Kunci

Aku..
ya.. ini semua tentang aku
bukan
bukan tentangmu

Harusnya kunci itu tak perlu lah kutitipkan padamu
dan saat ia hilang aku berdalih menyalahkanmu
tak adil untukmu

Aku..
ya.. ini semua tentang aku
kesalahanku adalah membiarkan dirimu
membawa pergi kunci itu
yg segera berlari dan melemparkannya pada telaga berwarna biru

Kunci itu sudah tenggelam ke dasar
Jauh, mungkin ada ikan yg sudah menelannya dan membawanya berputar-putar
di perairan

Parah

Yah, sebenarnya tak separah itu
toh sederas apapun hujan yg kurintikkan, tak akan mampu
luapkan danau dan kembalikan kunci itu padaku

Aku..
ya, cuma aku yg katanya bisa mengambil kunci itu
di toko kunci milik pak Badu
beli baru
dan kusimpan dalam saku
punyaku
bukan punyamu

Milikmu, ada di sakumu
tak ada? jangan ambil punyaku
aku bantu saja kau
ke tempat pak Badu

Iklan

Janji

Ia berjanji
Sudah lama
Bahwa ia akan selalu
datang

Sampai saat ini
Ia selalu menepatinya
Tak pernah luput
sedetik pun

Membayangkannya begitu menepati janji
Buatku sedikit bahagia
Tapi juga takut
Karena janjinya dipenuhi
Untuk pembalasan
dendam

Dendam yang tak berkesudahan
pada manusia
Anak cucu Adam

Kau pasti tahu siapa dia
Ya, si dia
Setan itu sungguh sangat
menepati janji

Ia berjanji untuk setia menjadi penjaga pintu kegelapan
Ia berjanji untuk setiap saat
tak pernah lalai untuk
membisikkan was-was dan ketakutan
menularkan kebencian, kemarahan, kedengkian, dan kesombongan
mengimingi-imingi kenikmatan dunia yang fana
dalam jiwa
manusia

Dia memang pandai sekali berjanji
dan menepatinya
tidak seperti kamu
Iya, kamu

 

 

Datang

Seperti benar-benar datang

Tapi tidak benar
Karena setelah kubuka mata
Kau hilang perlahan
Meski tak segera kusadari
Kalau yang datang
Sudah pernah hilang

Seperti kembali ke masa lalu
atau justru masa depan?

Kau bilang, “ayo kita jalan-jalan..
nanti menyetirnya bisa gantian”

Sepertinya itu masa depan
karena di masa lalu aku belum sepandai sekarang
menyetir Geeva di jalanan

Apakah kau benar-benar datang?
Tapi yang terlihat hanya kegelapan
Begitu aku membuka mata
Tapi cukup menghangatkan

Terimakasih
sudah datang
dan maaf yang tak sempat
terucapkan

Maaf karena engkau
masih saja sendirian
yang aku sendiri tidak tahu
sampai kapan

Terimakasih
untuk datang
meski sekedar menemani
saat hujan

 

Luka

Hari itu menjengukmu di sana
Hanya ada kami bertiga
Eh, tidak rupanya
Bukankah selalu ada
Dekat di dalam jiwa

Dulu, kita jarang sekali bicara
Padahal, aku ingin sekali mendengarmu bercerita
Tentang bagaimana bertahan hidup di dunia
Tentang bagaimana menyusun kata-kata
Tentang menjadi bijaksana itu seperti apa

Aku ingin melihatmu lebih banyak tertawa dan bercanda
Bukan hanya sekedar ada
Bukan hanya duduk melihatku mengeja kata
Bukan hanya melihat jalan di depan sana

Ah, mungkin aku terlalu banyak meminta
Tapi aku tak meminta balon berwarna
Ataupun boneka aneka rupa
Aku tak meminta dirimu selalu ada
Cukup lebih banyak mengajakku bicara
Agar aku paham apa yg ada di dalam dada

Dia itu mirip sekali denganmu
Susah ditebak arah pikirannya mau kemana
Berlelah-lelah dan berbusa menghias kata
Tetap saja tak masuk telinga
Tetap saja hanya menyentuh raga

