Rutinitas

Menunggu adalah rutinitas yang tak pernah membosankan untukku. Dulu. 
Kini, menunggumu adalah hitungan detik yang melelahkan. Katanya, setiap penantian adalah cobaan yang hanya perlu dinikmati. Maka aku telah mencoba untuk menikmati setiap detik tanpamu. Tapi tak bisa. Rasanya hanya semakin hampa. 

Membaca tulisanmu di surat terakhir yang kau kirimkan untukku selalu membuatku biru. Ada apa dengan hatimu yang tak lagi sekuat dulu? Tak cukupkah doa-doa menjadi pendekat jarak antara kita? Jika kau tak lagi sabar menunggu, maka mungkin kau bukanlah jodoh yang telah Tuhan tetapkan untukku. Mungkin kau hanya cobaan bagiku. Maka kuijinkan kau melangkah lebih dulu. Pergilah dengan orang lain, yang bukan aku.

Dengan dua tangan mungilmu, undangan berwarna merah jambu kau ulurkan ke arahku. Kucoba melihat senyum yang terlukis di wajahmu. Dulu, senyum itu yang selalu kutunggu. Ketika aku lelah dengan rutinitas kerja mengumpulkan selembar demi selembar rupiah modal pernikahan kita. Senyummu seperti air dingin yang menyejukkan jiwaku. Senyum itu sebentar lagi bukan lagi milikku. Mungkin memang tidak pernah milikku. Betapa sombongnya aku mendahului kehendak Tuhan, mengaku-aku memilikimu.

Kamu datang kan? Aku menunggu kehadiranmu. 

Tanganku dingin, sedingin hatiku. Kamu masih saja menungguku. Tetapi sebentar lagi, tidak lagi. Undangan merah jambu itu kini beralih di tanganku.

Aku tersenyum dan menggangguk. Tentu saja, aku pasti datang. Semoga kamu bahagia.

Lupakan saja aku, jika itu membuatmu bahagia! Teriakku dalam hati. Pasti kamu tak bisa mendengarnya.

EPILOG
Tuhan, telah lama lalai hati dari mengingatmu saja. Menduakan-Mu dengan rutinitas yang kuaku sebagai bukti cinta. Mungkin ini jalan yang terbaik, meski ia tak memahaminya.  Semoga bahagia pun segera membersamainya. 

Iklan

Terbatas 2

“Kenapa kita tidak bisa melihat Tuhan? Padahal Ia katanya Maha Besar dan sebenarnya sangat dekat?”

“Kamu tidak bisa melihatnya?”

“Tidak”

“Jadi karena kamu tidak bisa melihat Tuhan, kamu tidak percaya Tuhan ada?”

“Aku bisa merasakannya. Tapi aku ingin melihatnya, agar lebih yakin. Terutama ketika doa-doaku ternyata tak didengarkannya… aku merasa sendirian”

Baca lebih lanjut

Terbatas

Hari itu, aku capek sekali, tapi ia datang melemparkan setumpuk buku ke atas kasur dan mulai bicara panjang lebar. Kuberikan sebelah telingaku untuk menampung kata-kata yang meluncur dari mulutnya, sementara sebelahnya kubiarkan asyik dengan lantunan lagu Maher Zain yang diputar di laptop. Jariku masih khusyuk menari-nari di atas keyboard, mengerjakan thesis yang belum selesai.

“Kesimpulan yang aneh. Logikanya terbalik. Seperti ilmuwan yang bertekad pergi mencari ujung langit untuk menemukan Tuhan, tapi tidak ketemu juga ujungnya sampai sekarang. Dan di atas langit itu pun, yang katanya harusnya ada Tuhan tinggal, tidak ada Tuhan ia temukan. Maka ia simpulkan, Tuhan itu tak ada.” 

Baca lebih lanjut

Deja Vu

Kesatria Cahaya tahu bahwa ada peristiwa-peristiwa tertentu yang selalu berulang. Kerap kali ia mendapati dirinya dihadang oleh masalah-masalah dan situasi yang sama. Dan tatkala melihat situasi yang sulit ini kembali terjadi, dia merasa tertekan dan putus asa; dia merasa tak mampu membuat kemajuan apapun di dalam hidupnya.

“Aku pernah mengalami semua ini,” katanya kepada hatinya.
“Ya, kau memang pernah mengalami semua ini,” hatinya menjawab. “Tetapi kau belum pernah sekalipun melampauinya.”

