Jangan Dengarkan Orang Asing

Tulisan berikut saya copy paste dari status FB “Info Dunia Militer”. Menarik, tentang pandangan mandiri energi, modal, dan ekonomi bangsa kita oleh Ir. Soekarno (presiden pertama kita). Sumbernya tidak disebutkan dari mana saja (perlu rasanya untuk tetap cross check referensi2 yg mendukung), tapi tetap saja tulisan ini renyah sekali untuk jadi ilmu tambahan bagi diri saya pribadi; mengenal sejarah bangsa kita lebih dekat, mengenal sosok pemimpin yang menginspirasi untuk memotivasi diri jadi lebih baik lagi. Ini dia tulisannya.
—-
Cita – Cita Bung Karno Tentang Minyak Indonesia Sangat Mulia
JANGAN DENGARKAN ORANG ASING”Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat. Baca lebih lanjut

Chotto Matte Kudasai

Satu senja di atap gedung bertingkat 14. Sendai City. February 2011.

“Whoaa, abunai!!”  Seorang anak laki-laki kecil, belasan tahun, berlari mendekati sosok pria yang berdiri di pinggir atap gedung. Badannya gempal, tapi larinya cepat. Seperti karung beras berjalan. Lucu, pria itu tertawa kecil. Di saat seperti ini, ada saja pengganggu.

“Nani shiteru no?” Anak itu mendongak mencari mata pria itu. Ah, ia setinggi ayah.

“Betsuni…,” menghindari tatapan mata anak itu, pria itu menatap matahari.

“Abunai, bahaya berdiri di sini. Kata ayah, kalau angin bertiup kencang, kita bisa jatuh!”

“Hahaha, mungkin kalau kamu, gak akan jatuh ya?” Pria itu tertawa puas sekali.

“Heuuh, bukan itu masalahnya! Sudah banyak yang jatuh dari sini. Kata Ayah, bukan karena angin, tapi bunuh diri. Aaah, jangan-jangan, ano-san mau bunuh diri ya?!”

Polos sekali anak ini, “kalau iya, memang kenapa?”

Baca lebih lanjut

Membangun Bandung dari Pemulung?

Ini yang tengah coba dilakukan lembaga ini: Palung (Rintisan Lembaga Pemberdayaan Pemulung) Bandung

Saya sekedar sharing info yang saya dapat dari Pak Uus (ketua lembaga ini), siapa tahu sahabat yg mampir ke blog ini tertarik untuk berkontribusi membangun Bandung jadi kota yang lebih ‘maju’, ‘bersih’ dan ‘sehat’. Yuk, mulai, dari yg kecil tak apa-apa. Kalau dilakukan sama-sama, pasti jadi bukit juga ^^ (jadi ingat satu pepatah yang mirip-mirip gini).

Mangga, ini dia penjelasan selengkapnya ^^d

I. Pendahuluan

PALUNG (Rintisan Lembaga Pemberdayaan Pemulung Bandung) didirikan pada tanggal 27 Januari 2010. Dalam usianya yang hamper 1 tahun Alhamdulillah sekarang sudah di tempati oleh 9 orang  pemulung (karena keterbatasan tempat), selain sekitar 10 orang pemulung yang biasa mampir ke lapak kami. Untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti pada saat Ramadhan dan Idul Adha 1431H kemarin alhamdulillah kegiatan PALUNG sudah bisa dirasakan oleh banyak pemulung di sekitar lapak.PALUNG.

Menyambut tahun baru 2011 kami berharap PALUNG bisa lebih berkembang dan lebih banyak yang bisa kami lakukan untuk rekan-rekan pemulung yang ada di sekitar. Berbagai rencana kegiatan yang coba kami susun di tahun 2011 ini kami coba tuangkan dalam bentuk:

“PROPOSAL

PENGEMBANGAN LAPAK PALUNG 2011”

II. Bentuk Kegiatan

Adapun kegiatan yang akan kami laksanakan meliputi :

1.      Pengurugan tanah untuk lokasi pusat kegiatan PALUNG

2.      Pembangunan gudang dan tempat kegiatan PALUNG

3.      Pembangunan kamar-kamar tempat tinggal pemulung yang kami tamping.

4.      Pengadaan roda dorong dan gerobak becak.

5.      Pengembangan usaha ternak domba

6.      Pengembangan Taman Baca PALUNG

III. Waktu dan Tempat Kegiatan

InsyaAlloh kegiatan akan kami laksanakan sepanjang tahun 2011, dimulai dari Bulan Januari 2011

Adapun kegiatan dilaksanakan di Jl. Cingised Cisaranten Endah Arcamanik Bandung.

IV. Undangan Partisipasi

Kami mengundang kepedulian saudara-saudara untuk berpartisipasi dalam bentuk :

1.      Dana

2.      Barang-barang bekas dan rongsokan

3.      Buku-buku bacaan, baik baru maupun bekas untuk koleksi taman bacaan.

Mohon do’anya semoga kegiatan ini bisa terlaksana. Bagi Anda yang bermaksud berpartisipasi dapat membantu kami dalam bentuk uang dapat dikirim ke Rekening 1300005630572 Bank Mandiri KCP Bdg Soekarno Hatta, Atas nama Uus Hoeruddin, S.Pd.

