Rasa dan Asa

Jika hari ini adalah hari terakhirmu, akankah kau tahu? Apakah kau merasakannya? Jiwa yang pelan-pelan tercabut dari raga? Sakitnya seperti apa?

Jika hari ini sehari sebelum hari terakhirmu, akankah kau tahu? Apakah kau merasakannya? Takut tak dapat lagi membuka mata keesokan harinya? Takut tak bisa lagi merasa?

Apa rasanya meninggalkan dunia, tanpa sempat mengucapkan kata-kata? Akankah jiwa terlupa? Akankah semua tanya dapat terjawab sempurna? Akankah dibukakan pintu surga setelah ditimbang segala bekal yang terkumpul di dunia?

Wahai Tuhan Cahaya dan Pemilik Cinta… Ampunilah jiwa yang penuh dosa. Terimalah kesabarannya. Maklumilah alpa dan lupanya. Bukankah Engkau Maha Mengetahui apa yang terjadi pada setiap yang bernyawa. Dan semua sungguh terjadi atas kehendak-Mu? Dan karena percaya, kami yang lemah menjaga hati rapuh ini senantiasa membangun asa, agar kelak dapat berkumpul di sana. Bersama orang-orang yang menjaga ruku dan sujudnya, yang tak lupa menyisihkan rizkinya, yang berbahagia dan membahagiakan sesama, yang percaya Engkau ada dan selalu Menjaga. Semoga Engkau Memperkenankannya.

Iklan

Ada

“Perlihatkan bahwa Tuhan itu ada! Jika dia benar ada, dimana? Jika Tuhan itu ada, kenapa doa-doa tak juga Dijawab-Nya?!”

Untuk jiwa yang mempertanyakan Allah swt ada dimana. Bukankah rasa lelah dan sakit itu ada? Ia terasa meski tak mampu kita lihat wujudnya. Begitupun rahmat-Nya. Tersebar melingkupi raga, terasa, dan begitu nyata. Meski terbatasnya mata tak mampu melihat wujud-Nya, Allah swt ada dan selalu Melihat diri kita. Sendiri ataupun bersama-sama.

Dekat

Bertambahnya umur niscaya memendekkan jarak. Semakin dekat pada satu titik bermulanya masa dimana satu kejapan mata sama nilainya dengan berhari-hari di dunia fana. Kita sesungguhnya dekat.

Pasti, datangnya malaikat akan membuat kita tercekat. Pada titik itu setiap jiwa tak bisa lagi berdebat dan merasa hebat. Tak pula keluarga dekat, sahabat, ataupun kerabat bisa mencegat, jiwa dipanggil menuju akhirat.

Kita sesungguhnya teramat dekat. Menjadi dekat dengan doa-doa yg terpanjat. Menjadi jauh akibat terlalu berharap.

Iya, kamu benar

Ini semua bukan tentang aku
Apalagi dia

Hanya rupa yang tak jelas dan berkata-kata

Lupa
Kapan?
Sia-sia

Katanya jiwa sudah pulang dari raga

Dimana?

Sudah merasa menemukan, tapi hanya bongkahan rasa
Tergeletak di sudut jiwa
Hampa

Mungkin ini rasanya, sedikit demi sedikit menjadi gila…
katamu…tertawa

Iya, kamu benar… tak ada jalan ke surga
Jika Tuhan tak Menghendakinya

Tapi, sudah sampai mana berusaha?
Berhenti saja tanpa berkata apa-apa
Lalu dengan gampangnya
Menyalahkan Tuhan karena tak menakdirkannya?

Iya, kamu benar.. tak akan sampai ke surga
Jika kamu tak memilihnya

 

Rumah-Nya

Tidak setiap yang ingin ke sana akan sampai, hanya yang Diundang-Nya saja, yang dapat masuk ke dalam Rumah-Nya, katanya.

Dan yang terpilih kadang bukan orang yang berpunya, tetapi Dimuliakan-Nya, sehingga mudahlah jalannya menuju ke sana.

Bagaimana cara menjadi yang terpilih? Apa yang harus dilakukan untuk mendapat undangan-Nya? Padahal jiwa masih saja hampa… Padahal jiwa seringkali alpa… iman yang tak seberapa, ibadah yang terinfeksi riya, sedih saat saudara mendapat rejeki tak terkira, doa yang sering tak terkirimkan karena putus asa tak percaya.

Tuhan, hari ini hujan, setelah sepekan lebih kering dan terik setiap harinya. Doa bertahun lalu, tentang hikmah di setiap waktu, karuniakanlah, untuk jiwa-jiwa ringkih penuh dosa namun tetap mencari arti hidup di dunia.

Dan Tuhan, mohon kiranya, terkirim undangan ke alamat rumah jiwa-jiwa yang memintanya. Jiwa-jiwa yang merindukan cahaya.

Pinta

Tidak elok mengajukan pinta, rasanya, jika masih saja berat tangan terulur untuk berbagi rizki yang Dititipkan-Nya

Tidak sopan mengajukan pinta, rasanya, jika saat menghadap-Nya masih saja berseliweran pikiran tentang dunia, khusyuk jauh dari jiwa

Tidak layak mengajukan pinta, rasanya, jika dipanggil oleh-Nya masih saja berat kaki melangkah menuju rumah-Nya

Bahkan setan lebih dituruti bujuk rayunya, padahal jelas dalam kitab-Nya, selalu Diingatkan-Nya bahwa ia adalah musuh besar manusia yang pelupa

Seperti meminta keajaiban dan tersadar tahun ini tinggal dua bulan saja!

Sungguh malu mengajukan pinta, karena diri terlampau hina