Maka sang kesatria pun menyadari bahwa pengalaman-pengalaman yang selalu berulang ini mempunyai satu tujuan, dan hanya satu: untuk mengajarinya tentang hal-hal yang tak ingin dia pelajari.

(Kesatria Cahaya, Paulo Coelho)

Kupu-Kupu Monarch

“Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal sebelumya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya, “Ia adalah cinta sejatiku!”  (Tere Liye)

——–

Kutipan di atas saya ambil dari cerpen Kupu-Kupu Monarch karya Tere Liye dalam buku kumpulan cerpen berjudul Berjuta Rasanya. Apa ada yg sudah membaca juga? Sungguh, kita tak boleh jadi seperti Frans. Radar kita ini tak bisa dipercaya 100%. Tapi ketika sudah menemukannya (baca: menikahinya), yakinlah, itu yg terbaik untuk kita. Jagalah 100%, karena Allah.. begitu pesan cerpen ini.

Chotto Matte Kudasai

Satu senja di atap gedung bertingkat 14. Sendai City. February 2011.

“Whoaa, abunai!!”  Seorang anak laki-laki kecil, belasan tahun, berlari mendekati sosok pria yang berdiri di pinggir atap gedung. Badannya gempal, tapi larinya cepat. Seperti karung beras berjalan. Lucu, pria itu tertawa kecil. Di saat seperti ini, ada saja pengganggu.

“Nani shiteru no?” Anak itu mendongak mencari mata pria itu. Ah, ia setinggi ayah.

“Betsuni…,” menghindari tatapan mata anak itu, pria itu menatap matahari.

“Abunai, bahaya berdiri di sini. Kata ayah, kalau angin bertiup kencang, kita bisa jatuh!”

“Hahaha, mungkin kalau kamu, gak akan jatuh ya?” Pria itu tertawa puas sekali.

“Heuuh, bukan itu masalahnya! Sudah banyak yang jatuh dari sini. Kata Ayah, bukan karena angin, tapi bunuh diri. Aaah, jangan-jangan, ano-san mau bunuh diri ya?!”

Polos sekali anak ini, “kalau iya, memang kenapa?”

Baca lebih lanjut

Salam dari Bintang

“Bunda, itu apa? yang berkelip-kelip di atas sana?”

“Itu namanya bintang, cinta.. Ada banyak sekali jumlahnya. Namanya pun indah-indah. Ada yang terang sinarnya, ada yang redup juga. Seperti apapun mereka, mereka tetaplah bintang yang bersinar memancarkan cahaya. Sekecil apapun cahaya, ia tetaplah cahaya.”

“Indahnya… tinggi tempatnya, ya, bunda, bisakah aku mengambilnya?”

“Hmm… jaraknya jauh sekali dari bumi kita”

“Seberapa jauhnya?”

“Kalau kamu naik sepeda ke sekolah cuma 10 menit, kita butuh waktu untuk sampai ke sana lebih dari 100 ribu tahun lamanya “

“Waaah, jauh sekali jaraknyaaa. Berapa usia bintang bunda? kapan tanggal lahirnya?”

“Pastinya, mereka sudah hidup milyaran tahun lamanya. tanggal lahirnya? memang kamu mau kasih kado ke mereka?”

“Ahaha, gak mungkin juga ya, bunda. Bunda, tapi kenapa ya, jauh-jauh jaraknya mereka masih mau ngirim cahaya ke kita? kan pasti capek banget ngayuh sepedanya :D”

“Ahaha, pastinya pegel-pegel semua ya :D”

“Itu sekedar salam dari bintang”

“Eh, ada ayah. Apa maksudnya, yah?”

“Iya, cahaya itu salam dari bintang buat kita, ‘Jangan menyerah, tetaplah semangat. Bertahanlah hidup dan terus bergerak bersamaku. Sungguh, waktu hidupmu sangat singkat!’, gitu kata mereka”

“Waah, gitu ya, bunda?”

“Iya, sepakat aja deh, bunda sama ayah :)”

“Baiklah, aku akan tetap semangat! Karena meski gelap, saat aku lihat ke atas, bintang-bintang di langit masih memberi salam untuk-ku. gitu kan, yah, bun?”

“Yap, sepakat :)”