Untuk yang bermaksud berpartisipasi dalam bentuk barang bekas dan buku dapat dikirim ke Jl. Ulil Albab No. 20 Cingised Rt. 01 Rw. 03 Kelurahan Cisaranten Endah, Arcamanik Bandung 40293

Untuk informasi bisa menghubungi tlp. 081320363386, atau e-mail : kamad_miz2@yahoo.co.id atau palungbandung@yahoo.com.

V. Penutup

Terakhir kami berharap semoga program ini dapat menjadi sebuah upaya untuk membantu sesama menuju kehidupan yang lebih baik.

Bandung, 31 Desember 2010

PALUNG (Lembaga Pemberdayaan Pemulung Bandung)

Ketua

Uus Hoeruddin

http://palung-bandung.blogspot.com/

Pemerintah Siap Bangun 540 Pasar Tradisional Pemberdayaan Koperasi dikedepankan

Sudah seharusnya berita-berita ttg penggusuran pasar tradisional tidak terdengar lagi, tahun ini. Seperti yg terjadi d kota-kota besar, Bandung misalnya, dengan pemindahan Pasar Balubur dan ternyata malah dibangun dengan Pusat Belanja Balubur (yang terlihat lebih seperti Mall untuk orang-orang kelas atas). Karena pemerintah, tahun ini, bertekad untuk memajukan pasar tradisional (http://www.usdrp-indonesia.org/lihatwarta.php?sidemenu=0&id=414). Semoga saja… terbukti.

===============================================
Kamis, 11 Feb 2010

Pemerintah mencanangkan pembangunan dan revitalisasi 540 pasar tradisional di seluruh kabupaten/ kota Indonesia dalam waktu 5 tahun mendatang dengan mengedepankan pemberdayaan koperasi lokal.Ikhwan Asrin, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM, mengatakan obsesi pembangunan pasar tradisional tersebut mengandalkan APBN dan APBD kabupaten/kota.

“Jika satu kabupaten/kota sudah memiliki satu pasar tradisional, sarana itu akan menjadi alat pemerataan, keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat setempat,” ujar Ikhwan Asrin, kemarin.Kendati demikian, pembangunan atau revitalisasi pasar tradisional harus bersinergi antara pusat dan daerah. Sebab, dana APBN yang dimiliki instansinya sangat terbatas. Karena itu pemerintah kabupaten/kota diharapkan bisa mendukung melalui APBD.

Kementerian Koperasi bisa saja mengajukan anggaran tambahan untuk target pembangunan pasar tradisional di setiap kabupaten/kota. “Jika anggaran pusat terbatas, APBD harus menjadi pendukung,” ujar Ikhwan.Pada periode 2009, Kementerian Koperasi menerima dana stimulus RplOO miliar untuk merevitalisasi 90 pasar tradisional dan merelokasi pedagang kreatif lapangan.

Dengan keberhasilan itu, institusi ini mengajukan peningkatan anggaran. Revitalisasi pasar tradisional diyakini mampu meningkatkan produktivitas perekonomian lokal yang dimotori pedagang, karena manajemennya dipercayakan kepada koperasi, tidak lagi dikelola oleh pemerintah setempat.

Pengelolaan pasar oleh dinas membebani APBD, karena karyawan dan petugasnya digaji oleh pemda. Jika pengelolaan diserahkan kepada koperasi, daerah bisa melakukan efisiensi.“Dari sisi lain, pemerintah kabupaten/ kota tetap menerima pajak atau retribusi dari pengelolaan pasar tradisional tersebut. Penyerapan tenaga kerja juga bisa terjadi secara optimal, dan berdampak bagi penurunan angka kemiskinan di daerah.”

Skala prioritas
Sekretaris Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia Ngadiran meminta pemerintah menetapkan skala prioritas dalam program pembangunan dan revitalisasi pasar di daerah padat penduduk.Hal ini untuk mendongkrak performa pasar dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan berkompetisi dengan gerai ritel modern yang terus bertambah. Tidak semua pasar itu ada di wilayah yang penduduknya padat,” ujar Ngadiran.

Ngadiran juga meminta pemerintah membenahi manajemen pengelolaan pasar selepas direvitalisasi. Perbaikan pasar secara fisik diyakini tidak memberikan dampak yang optimal tanpa dibarengi dengan pembenahan manajemen pasar.

Ia mencontohkan sejumlah pasar yang dikelola oleh swasta sebagai tempat usaha yang layak, bersih, dan pelayanan baik. Padahal retribusi yang dipungut tidak jauh beda dengan pasar dinas pemerintah. “Tetapi mengapa kualitas pasar sangat berbeda jauh? Pasar tidak terawat dan fasilitas tidak dijaga,” katanya.

Pengelolaan oleh koperasi, menurutnya, belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. “Jangan sampai koperasi jadi-jadian yang melakukan pengelolaan.” Sementara itu, tujuh pasar tradisional modem di Sulawesi Utara yang dibiayai dari dana anggaran pendapatan dan belanja negara, selesai dibangun dan siap diresmikan. “Ketujuh pasar itu terdapat di Kota Bitung dua unit, Minahasa Tenggara, Kota Kotamobagu, Kabupaten Bo-laang Mongondow Selatan, Sangihe dan Minahasa masing-masing satu unit,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Sanny Parengkuan , Sabtu, seperti dikutip Antam. (Sumber : http://www.depkop.go.id/