(Tidak) Ada yang Sempurna

“Tidak ada pantai yg sempurna,” kataku berusaha memupus keraguanmu untuk bermain air di pantai keempat yang kita temui. Matahari sudah semakin terik, kita sudah sampai di sini dan tak punya waktu untuk mencari yg lebih baik dari ini. “Ayo lari!” dan kakimu mantap mengejar langkahku. Di sisi kanan ombak datang dan pergi sambil membawa dedaunan panjang berwarna hijau kehitaman, kita berlari mencari tempat yang lebih ‘sepi’ dari hempasan ‘rumput laut’, sambil tertawa bersama deru angin.

“Kenapa tidak ada pantai yg sempurna? Pantai yang pertama tadi sebenarnya paling asyik, tapi ada anak-anak penjual gelang yang mengganggu… di pantai kedua ombaknya terlalu besar, pantai ketiga ada kepiting kecil, dan di sini banyak rumput lautnya,” katamu saat kita berhasil memanjat bukit Seger, duduk menghadap pantai dan laut lepas di bawah sana. Nada suaramu masih menyisakan kecewa. Aku kira kata-kataku tentang itu sudah hilang dibawa ombak ke tengah laut lepas saat kita asyik bermain air dan pasir pantai. Ternyata ‘melupakan’ (memang) jauh lebih sulit.

“Karena tidak ada yang sempurna di dunia. Yang sempurna adanya nanti, di surga… Apa yang ada di dunia ini (mungkin) hanya satu persen dari kenikmatan yang ada di surga,” kataku berusaha memperbaiki rasa. Kau diam. Entah mengerti atau tidak.

Aku berharap kau tidak melupakannya dan kelak masih mengingatnya. Kelak, kau akan memahaminya. Dan semoga kita Diizinkan memasuki surga-Nya.

Your ticket, please?

11-04-1985 — 19-04-2017

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Aku lupa. Setiap perpisahan ternyata selalu membawa kesedihan. Bukan karena ketidak-ikhlasan, aku tidak mungkin tidak (berusaha) ikhlas, ketika pemilik jiwa mengambil kembali milik-Nya.

“there are things that we don’t want to happen but have to accept, things we don’t want to know but have to learn, and people we can’t live without but have to let go.” (Qisthi, 2017)

Mungkin saja, salah satunya, karena tidak bisa melihat tawamu yang biasa ketika aku mencandaimu. Senyummu yang merekah ketika melihatku pulang dari pergi seharian. Cemberutmu yang muncul setelah aku cerewet menceramahimu. Terimakasih sudah mengizinkanku menjadi adikmu. Terimakasih sudah mau berbagi kasih sayang Bapak dan Ibu.

Rasanya, mbak Ayu tidak sedang pergi ke mana-mana. Rasanya seperti menunggumu bangun dari tidur setiap hari. Hanya saja kali ini tidurmu sangat panjang, mbak. Kelak, entah kapan, aku juga akan tertidur panjang sepertimu. Lalu kita akan sama-sama terbangun di padang mahsyar. Apakah kita akan saling mencari? Tidak kah kita sedang sibuk dan khawatir dengan diri kita sendiri? Semoga saja Rasulullah yang tengah sibuk kala hari yang mencemaskan setiap jiwa itu, tak lupa memanggil nama kita sebagai salah satu umatnya yang akan diberinya syafa’at. Semoga Allah swt bermurah hati memasukkan kita ke dalam surga-Nya, bersama Bapak, Ibu, dan keluarga besar kita, bersama orang-orang mukmin dan sholeh.. meskipun timbangan kita lebih berat ke sebelah kiri, karena sedikitnya amal kebaikan kita di dunia. Semoga Allah swt mencintai kita dengan rahmat-Nya.

Mungkin ini yang namanya rindu. Baru terasa ketika jiwa dipisahkan, tapi hati tak ingin melupakan. Apakah rindu itu satu bentuk dari cinta? Jika iya, maka mungkin ini karena aku mencintaimu, Mbak Ayu.