Mungkin aku belum cukup berusaha
Mungkin karenaku hidupnya penuh luka
Mungkin harusnya aku tak pernah ada

Serasa ingin pergi ke ujung dunia
Atau naik balon udara
Berputar di antara awan dan menjejak di atasnya
Lari lari hingga senja menjelma
Lari lari sampai lelah menghapus luka

 @pusara

Memiliki

Kita tidak pernah memiliki apa-apa di dunia
Manusia hanya dipinjamkan saja
Tuhan berinvestasi untuk manusia
Modal diberikan sesuai kuota
Dengan jumlah yang terperinci untuk setiap jiwa

Kita tak pernah punya apa-apa
Bahkan mata untuk membaca
Bukan punya kita
Ataupun jantung yang berdetak tanpa diminta
Bukan milik kita
Juga rasa yang singgah di hati kita
Semua atas perkenan-Nya

Kita, manusia, tak pernah punya apa-apa
Semua milik-Nya
Diberikan untuk tujuan yang tidak sia-sia
Agar kita mencari jalan menuju-Nya
Kembali dengan membawa semua
apa-apa yg diberikan menghujani kita

Jiwa, raga, harta, coba, rasa
Kembalikan semua pada-Nya
Agar tidak berat beban dirasa
Agar gelap berganti cahaya

senggigikano

kesalahan

Pernahkah kamu secara tak sengaja melakukan kesalahan yang dulu selalu kau cela? Kalau ada orang lain melakukan kesalahan itu kamu menjadi sinis, kesal, menggerutu, bahkan memaki-makinya. Meski (hanya) dalam hati saja. Tapi kini kau melakukannya, secara tak sengaja.

Kamu bertanya padaku, bagaimana mungkin orang baik tetiba melakukan maksiat. Padahal ia selalu ingat, ada Allah yg selalu melihat? Benarkah manusia selalu ingat? Apakah ada manusia yg tak pernah terjerat khilaf? Kalau begitu dia bukan manusia, tapi malaikat.

Ah, (mungkin) kamu merasa telah jadi orang baik yg tak pernah khilaf. Tak sadar angkuh perlahan merajai hatimu meski sekejap.

Dan tetiba saja satu hari kamu terbangun dan melakukan kesalahan yg sama, yang selalu kau cela. Dan kau bertanya padaku, bagaimana bisa sobat?

Seseorang pernah berkata, sungguh seorang muslim terhindar dari maksiat bukan karena dirinya hebat. Tapi karena Allah masih memberi rahmat. Jikalau diri merasa tinggi dan mudah mencela orang yg melakukan maksiat, apakah itu yg disebut syukur atas rahmat? Dan kau masih saja bertanya, bagaimana mungkin maksiat dilakukan seorang yg taat?

Mungkin Allah ingin mengikis angkuh yg mengotori jiwa yg sakit berat. Dia ingin melihat apakah diri benar-benar taat atau sekedar ingin dilihat hebat padahal tersesat.

Jika kita tidak bertemu

Hai, apa kabarmu saat ini? Kudengar kau sudah berbahagia sekarang. Dari mana aku tahu? Bukan dari orang lain. Tapi dari hatimu yang berbisik pada angin di senja hari, mengetuk jendela rumahku di balik bukit yg tak pernah bisa kau datangi. Aku senang kau sudah menemukan mutiara yg sejak lama kaucari. Harusnya kau pasti sangat bahagia sekarang.

Entah kenapa masih ada titik-titik air ikut terbawa angin yg harusnya sudah habis jatuh di kaki bukit itu. Dan langitpun belum lagi berbintang. Masih adakah tanya yang belum sempat terjawab?

Seperti yang kita selalu yakini, Tuhan mempertemukan orang-orang baik. Namun (katanya) hanya satu yang tepat dan sisanya hanya ujian. Aku tidak menyesal bertemu denganmu. Apakah kau menyesal bertemu denganku? Mungkin aku memang hanya ujian untukmu. Seperti juga dirimu untukku.

Terimakasih. Karena jika kita tidak bertemu, aku tak akan paham makna kalimat itu.