Merasa Bodoh

Kata orang bijak, jika merasa bodoh mendorongmu untuk terus belajar, maka merasa bodoh adalah hal yang baik. Teruslah merasa bodoh dan tak tahu apa-apa. Itu akan membuat kaki melangkah terus, maju ke depan.

Sebaliknya, jika merasa bodoh membuat kakimu berhenti mengejar mimpi, maka ingatlah kalau tidak ada seorang pun yang benar-benar pintar dan menguasai segala hal. Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan, meski sedikit. Dan itu harus disyukuri.

Syukuri yang sedikit, niscaya akan ditambah-Nya. Begitu kata Tuhan.

Ada orang yang tak bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan. Ada juga yang tak bisa kita lakukan dan bisa dilakukan orang lain. Karena itulah, manusia tak bisa hidup sendirian.

Tapi benar, kadangkala aku bingung mencari bantuan. Takut dibilang terlalu bodoh. Takut dibilang merepotkan. Jika sudah begitu, menertawakan diri sendiri satu hal yang bisa kulakukan. Apakah kamu pernah merasa demikian?

 

Sepasang sandal

Kamu tahu mengapa sandal harus sepasang? Karena kaki ada dua? Ya, itu benar. Sandal tak akan nyaman dipakai kalau hanya sebelah, kiri saja atau kanan saja. Seperti kalian.

Ya, seperti kalian yang tak akan sempurna kalau berjalan sendirian. Teruslah berjalan berdua, kemanapun kalian melangkah. Teruslah saling melengkapi dan menyeimbangkan. Seperti sepasang sandal, itulah kalian, jodoh yang dipertemukan Tuhan.

Janji

IMG_2223

Ia berjanji
Sudah lama
Bahwa ia akan selalu
datang

Sampai saat ini
Ia selalu menepatinya
Tak pernah luput
sedetik pun

Membayangkannya begitu menepati janji
Buatku sedikit bahagia
Tapi juga takut
Karena janjinya dipenuhi
Untuk pembalasan
dendam

Dendam yang tak berkesudahan
pada manusia
Anak cucu Adam

Kau pasti tahu siapa dia
Ya, si dia
Setan itu sungguh sangat
menepati janji

Ia berjanji untuk setia menjadi penjaga pintu kegelapan
Ia berjanji untuk setiap saat
tak pernah lalai untuk
membisikkan was-was dan ketakutan
menularkan kebencian, kemarahan, kedengkian, dan kesombongan
mengimingi-imingi kenikmatan dunia yang fana
dalam jiwa
manusia

Dia memang pandai sekali berjanji
dan menepatinya
tidak seperti kamu
Iya, kamu

 

 

Datang

Seperti benar-benar datang

Tapi tidak benar
Karena setelah kubuka mata
Kau hilang perlahan
Meski tak segera kusadari
Kalau yang datang
Sudah pernah hilang

Seperti kembali ke masa lalu
atau justru masa depan?

Kau bilang, “ayo kita jalan-jalan..
nanti menyetirnya bisa gantian”

Sepertinya itu masa depan
karena di masa lalu aku belum sepandai sekarang
menyetir Geeva di jalanan

Apakah kau benar-benar datang?
Tapi yang terlihat hanya kegelapan
Begitu aku membuka mata
Tapi cukup menghangatkan

Terimakasih
sudah datang
dan maaf yang tak sempat
terucapkan

Maaf karena engkau
masih saja sendirian
yang aku sendiri tidak tahu
sampai kapan

Terimakasih
untuk datang
meski sekedar menemani
saat hujan

 

(Menerima) Kritik

brave

“Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati kita sangat terluka . Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakah hal yang diperlukan dalam hidup. ….¬†Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk menjadi mandiri di dunia ini.” (Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running)

Lelah

Apa yg ada hari ini hanya lelah
Lelah yg menjelma jadi retak
Dan hitam seperti di dasar lautan yg paling dalam

Apa yg ada hari ini seperti buih yg tak pernah sampai ke pantai harapan
Apa yg salah dari goresan tak bermakna jika hanya tertinggal di buritan

Atau kulempari saja dengan bebatuan
Biar retak jadi hancur berkeping keping ke dalam jurang

Tuhan…
Apa yg tersisa hari ini hanya lelah yg seperti tak berkesudahan

Luka

Hari itu menjengukmu di sana
Hanya ada kami bertiga
Eh, tidak rupanya
Bukankah selalu ada
Dekat di dalam jiwa

Dulu, kita jarang sekali bicara
Padahal, aku ingin sekali mendengarmu bercerita
Tentang bagaimana bertahan hidup di dunia
Tentang bagaimana menyusun kata-kata
Tentang menjadi bijaksana itu seperti apa

Aku ingin melihatmu lebih banyak tertawa dan bercanda
Bukan hanya sekedar ada
Bukan hanya duduk melihatku mengeja kata
Bukan hanya melihat jalan di depan sana

Ah, mungkin aku terlalu banyak meminta
Tapi aku tak meminta balon berwarna
Ataupun boneka aneka rupa
Aku tak meminta dirimu selalu ada
Cukup lebih banyak mengajakku bicara
Agar aku paham apa yg ada di dalam dada

Dia itu mirip sekali denganmu
Susah ditebak arah pikirannya mau kemana
Berlelah-lelah dan berbusa menghias kata
Tetap saja tak masuk telinga
Tetap saja hanya menyentuh raga

Mungkin aku belum cukup berusaha
Mungkin karenaku hidupnya penuh luka
Mungkin harusnya aku tak pernah ada

Serasa ingin pergi ke ujung dunia
Atau naik balon udara
Berputar di antara awan dan menjejak di atasnya
Lari lari hingga senja menjelma
Lari lari sampai lelah menghapus luka

 @pusara