Jurnal Rekayasa Pertanian dan Biosistem (JRPB)

cover jurnal terbaru

Ceritanya saya ikut bantu-bantu di kepengurusan jurnal yang dikelola Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri. Nama jurnalnya: Jurnal Rekayasa Pertanian dan Biosistem (JRPB). Kali ini mencoba diterbitkan secara online (menggunakan ISSUU), agar bisa diakses oleh khalayak luas, terutama oleh pemerhati dan peneliti di bidang teknik pertanian dan biosistem. Jurnal ini memang baru saja dimunculkan, usianya masih muda sekali (newborn), karena itu mohon bimbingannya #lho.

Supaya tidak panjang lebar, yang tertarik bisa langsung saja meng-klik link berikut ini:

1. JRPB Volume 2 Nomor 1 Maret 2014

Adab Menasehati

Tingkat kebutuhan kita terhadap nasehat, seringkali berbanding terbalik dengan rasa suka hati terhadapnya. Bagi penasehat, merasa diri lebih mulia daripada yang dinasehati adalah hijab yang menghalangi tersampaikannya kebenaran. Baik sangka yang didahulukan, kemaafan yang berulang, dan nasehat yang tersembunyi adalah kado persaudaraan yang tulus.

Tiap orang punya cara untuk menyampaikan nasehat. Permata pun bisa dilempar, diulurkan, atau diselip ke saku. Ambillah permatanya. Hawa nafsu membenci nasehat. Nurani mencintai pengingat. Perhatikan kala masukan datang; hawa atau nuranikah yang menang? Mengertilah, terkadang luka di hati yang menasehati, lebih dalam dan perih daripada yang dinasehatinya. Kesanggupan menutup aib saudara dipadu ketrampilan menasehati dan ketulusan doa adalah daya agung ukhuwah yang kian langka.

GambarSumber gambar: di sini

Penasehat tulus; mencari 77 alasan untuk berbaik sangka. Jika semua tak masuk akal, dia berkesimpulan, “Saudaraku punya alasan yang tak kutahu.” Tetapi cinta, yang kadang meluruhkan tegur dan kata, tak boleh meruntuhkan kewajiban yang diamanahkan Tuhannya: nasehat.

Pernah bersyair Asy-Syafi’i, “Nasehati aku kala sunyi dan sendiri; jangan di kala ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak, maka maafkan jika aku berontak.”

Adalah Imam Ahmad, agung dalam mengamalkannya. Inilah yang dikisahkan Harun ibn Abdillah Al-Baghdadi: Di satu larut malam pintuku diketuk orang. Aku bertanya, “Siapa?” Suara di luar lirih menjawab, “Ahmad!” Kuselidik, ”Ahmad yang mana?” Nyaris berbisik kudengar, “Ibnu Hanbal!” Subhanallah, itu guruku!

Kubukakan pintu, dan beliau pun masuk dengan langkah berjingkat; kupersilakan duduk, maka beliau menempah hati-hati agar kursi tak berderit.

Kutanya, “Ada urusan sangat pentingkah sehingga engkau duhai Guru, berkenan mengunjungiku di malam selarut ini?” Beliau tersenyum.

“Maafkan aku duhai Harun,” ujar beliau lembut dan pelan, “aku terkenang bahwa kau terbiasa terjaga meneliti hadis di waktu semacam ini. Kuberanikan untuk datang karena ada yang mengganjal di hatiku sejak siang tadi.” Aku terperangah, “Apakah hal itu tentang diriku?” Beliau mengangguk.

“Jangan ragu,” ujarku, “sampaikanlah wahai Guru, ini aku mendengarkanmu.”

“Maaf ya Harun,” ujar beliau, “tadi siang kulihat engkau sedang mengjar murid-muridmu. Kaubacakan hadist untuk mereka catat. Kala itu mereka tersengat terik matahari, sedangkan dirimu teduh ternaungi bayangan pepohonan. Lain kali jangan begitu, duhai Harun, duduklah dalam keadaan yang sama, sebagaimana muridmu duduk.”

Aku tercekat, tak sanggup menjawab. Lalu beliau berbisik lagi, pamit undur diri. Kemudian melangkah berjingkat, menutup pintu hati-hati. MasyaAllah, inilah Guruku yang mulia, Ahmad Ibn Hanbal. Akhlaq indahnya amat terjaga dalam memberi nasehat dan meluruskan khilafku. Beliau bisa saja menegurku di depan para murid, toh beliau Guruku yang berhak untuk itu. Tetapi tak dilakukannnya demi menjaga wibawaku. Beliau bisa saja datang sore, ba’da Magrib atau Isya yang mudah baginya. Itu pun tak dilakukannya, demi menjaga rahasia nasehatnya.

