(Menerima) Kritik

brave

“Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati kita sangat terluka . Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakah hal yang diperlukan dalam hidup. …. Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk menjadi mandiri di dunia ini.” (Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running)

Lelah

Apa yg ada hari ini hanya lelah
Lelah yg menjelma jadi retak
Dan hitam seperti di dasar lautan yg paling dalam

Apa yg ada hari ini seperti buih yg tak pernah sampai ke pantai harapan
Apa yg salah dari goresan tak bermakna jika hanya tertinggal di buritan

Atau kulempari saja dengan bebatuan
Biar retak jadi hancur berkeping keping ke dalam jurang

Tuhan…
Apa yg tersisa hari ini hanya lelah yg seperti tak berkesudahan

Luka

Hari itu menjengukmu di sana
Hanya ada kami bertiga
Eh, tidak rupanya
Bukankah selalu ada
Dekat di dalam jiwa

Dulu, kita jarang sekali bicara
Padahal, aku ingin sekali mendengarmu bercerita
Tentang bagaimana bertahan hidup di dunia
Tentang bagaimana menyusun kata-kata
Tentang menjadi bijaksana itu seperti apa

Aku ingin melihatmu lebih banyak tertawa dan bercanda
Bukan hanya sekedar ada
Bukan hanya duduk melihatku mengeja kata
Bukan hanya melihat jalan di depan sana

Ah, mungkin aku terlalu banyak meminta
Tapi aku tak meminta balon berwarna
Ataupun boneka aneka rupa
Aku tak meminta dirimu selalu ada
Cukup lebih banyak mengajakku bicara
Agar aku paham apa yg ada di dalam dada

Dia itu mirip sekali denganmu
Susah ditebak arah pikirannya mau kemana
Berlelah-lelah dan berbusa menghias kata
Tetap saja tak masuk telinga
Tetap saja hanya menyentuh raga

Mungkin aku belum cukup berusaha
Mungkin karenaku hidupnya penuh luka
Mungkin harusnya aku tak pernah ada

Serasa ingin pergi ke ujung dunia
Atau naik balon udara
Berputar di antara awan dan menjejak di atasnya
Lari lari hingga senja menjelma
Lari lari sampai lelah menghapus luka

 @pusara

Memiliki

Kita tidak pernah memiliki apa-apa di dunia
Manusia hanya dipinjamkan saja
Tuhan berinvestasi untuk manusia
Modal diberikan sesuai kuota
Dengan jumlah yang terperinci untuk setiap jiwa

Kita tak pernah punya apa-apa
Bahkan mata untuk membaca
Bukan punya kita
Ataupun jantung yang berdetak tanpa diminta
Bukan milik kita
Juga rasa yang singgah di hati kita
Semua atas perkenan-Nya

Kita, manusia, tak pernah punya apa-apa
Semua milik-Nya
Diberikan untuk tujuan yang tidak sia-sia
Agar kita mencari jalan menuju-Nya
Kembali dengan membawa semua
apa-apa yg diberikan menghujani kita

Jiwa, raga, harta, coba, rasa
Kembalikan semua pada-Nya
Agar tidak berat beban dirasa
Agar gelap berganti cahaya

senggigikano

kesalahan

Pernahkah kamu secara tak sengaja melakukan kesalahan yang dulu selalu kau cela? Kalau ada orang lain melakukan kesalahan itu kamu menjadi sinis, kesal, menggerutu, bahkan memaki-makinya. Meski (hanya) dalam hati saja. Tapi kini kau melakukannya, secara tak sengaja.

Kamu bertanya padaku, bagaimana mungkin orang baik tetiba melakukan maksiat. Padahal ia selalu ingat, ada Allah yg selalu melihat? Benarkah manusia selalu ingat? Apakah ada manusia yg tak pernah terjerat khilaf? Kalau begitu dia bukan manusia, tapi malaikat.

Ah, (mungkin) kamu merasa telah jadi orang baik yg tak pernah khilaf. Tak sadar angkuh perlahan merajai hatimu meski sekejap.

Dan tetiba saja satu hari kamu terbangun dan melakukan kesalahan yg sama, yang selalu kau cela. Dan kau bertanya padaku, bagaimana bisa sobat?

Seseorang pernah berkata, sungguh seorang muslim terhindar dari maksiat bukan karena dirinya hebat. Tapi karena Allah masih memberi rahmat. Jikalau diri merasa tinggi dan mudah mencela orang yg melakukan maksiat, apakah itu yg disebut syukur atas rahmat? Dan kau masih saja bertanya, bagaimana mungkin maksiat dilakukan seorang yg taat?

Mungkin Allah ingin mengikis angkuh yg mengotori jiwa yg sakit berat. Dia ingin melihat apakah diri benar-benar taat atau sekedar ingin dilihat hebat padahal tersesat.

Hati-hati

Yang namanya berkendara di jalan raya penuh resiko celaka. Kalau gak ditabrak, ya nabrak orang, meskipun gak disengaja. Sehati-hatinya kita dalam berkendaraan, resiko celaka tetap mengintai. Alhamdulillah pagi ini masih diberi Allah terhindar dari celaka. Nyaris ditabrak mobil yang melaju kencang di belakang yang gak lihat kalau lampu sudah merah. Apa mungkin sebenarnya lihat, tapi…. Ah, entahlah.

Memang sih, saya awalnya juga melajukan Geeva dengan kecepatan cukup tinggi karena ingin memburu lampu hijau. Tapi sudah keburu kuning dan merah, segeralah rem saya injak. BRUG! Suara tas saya jatuh di jok belakang. Tak berapa lama, mobil di belakang saya membunyikan klakson dengan suara yang sangat kencang dan terlihat mengambil manuver ke samping kiri, mencoba menghindari mobil saya. Saya masih belum ngeh. Orang ini teh kenapa? Beberapa detik kemudian, saya tersadar kalau baru saja lolos dari maut. Wew. Astagfirullah…. Saya teh salah ya? Apa seharusnya saya lolos dan menerobos lampu merah saja? Tapi nanti lebih banyak yang ketabrak mobil saya.

Saya gak berani noleh ke samping kiri, sebenarnya penasaran bagaimana wajah pengemudi di mobil itu. Tapi biarlah, toh bukan saya yang salah. Dan lampu pun berubah hijau, saya segera tancap gas!

Terimakasih ya Allah, masih melindungi saya hari ini.

Menyapa

Hari ini aku melihat seseorang di toko perlengkapan bayi. Sosoknya seperti senior pembina paskibra tiga belas tahun lalu saat SMA dulu. Apa benar itu dia? Ingatanku parah sekali. Mungkin aku kenal wajah dan perawakan seseorang, tapi sungguh untuk urusan mengingat nama aku bisa dapat nilai F jika hal seperti ini ada ujiannya.

Dia sedang membayar di kasir, tiga kaleng susu ibu menyusui (sepertinya untuk istrinya yg baru melahirkan), sementara aku duduk menunggu bingkisan hadiah lahiran seorang kawan yg baru saja kubeli selesai dibungkus karyawan toko. Coba kuingat-ingat lagi siluet wajah lelaki itu, sepertinya memang iya. Aku mencoba tersenyum saat si ia sepintas melihat ke arahku, buru-buru kutundukkan kepala sambil berpikir, malu sekali rasanya. Apa harus aku yg menyapa lebih dulu? Betapa malunya kalau aku salah orang.

Ah, kalaupun itu benar, aku sangsi ia masih mengingatku. Sadar diri kalau dulu aku tak sepopuler teman-temanku dan cenderung pendiam. Mbak-mbak karyawan toko menyodorkan bingkisan yg sudah cantik terbungkus rapi. Aku ucapkan terimakasih dan bergegas pergi.

“Hey, sombong sekali kamu!!” satu teriakan mengagetkanku yg tengah mengambil posisi duduk dan menutup pintu mobil. Aku menoleh, lelaki yang tadi?! Ia di samping motornya melihat ke arahku. Aku bengong. Aku kah yg dimaksud? Dan sekali lagi kudengar ia berteriak. “Hey, sombong sekali kamu sekarang ya?!”. Wahaha, rupanya ia masih ingat kalau aku juniornya (?). Bergegas aku turun dari mobil dan mendekatinya. “Maaf kak, tadi saya mau menyapa tapi takut salah orang.” Dia tertawa renyah, masih seperti dulu. Tatapan matanya dan pembawaannya juga tidak berubah, hangat seperti matahari. Yang pasti bukan matahari musim panas, itu terlalu menyengat (apasih?).

Ternyata prasangkaku meleset, ia masih ingat namaku bahkan. Padahal sampai sekarang aku masih lupa namanya siapa. Aih, kepalaku ini kalau bisa ingin diganti sparepart-nya. Tebakanku yg satunya ternyata benar, ia habis membeli susu untuk istrinya yg baru saja melahirkan 15 Agustus kemarin. Wah, dua hari lagi pas hari kemerdekaan. Kebetulan yg sangat membahagiakan seorang (mantan) paskibra kalau anaknya bisa lahir tepat di tanggal itu. Tapi ya, lahir kapanpun, yg lebih penting anak dan ibunya sehat. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk seorang ayah. Bukankah begitu?

Yang kusadari dari pertemuan tak disangka ini, ternyata waktu tidak akan merubah orang yang benar-benar tulus. Orang-orang berhati baik akan tetap menjadi orang baik, tak perduli apapun latar belakang agama-suku-budayanya. Dan untuk orang-orang berhati tulus seperti itu aku berharap Tuhan selalu menjaga hatinya untuk mencintai kebaikan dan berjalan menujuNya, sumber dari segala kebaikan. Semoga begitu juga untuk hatiku.

Tiba-tiba aku terpikir tentang kamu. Hey, kita berpisah sudah lama sekali, lebih dari tiga belas tahun! Aku yakin dulu kita pernah bertemu sebelum terlahir di bumi yg dihuni milyaran manusia ini. Katanya, orang-orang yg berjodoh akan dipertemukan dan saling mengenali. Karena hati mereka memancarkan frekuensi yg sama. Jika berbeda, pada akhirnya mereka akan memilih menjauh. Apakah salah satunya atau keduanya.

Apakah aku akan dapat mengenali sosokmu saat kita pertama kali bertemu? Apakah kamu juga akan ingat? Aku ragu, takut salah mengenali. Karena sekali lagi kukatakan, aku ini sungguh pelupa yg sangat kronis.

Pada akhirnya, mungkin aku benar-benar merasa mengenalimu, tapi aku akan memikirkan berulang kali untuk menyapamu lebih dulu. Karena seperti kebanyakan orang, aku takut kalau kenyataan tidak seperti yg diperkirakan.

Jika melihatku seperti itu, akankah kau menyapaku lebih dulu?