Aku baru tersadar, 32 tahun lalu dari usiamu, aku lahir 4 hari setelah hari lahirmu. Tahun ini 31 tahun lewat 4 hari aku ada di dunia, Allah swt memanggilmu kembali. Sungguh, tidak ada yang kebetulan. Kata Qisthi, buku ceritamu sudah selesai ditulis, mbak. Tapi segala cerita tentangmu akan tetap di sini. Tentangmu yang berebut GD dengan Dhian. Tentangmu yang punya begitu banyak mimpi yang menurutku ‘ketinggian’. Maafkan jika kadang aku terkesan membatasi mimpimu terbang ke langit. Aku hanya takut, kau terjatuh terlalu keras. Aku hanya ingin mengajakmu kembali ke dunia nyata, tempat di mana tidak hanya ada taman bunga penuh warna, tapi juga bukit batu yang terjal dan melelahkan.

Dunia yang fana ini bukan segala-galanya yang harus kita raih, kan? Hiruk pikuk perhatian orang tak perlu kita cemaskan. Yang penting Allah ridha pada apa yang kita lakukan dan kelak surga akan kita dapatkan. Itu saja yang penting dalam kehidupan, bukan? Dan kematian pasti akan datang menjemput dan memisahkan kita dari kehidupan. Seperti yang telah banyak menimpa banyak orang, termasuk dirimu, mbak. Kau telah berjuang, 10 tahun ini. Mungkin lebih. Maafkan aku karena seringkali terlalu mementingkan ego dan kepentinganku, dibandingkan menemanimu menghadapi semuanya. Harapmu, doamu, tangismu, kesalmu, lelahmu, semua Didengar-Nya, aku percaya Allah swt mendengarnya, mbak. Dan Allah swt selalu menjawabnya dengan “Iya”. Allah swt akan menjawab semua pertanyaanmu, mbak. Jawabannya selalu kebaikan. Aku (selalu berusaha) mempercayai itu. Terimakasih sudah mau sabar menunggu dan mempercayainya.

Selamat jalan, mbak Ayu. Semoga Allah swt mengasihimu, melindungimu, menerangi kuburmu, mengampuni kesalahanmu, mengumpulkan keluarga kita kelak di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

NB: Gambar diambil dari sini

Memahami Takdir

Apakah takdir itu adalah setiap yang Dia Tetapkan untuk manusia? Ataukah apa yg Dia Tetapkan terjadi atas pilihan manusia?

Dalam ceramah dr. Zakir Naik berikut seorang gadis Hindu menanyakan terkait ramalan. Apakah benar ada orang yang bisa mengetahui nasib seseorang (meramal)? Apakah manusia bisa merubah nasibnya dari apa yang sudah diramalkan tersebut?

Menarik!

Kunci

Aku..
ya.. ini semua tentang aku
bukan
bukan tentangmu

Harusnya kunci itu tak perlu lah kutitipkan padamu
dan saat ia hilang aku berdalih menyalahkanmu
tak adil untukmu

Aku..
ya.. ini semua tentang aku
kesalahanku adalah membiarkan dirimu
membawa pergi kunci itu
yg segera berlari dan melemparkannya pada telaga berwarna biru

Kunci itu sudah tenggelam ke dasar
Jauh, mungkin ada ikan yg sudah menelannya dan membawanya berputar-putar
di perairan

Parah

Yah, sebenarnya tak separah itu
toh sederas apapun hujan yg kurintikkan, tak akan mampu
luapkan danau dan kembalikan kunci itu padaku

Aku..
ya, cuma aku yg katanya bisa mengambil kunci itu
di toko kunci milik pak Badu
beli baru
dan kusimpan dalam saku
punyaku
bukan punyamu

Milikmu, ada di sakumu
tak ada? jangan ambil punyaku
aku bantu saja kau
ke tempat pak Badu

Benteng

Berterimakasihlah pd perempuan yg telah menerimamu menjadi pendampingnya, karena ia telah bersedia meruntuhkan benteng yg melindunginya selama ini. Dan itu bukan perkara yg mudah. Menerimamu mungkin adalah satu dari beberapa keputusan tersulit yg pernah ia ambil. Karena ia tak boleh salah pilih. Karena bagi seorang perempuan, cukup satu yg menjadi pangeran di hatinya. Satu yg bisa ia harapkan dapat menjadi jalannya menuju surga.