Terbatas 2

“Kenapa kita tidak bisa melihat Tuhan? Padahal Ia katanya Maha Besar dan sebenarnya sangat dekat?”

“Kamu tidak bisa melihatnya?”

“Tidak”

“Jadi karena kamu tidak bisa melihat Tuhan, kamu tidak percaya Tuhan ada?”

“Aku bisa merasakannya. Tapi aku ingin melihatnya, agar lebih yakin. Terutama ketika doa-doaku ternyata tak didengarkannya… aku merasa sendirian”

Baca lebih lanjut

Iklan

Terbatas

Hari itu, aku capek sekali, tapi ia datang melemparkan setumpuk buku ke atas kasur dan mulai bicara panjang lebar. Kuberikan sebelah telingaku untuk menampung kata-kata yang meluncur dari mulutnya, sementara sebelahnya kubiarkan asyik dengan lantunan lagu Maher Zain yang diputar di laptop. Jariku masih khusyuk menari-nari di atas keyboard, mengerjakan thesis yang belum selesai.

“Kesimpulan yang aneh. Logikanya terbalik. Seperti ilmuwan yang bertekad pergi mencari ujung langit untuk menemukan Tuhan, tapi tidak ketemu juga ujungnya sampai sekarang. Dan di atas langit itu pun, yang katanya harusnya ada Tuhan tinggal, tidak ada Tuhan ia temukan. Maka ia simpulkan, Tuhan itu tak ada.” 

Baca lebih lanjut

Deja Vu

Kesatria Cahaya tahu bahwa ada peristiwa-peristiwa tertentu yang selalu berulang. Kerap kali ia mendapati dirinya dihadang oleh masalah-masalah dan situasi yang sama. Dan tatkala melihat situasi yang sulit ini kembali terjadi, dia merasa tertekan dan putus asa; dia merasa tak mampu membuat kemajuan apapun di dalam hidupnya.

“Aku pernah mengalami semua ini,” katanya kepada hatinya.
“Ya, kau memang pernah mengalami semua ini,” hatinya menjawab. “Tetapi kau belum pernah sekalipun melampauinya.”

Maka sang kesatria pun menyadari bahwa pengalaman-pengalaman yang selalu berulang ini mempunyai satu tujuan, dan hanya satu: untuk mengajarinya tentang hal-hal yang tak ingin dia pelajari.

(Kesatria Cahaya, Paulo Coelho)

Kupu-Kupu Monarch

“Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal sebelumya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya, “Ia adalah cinta sejatiku!”  (Tere Liye)

——–

Kutipan di atas saya ambil dari cerpen Kupu-Kupu Monarch karya Tere Liye dalam buku kumpulan cerpen berjudul Berjuta Rasanya. Apa ada yg sudah membaca juga? Sungguh, kita tak boleh jadi seperti Frans. Radar kita ini tak bisa dipercaya 100%. Tapi ketika sudah menemukannya (baca: menikahinya), yakinlah, itu yg terbaik untuk kita. Jagalah 100%, karena Allah.. begitu pesan cerpen ini.

Chotto Matte Kudasai

Satu senja di atap gedung bertingkat 14. Sendai City. February 2011.

“Whoaa, abunai!!”  Seorang anak laki-laki kecil, belasan tahun, berlari mendekati sosok pria yang berdiri di pinggir atap gedung. Badannya gempal, tapi larinya cepat. Seperti karung beras berjalan. Lucu, pria itu tertawa kecil. Di saat seperti ini, ada saja pengganggu.

“Nani shiteru no?” Anak itu mendongak mencari mata pria itu. Ah, ia setinggi ayah.

“Betsuni…,” menghindari tatapan mata anak itu, pria itu menatap matahari.

“Abunai, bahaya berdiri di sini. Kata ayah, kalau angin bertiup kencang, kita bisa jatuh!”

“Hahaha, mungkin kalau kamu, gak akan jatuh ya?” Pria itu tertawa puas sekali.

“Heuuh, bukan itu masalahnya! Sudah banyak yang jatuh dari sini. Kata Ayah, bukan karena angin, tapi bunuh diri. Aaah, jangan-jangan, ano-san mau bunuh diri ya?!”

Polos sekali anak ini, “kalau iya, memang kenapa?”

Baca lebih lanjut

Salam dari Bintang

“Bunda, itu apa? yang berkelip-kelip di atas sana?”

“Itu namanya bintang, cinta.. Ada banyak sekali jumlahnya. Namanya pun indah-indah. Ada yang terang sinarnya, ada yang redup juga. Seperti apapun mereka, mereka tetaplah bintang yang bersinar memancarkan cahaya. Sekecil apapun cahaya, ia tetaplah cahaya.”

“Indahnya… tinggi tempatnya, ya, bunda, bisakah aku mengambilnya?”

“Hmm… jaraknya jauh sekali dari bumi kita”

“Seberapa jauhnya?”

“Kalau kamu naik sepeda ke sekolah cuma 10 menit, kita butuh waktu untuk sampai ke sana lebih dari 100 ribu tahun lamanya “

“Waaah, jauh sekali jaraknyaaa. Berapa usia bintang bunda? kapan tanggal lahirnya?”

