Cinta vs Suka (2)

“Kamu tahu sekarang bedanya cinta dan suka?” Ia melepaskan pelukanku darinya, matanya menatapku dengan tajam. Serius sekali. “Yah, agak…” jawabku sambil mengangkat bahu. “Tak apa. Aku ingin kamu menolongku, sekarang.”

Aku masih terbengong, tapi anak laki-laki menjelang kepala tiga itu sudah menarik tanganku keluar kamar dan mendudukkanku di kursi depan kiri di samping supir. Kami naik mobil Suzuki Ertiga putih yg baru dibelinya, kontan, pekan lalu. Dia anti kredit. “Daripada ngutang, lebih baik kontan. Lebih hemat dan gak riba.”

Bukan. Sahabatku ini  bukan anak orang kaya. Hanya saja kami punya prinsip yg sama; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dia lelaki pekerja keras, menyisihkan gaji yg didapatkannya tiap bulan untuk menabung, salah satunya demi mobil impiannya ini.

“Aku menemukannya, orang yg membuatku yakin dan cinta. Ini kombinasi yg tepat. Aku tak akan melewatkannya begitu saja. Aku ingin bertemu orang tuanya dan meminta izin mereka agar aku bisa menjadikan putri mereka tanggung jawabku. Temani aku ya, sobat.” Ia berkata pasti, meski ada kecemasan di nada suaranya. Aku mengangguk, ikut bahagia. “Aku selalu mendukungmu, sobat.” Aku menyentuh pundaknya, menenangkan cemasnya.

Mobilnya berhenti tepat di depan pintu rumah berwarna biru muda berpagar putih. Hei, tunggu dulu, rumah ini tidak asing bagiku. Rumah nomor 9. Darahku rasanya berdesir di kepala, bukannya ini rumah dia, perempuan yg 6 bulan ini kuperhatikan dari jauh, tak berani kudekati, meski aku suka. Ya, suka.. hanya suka, bukan cinta.

Sahabatku berjalan ke arah pintu, berhenti. Mulai mengetuk, lalu  mengucap salam. Aku, berdiri di belakangnya, merasa jantungku makin cepat berdetak. Tak berapa lama  kemudian pintu terbuka. Sesosok perempuan berjilbab merah muda membuka pintu. Saat itu, jantungku sekejap terasa berhenti berdetak. Rasa sukaku tiba-tiba berubah jadi jatuh cinta dan patah hati sekaligus. Kombinasi yang unik.

Cinta vs Suka

“Aku tahu bedanya sekarang!” Teriaknya gembira sembari membuka pintu kamarku. Dia, sahabat baikku sejak kelas 6 SD. Kini kami sudah hampir kepala tiga, tapi masih single, alias bujang. Tanpa pikir panjang ia langsung merebahkan badannya di atas kasur dan melanjutkan ocehannya. “Aku tahu bedanya cinta dan suka. Kamu tahu?”

Haduh, bahasan ini lagi. Aku sudah bosan sebenarnya, seminggu ini semua orang, dari yg sudah lama kenal sampai yg baru kenal, menanyakan hal yg sama, kapan nikah? Capek. Aku membalikkan badan ke arah laptop, melanjutkan mengetik laporan.

“Dengar, sobat. Cinta, itu beda dengan suka. Suka itu hanya ketertarikan biasa. Suka akibat ingin diperhatikan dan ada yg memperhatikan. Suka karena kesamaan hobi dan minat yg sama. Suka karena obrolan yg nyambung, padahal bisa jadi absurd menurut orang lain. Itu suka. Sedangkan cinta adalah sesuatu yg membuatmu ingin menjadikan rasa suka itu setiap saat selalu ada. Setiap saat dia selalu menjadi milikmu, membuatmu ingin bertanggung jawab atas hidupnya saat ini dan yg akan datang. Cinta membuatmu datang mengetuk pintu rumahnya, meski mungkin ia tidak merasakan hal yg sama. Cinta lebih dari suka.”

“Apakah kamu pernah merasakan cinta?” Kataku membalik badan ke arahnya sekarang. “Aku tidak, sepertinya. Selama ini, kalau menurut kata-katamu tadi, aku hanya suka, tidak lebih. Itu yg membuatku tidak beranjak dari status ini.” Aku mulai melankolis.

