Benteng

Berterimakasihlah pd perempuan yg telah menerimamu menjadi pendampingnya, karena ia telah bersedia meruntuhkan benteng yg melindunginya selama ini. Dan itu bukan perkara yg mudah. Menerimamu mungkin adalah satu dari beberapa keputusan tersulit yg pernah ia ambil. Karena ia tak boleh salah pilih. Karena bagi seorang perempuan, cukup satu yg menjadi pangeran di hatinya. Satu yg bisa ia harapkan dapat menjadi jalannya menuju surga.

Mempersiapkan diri Menjadi Keluarga Akhir Zaman (Ust. Salim A. Fillah)

Sedikit Catatan saat Kajian Ta’lim Ust. Salim A. Fillah di Mataram beberapa waktu lalu

Barang siapa yg menjaga surat Al Kahfi, 10 awal dan 10 akhir, akan dijaga dari fitnah yg paling fitnah di akhir zaman, yaitu Dajjal (al hadist)

Surah Al Kahfi
1. Terdapat petunjuk ttg fitnah iman
2. Terdapat penjelasan ttg fitnah harta
3. Terdapat kisah Musa dan Khidir
3. Terdapat penjelasan dan ancaman ttg fitnah akhir zaman, seperti kisah Dzulkarnin

➡ Keluarga: benteng menghadapi fitnah akhir zaman

Jadilah keluarga yg berjiwa muda.. masih hijau.. masih berfotosintesis (biologi banget ustadz 😆).. jangan bangga dg menjadi matang..karena artinya akan segera membusuk (kecuali dimasukkan ke kulkas 😆)

Keluarga berjiwa muda, enerjik, gesit, berani melakukan terobosan adalah yg dapat menghadapi fitnah akhir zaman

Tapi berjiwa muda saja tidak cukup.. dibutuhkan iman, keyakinan yg kuat..bahwa apa2 yg Allah perintahkan ada kebaikan dan yg Allah larang ada keburukan di baliknya

Kita membutuhkan hidayah..kepekaan hati, petunjuk utk membedakan yg benar dan yg salah..yg baik dan buruk utk terhindar dari fitnah akhir zaman

‘Ihdinasshirootol mustaqiim..’ kita ucapkan 17 kali, minimal setiap hari

‘Wazidna hum huda..’ .. ‘dan akan kami tambahkan kepada mereka petunjuk..’

Dan tidak cukup hanya keyakinan, tapi diperlukan kebersamaan, ukhuwah, bersama2 dg orang2 yg berjuang fii sabilillah..

‘Wa robatna ‘ala qulubihim’.. ