Topi di Kaki

Sudah datang? Atau belum? Sepatuku sudah digantung di lemari. Nah, lihat kan bedanya, imbuhan ‘di’ itu gunanya tak sama. Sama seperti sepatu dan topi. Satu dipakai di kaki, satu di kepala. Coba gunakan secara terbalik, aneh kan rasanya? Lama-lama, sepertinya aku juga bisa begitu, gunakan sepatu di kepala dan topi di kaki. Mungkin sambil tertawa-tawa.

Ramadhan yg Berbeda

Ramadhan kali ini, 1441 H, tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi esensinya tetap sama. Ramadhan selalu menjadi bulan yg dirindukan. Bulan dimana tiap malam, bahkan siang, ayat Al Qur’an banyak dilantunkan, dari masjid-masjid dan rumah-rumah di setiap jengkal bumi. Gemuruh tasbih, tahmid, tahlil, dan istigfar meramaikan langit malam-malam Ramadhan. Syahdu.

Yang beda, kali ini rumah sakit – rumah sakit juga penuh dengan rintihan doa, mengalun dari para tenaga medis yg berjuang menjadi garda terdepan melawan Covid 19. Yang beda, dzikir terucap dari lisan para petugas makam yg harus bermalam menguburkan jenazah korban Covid, bahkan setelah ditolak beberapa kali. Pilu.

Ramadhan kali ini mungkin berbeda, tapi esensinya tetap sama. Tuhan Melihat setiap yg kita kerjakan di bulan Ramadhan, Tuhan telah Merencanakan dengan penuh Kebijaksanaan. Sesiapa yg tulus ikhlas berjuang dan berkorban, akan Ditempatkan di Sisi-Nya yg terbaik. Amalan-amalan, meski tak dihargai manusia, akan sempurna Dibalaskan, kelak di surga-Nya.

Ramadhan kali ini berbeda, sungguh istimewa, penuh pelajaran. Tuhan banyak Memudahkan dan menunjukkan kebaikan. Tak harus sholat di masjid dalam kondisi pandemi, tak harus berhari raya di tanah2 lapang dalam kondisi zona merah. Islam telah lengkap memberikan tuntunan. Masker terbukti efektif melindungi pernafasan sekitar 75 persen, yg tak bermasker justru diberi peringatan. Ramadhan ini akhwat berniqab leluasa menjalankan Sunnah tanpa menerima cibiran. Bersalaman dengan yg bukan mahram pun, telah ditetapkan dengan aturan. Sekarang salaman pun dibatasi, bahkan kepada sesama jenis, sebelum cuci tangan terlebih dulu.

Ramadhan kali ini memang berbeda, tapi esensinya tetap sama. Menahan diri dari yg telah ditetapkan akan membatalkan. Menurunkan ego untuk bersabar meraih ampunan. Telah banyak yg berpulang, meninggalkan jiwa-jiwa yg masih menyimpan pertanyaan, kapan kah pandemi ini akan berakhir, Tuhan? Mulai banyak yg kehilangan sabar dan memilih melonggarkan aturan.

Tuhan, tolong kuatkan iman. Mempercayai bahwa ujian ini juga berasal darimu, harusnya tak membuat kami putus asa dari rahmatMu. Maafkan kami yg seringkali mengeluhkan keadaan, tunjukilah jalan utk memperbaikinya. Sungguh, Ramadhan ini berbeda, tapi tetap Ramadhan yg Kau Janjikan kemenangan.

Sendiri

Jika tidak ada lagi yg percaya padamu, jangan terlalu lama jatuh. Kamu memang tidak sempurna. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri dan berhenti. Jika tak ada lagi yang mau membantu, jangan merasa sendiri, meski memang semua orang akhirnya memilih pergi.

Tuhan Maha Melihat, meski kamu hanya seorang diri. Tuhan tahu kamu lemah dan tak ingin jalan lagi. Tuhan tahu harapanmu seringkali tak sesuai dengan kenyataan. Ketika tak ada lagi yg mau berjalan bersama, hanya karena kamu tidak sempurna. Dan kamu terdampar sendirian. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.

Jalan

Tidak sama, jalan setiap orang. Ada yg dimudahkan, ada yg diberi penghalang utk melihat sejauh apa upaya melompat. Bukan mempersulit. Jalan yg unik. Jalan yg penuh untaian pelajaran dan ujian kesabaran. Apakah kaki akan terus berjalan, atau diam di tempat dan berbalik lari ke belakang. Aku pernah bilang kan, bahwa ini tidak pernah mudah, tapi kamu tak boleh menyerah. Entah dimana ujung jalan panjang terbentang, percaya Dia tetapkan kebaikan, selalu kebaikan. Asalkan kebaikan yg selalu diupayakan. Tuhan sungguh Maha Baik, bahkan ketika kita melupakan.

Fana

Bukankah dunia ini fana? Bahkan mengakhirinya juga fana. Kita mengira saat (meng)hilang, masalah akan selesai. Tapi ternyata tidak. Semua akan dipertanggungjawabkan. Tak ada bahagia yg didapatkan dengan melakukan hal yg tidak disukai-Nya. Yang ada hanya fana.

Sungguh, benar katanya, kita tidak diminta utk menyelesaikannya sendiri. Karena tidak mungkin. Kita hanya diminta utk menghadapinya, bukan menghindarinya. Bukan untuk berhasil, tapi utk bertahan di jalan-Nya. Kita diminta utk menyerahkan urusan pada-Nya, setelah mencoba sebaik-baiknya.

Jenggot dan Interview Beasiswa

Gambar di atas siapa yg tidak mengenalnya? Salah satu tokoh superhero di Avengers yg memiliki kekuatan petir mahadahsyat. Ya, dia adalah Thor, Dewa Petir, putra Odin, Raja Asgard. Karakternya jelas digambarkan seperti apa dalam film2nya. Satu hal yg pasti, dia digambarkan berpenampilan dengan jenggotnya yg cukup lebat. Nothing is wrong with that, right? True, it is human right to choose his or her appearance. Well, eventhough Thor is not human.

Salah seorang teman menceritakan tentang pengalamannya interview beasiswa yg membuat saya cukup kaget. Dia ditanya kenapa menggunakan jenggot? Pertanyaan yg sangat tidak nyambung menurut saya dan entah kenapa kesannya seperti Islamophobia. Teman saya yg lainnya, perempuan, tidak ditanyai tentang jenggot tentu saja, mendapat pertanyaan tentang apakah suatu saat dia akan menggunakan cadar atau tidak. Seperti ada bau-bau deradikalisasi yg disusupkan dalam form pertanyaan wawancara beasiswa studi lanjut itu, yg menurut saya sangat aneh.

Penampilan tidak bisa dijadikan acuan utk menentukan seseorang baik atau buruk; apakah dia masuk aliran tertentu atau tidak; bahkan apakah dia teroris atau tidak. We know that we shouldn’t judge book by it’s cover. Coba lihat, Thanos yg punya ide menyeimbangkan dunia dengan Infinity Stone-nya, hanya dengan satu jentikan jari, tidak pakai jenggot. Tetapi Tony Stark yg berupaya menyelamatkan dunia pakai jenggot. Ya, Captain America memang tidak pakai jenggot, itu pilihan penampilannya. Natasha Rumanov juga, memang dia perempuan, pasti aneh kalau pakai jenggot.

undefined

Intinya, berpenampilan dengan jenggot atau tidak bukan masalah. Begitu juga dengan menggunakan cadar. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang yg mempermasalahkan hal itu, padahal belum mengenal baik kepribadian orang tersebut dan merasa dirinya paling benar. Kalau kata Rasul, itu namanya sombong. Sombong itu bukan hanya tentang penampilan, tapi salah satunya tentang merendahkan orang lain. Semoga saya yg menulis ini dan sesiapa yg membaca tulisan absurd ini terhindar dari sifat itu, aamiin ya Allah.

Hafalan dan Tilawah

Hilang hafalan bukan karena kita lupa, tapi kita yg dilupakan oleh Quran, akibat hal2 yg membuat kita tidak layak jadi tempat tinggalnya hafalan Quran. Menghafal Quran itu bukan sekedar utk ingat, tapi utk makin sering membaca Quran. Hafalan itu bukan hanya utk kebaikan diri, tapi harus berdampak pada kebaikan umat, juga merubah akhlak jadi lebih baik. Apapun yg ingin kita raih, perbanyak interaksi dengan Quran, insyaAllah dimudahkan, pertolonganNya akan datang dari segala arah yg tidak disangka-sangka. Rizki itu bukan hanya harta, tapi ketika Allah mudahkan kita utk tilawah dalam sehari 1-2 Juz (Mbak Ani, 2019).

Relativitas

Einstein mengatakan, setiap yang bergerak dengan kecepatan tertentu akan melihat benda lain bergerak dengan kecepatan yang relatif. Tidak akan sama. Massa juga akan mempengaruhi kecepatannya terlihat seperti apa, dari sudut pandang benda lain yang melihatnya. Seekor semut akan melihat manusia sebagai raksasa besar yang bergerak dengan sangat lambat. Padahal jika dilihat dari sudut pandang manusia lain, kecepatannya tidak lambat, biasa saja. Dalam kondisi ini, tidak ada benar dan salah, karena sudut pandangnya berbeda. Keluasan pandangan yang berbeda juga akan sangat mempengaruhi pengambilan kesimpulan. Seekor semut tidak bisa melihat bola yang dinaikinya berbentuk bundar, ia melihat jalan yang ditempuhnya datar-datar saja. Sedangkan manusia bisa melihat bahwa bola itu bundar, karena ia melihat seutuhnya, bola itu bentuknya seperti apa.