“Tidak semua pernikahan harus diawali dari rasa cinta, sobat. Yang lebih penting dari itu adalah keyakinan, bahwa kita bisa membangun cinta pada orang yg sama seumur hidup kita nantinya. Belajarlah untuk jatuh cinta, patah hati, dan membangunnya dengan keyakinan yg dititipkan pada Tuhan. Itu lebih dari cukup, untuk bertahan. Tahukan, banyak sekali perceraian, dari artis sampai orang biasa, mudah sekali dilakukan, oleh mereka yg katanya mengawalinya dari cinta. Cinta tidak menjamin suatu hubungan akan bertahan. Karena cinta juga ternyata bisa hilang, aku tahu rasanya. Dan yg menjadi korban adalah anak-anak hasil kisah cinta mereka di masa lalu.”

Aku mendekatinya, sekarang ia duduk berhadapan denganku. Dia, sahabat yg kutemukan, di taman kecil kota kami. Duduk sendirian, ditinggalkan kedua orang tuanya yg bertengkar saling maki 10 m di depannya. Sang ibu menampar wajah ayahnya, lalu melemparkan cincin kawin emas di jari manisnya, pergi begitu saja. Sang Ayah membatu, selama 3 jam. Aku, memegang tangan anak lelaki itu dan memeluknya. Seperti yg aku lakukan sekarang.

 

Rangkaian Seri

Multitasking person is like rangkaian paralel. Rangkaian seri itu just like me. Someone said earlier. You know what that mean?

I think i had wrote about this, in the past. No person could do a multitasking job. It takes a turn on and turn off process on a rapid one, to stay on a multitasking level. The ability to do on and off in each person is different. What factor causing it? Maybe, training is one important factor? What do you think?

Garis

“Kalian tahu, apa maksudnya garis lurus dan garis putus-putus di tengah badan jalan?”

Temanku, bayangannya, muncul lagi di depanku. Sudah lama, lebih 10 tahun yang lalu, ia menanyakan hal itu saat sedang menyetir.

“Itu..tanda batas jalur dua arah kan?” Jawabku sekenanya. Aku belum bisa menyetir saat itu. Pemahamanku tentang rambu-rambu sangat terbatas.

“Garis lurus itu artinya tidak boleh menyalip, garis putus-putus itu boleh menyalip. Itu tanda, yg diberikan, dengan tujuan tertentu. Garis putus-putus biasanya ada di jalan yg lurus. Garis lurus tanpa putus, biasanya ada di jalan berkelok, tanjakan, atau turunan. Karena bahaya utk menyalip pada kondisi-kondisi seperti itu, garis dibuat lurus, sebagai tanda.”

“Oh, gitu ya?” Aku mengangguk, waktu itu. Tapi tetap saja, kini, kadang aku menyalip juga di pengkolan, meski tak ada garis lurusnya. We, logically, should not menyalip at tikungan, please. I am talking to the mirror.

I know it is dangerous. But sometime, I just do it on purpose, after make sure everything will be safe. Just when the situation is too rush. Not too often. Usually, i obey the rule strictly. I never forget what he said that time, about the line. It’s there for a purpose. Like us.

Pergi

Jika memang pergi adalah yg terbaik, maka jangan mendoakannya utk tetap tinggal.

Jika dia tetap tinggal, maka (mungkin) itulah yg terbaik.

Cinta adalah tujuan, bukan pilihan, kata seseorang. Tapi beberapa orang yang memilih bukan berarti tidak memiliki tujuan. Mereka memutuskan dan berkomitmen. Tujuan mereka dimulai dari sana, bersama-sama belajar menggenapi mimpi.

Apa yg sesungguhnya kau cari? Apa yg membuatmu pergi? Jika memang cinta adalah tujuan, maka ia akan membuatmu makin melangkah ke depan. Bukan berbalik mundur dan pergi ke belakang. Jika demikian, maka itu, seperti kata seseorang, hanyalah pilihan dan (memang) tidak perlu diperjuangkan.