masih mengingatnya. Kelak, kau akan memahaminya. Dan semoga kita Diizinkan memasuki surga-Nya.

Your ticket, please?

Seandainya

Seandainya menuntut akan membawamu kembali, siapa yg harus kutuntut?

Seandainya marah akan membawamu kembali, siapa yg harus dimarahi?

Rumah sakit? Dokter? Perawat? Atau bahkan diriku sendiri?

Seandainya menangis akan membawamu kembali, aku masih akan terus menangis

Seandainya (kata) seandainya dapat membawamu kembali, aku masih akan terus mengucapkannya