Beliau sangat hafal kebiasaanku terjaga larut malam. Beliau datang mengendap dan berjingkat; bicaranya lembut dan nyaris berbisik. Semua beliau lakukan agar keluargaku tak tahu, agar aku yang adalah ayah dan suami tetap terjaga sebagai imam dan teladan di hati mereka. Maka termuliakanlah Guruku sang pemberi nasehat, yang adab tingginya dalam menasehati menjadikan hatiku menerima dengan ridha dan cinta.

***

Adalah salah, terus saling menasehati tanpa hadirnya hasrat berbenah dan menjadikan diri lebih indah. Adalah juga keliru tak saling bernasehat hanya sebab berselimut baik sangka pada diri dan saudara. Dan adalah galat, tak bergairah menasehati sebab diri ingin selalu nyaman berkawan kesalahan. Mari hidup dalam saling menasehati. Di jalan cinta para pejuang, ia adalah ketulusan, menjaga cinta dalam ridha-Nya.

————————

Ditulis ulang dari buku Salim A Fillah yang berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna”.

Deja Vu

Kesatria Cahaya tahu bahwa ada peristiwa-peristiwa tertentu yang selalu berulang. Kerap kali ia mendapati dirinya dihadang oleh masalah-masalah dan situasi yang sama. Dan tatkala melihat situasi yang sulit ini kembali terjadi, dia merasa tertekan dan putus asa; dia merasa tak mampu membuat kemajuan apapun di dalam hidupnya.

“Aku pernah mengalami semua ini,” katanya kepada hatinya.
“Ya, kau memang pernah mengalami semua ini,” hatinya menjawab. “Tetapi kau belum pernah sekalipun melampauinya.”

Maka sang kesatria pun menyadari bahwa pengalaman-pengalaman yang selalu berulang ini mempunyai satu tujuan, dan hanya satu: untuk mengajarinya tentang hal-hal yang tak ingin dia pelajari.

(Kesatria Cahaya, Paulo Coelho)

Kupu-Kupu Monarch

“Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal sebelumya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya, “Ia adalah cinta sejatiku!”  (Tere Liye)

——–

Kutipan di atas saya ambil dari cerpen Kupu-Kupu Monarch karya Tere Liye dalam buku kumpulan cerpen berjudul Berjuta Rasanya. Apa ada yg sudah membaca juga? Sungguh, kita tak boleh jadi seperti Frans. Radar kita ini tak bisa dipercaya 100%. Tapi ketika sudah menemukannya (baca: menikahinya), yakinlah, itu yg terbaik untuk kita. Jagalah 100%, karena Allah.. begitu pesan cerpen ini.

Lintasan Pikiran

Mengendalikan Lintasan Pikiran

(Tulisan ini saya ambil dari Kolom Ruhaniyat Majalah Tarbawi Edisi 132. Just another reminder.)

—-

Maha Suci Allah, yang telah menanam keyakinan dan keteguhan iman lalu melahirkan ketajaman pandangan orang-orang shalih. Selalu saja, merenungi dan mengikuti tahap demi tahap nasihat mereka, memancarkan rasa kagum dan takjub. Nasihat-nasihat mereka memiliki daya sentuh yang nikmat, mencerahkan pikiran dan membuka hati.

Saudaraku,
Kali ini, mari kita telusuri bulir-bulir nasihat yang dituangkan begitu indah oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi rahimahullah, ia salah satu dari para shalihin yang piawai mengupas dinamika jiwa manusia sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab karyanya. Dalam kitabnya, Al jawabu Al Kaafi LIman Sa-ala An Ad Dawa-i Syaafi (jawaban tuntas bagi yang bertanya tentang obat penyembuh), dituangkan banyak sekali pandangannya tentang jiwa. Salah satunya tentang asal usul perbuatan seseorang yang berpangkal pada khatirah (lintasan pikiran)

Baca lebih lanjut

Di Bawah Lindungan Ka’bah

Saya suka nonton film, apalagi kalau sedang butuh pencerahan atau sekedar mengisi waktu luang. Maka yang saya tonton bukanlah film-film yg marak diputar sineas-sineas Indonesia saat ini ttg para pocong, suster-suster gentayangan dengan berbagai aksi (keramas, ngesot, nyetrika – yg ini udah ada belum ya? hehe, ngasal pisan -), dan kawan-kawannya itu. Bukannya dapat pencerahan, saya malah ditemani kegelapan (mereka bangkit dari kubur dan nemenin saya nonton, hiii).
Baca lebih lanjut

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya.
Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya,
selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya.
Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya.
Kebetulan yang menakjubkan.”

— Tere Liye – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.