“Pastinya, mereka sudah hidup milyaran tahun lamanya. tanggal lahirnya? memang kamu mau kasih kado ke mereka?”

“Ahaha, gak mungkin juga ya, bunda. Bunda, tapi kenapa ya, jauh-jauh jaraknya mereka masih mau ngirim cahaya ke kita? kan pasti capek banget ngayuh sepedanya :D”

“Ahaha, pastinya pegel-pegel semua ya :D”

“Itu sekedar salam dari bintang”

“Eh, ada ayah. Apa maksudnya, yah?”

“Iya, cahaya itu salam dari bintang buat kita, ‘Jangan menyerah, tetaplah semangat. Bertahanlah hidup dan terus bergerak bersamaku. Sungguh, waktu hidupmu sangat singkat!’, gitu kata mereka”

“Waah, gitu ya, bunda?”

“Iya, sepakat aja deh, bunda sama ayah :)”

“Baiklah, aku akan tetap semangat! Karena meski gelap, saat aku lihat ke atas, bintang-bintang di langit masih memberi salam untuk-ku. gitu kan, yah, bun?”

“Yap, sepakat :)”

siapa?

Hai, kamu!

kamu siapa?

Aku? Kau kenal aku

aku suka sekali melihat langit

dan menghitung burung terbang di angkasa

satu,,, dua,,, tiga

banyaaak, menyenangkan rasanya

 

eh?

jatuh, ada burung yang terjatuh

itu, diantara batuan di sana

lihat, sayapnya patah

ia tak bisa terbang lagi sekarang

tunggu ya, jaga dia

akan kuambil penawarnya

di sana, di dalam sana

 

ia datang dengan tergopoh

mengambil burung yang tergeletak di tanganku

dililitnya perban, setelah mengoles obat pada sayapnya

 

ayo, kita ke rumahku

biar ia bisa istirahat

kau juga, kita minum teh sama-sama

 

rumahnya mungil sederhana

banyak kandang burung yang isinya bersuara

riuh, seperti orkestra

kau suka sekali burung?

ya, aku suka semuanya

mereka terbang bebas dengan sayap kecilnya

bernyanyi riang di pagi hari

pulang saat senja dengan perut kenyang

karena Tuhan menjaganya

mereka tak pernah khawatir

 

aku suka mereka

dan saat ada yg terluka

kubawa mereka untuk kuobati sekedarnya

sampai akhirnya mereka kuat

dan bisa terbang lagi

 

lihat, yg ini sudah sembuh

sayapnya dulu patah menabrak batang pohon

ia sudah ingin terbang lagi rupanya

tunggu, tunggu, sabar ya

latihan dulu, pelan-pelan saja

 

anak burung itu belajar berdiri lagi

jatuh, dan bangun lagi

jatuh, dan bangun lagi

ia gerakkan sayapnya

sesekali loncat, tapi terjerembab

lagi, sekali lagi

dan, hap, ia terbang!

 

Waah, kau bisa!

sekarang saatnya pulang

temukan tempat dimana harusnya kau berada

karena ada yang pasti menunggumu di sana

 

ia senang, ia tersenyum

tak ada luka, karena ia tertawa

sambil berlari menemani anak burung

terbang menuju senja

menjauhi rumahnya

aku berlari mengejarnya

sampai di batas

hei, kau tak sedih?

 

bukankah beginilah seharusnya?

aku memang suka mereka

tapi aku tak bisa menahannya

hidup adalah bebas

kadang mereka mengetuk lagi pintu rumahku

dan menyanyikan lagu

tentang kisah mereka

aku suka mereka

aku belajar dari mereka

Belajar?

ya, tentang hidup dan berjuang

tentang cinta dan pengorbanan

tentang luka dan air mata

satu-satu kueja makna

bahwa aku tak bisa hidup tanpa mereka

aku yang tak bisa

karena adanya mereka

aku ada, aku ada artinya

tak sia-sia

 

Memang begitu adanya, ya?

Hei, tapi kau siapa?

kau belum jawab pertanyaanku sebelumnya

 

aku? kau kenal aku

ini, hadiah untukmu

bukalah saat pagi tiba

kau akan lihat diriku di dalamnya

 

sebuah kotak berwarna merah

ia selipkan di sakuku

kecil ukurannya

lantas ia berlari kecil ke rumah mungilnya

bersenandung tentang hujan

dan pelangi yang akan datang

haha, aneh, benar-benar aneh

 

malam datang

aku berjalan ditemani bintang

hm, daripada menghitung bintang, memang lebih baik

menghitung burung terbang saja,,, pusing pasti nantinya

 

nah, sebentar lagi malam menghilang

dan mentari datang

saat aku tiba di puncak gunung

saat itu akan kubuka

kotak merah pemberiannya

 

nah, sudah saatnya

aku sudah tiba

dan hangat mulai menyapa

cahaya, cahaya menyapa

dan tanganku membukanya

kotak merah yang isinya, ternyata:

hutan rimba belantara

 

Tuhan, ternyata aku memang amnesia

belum apa-apa

tak pernah jadi apa-apa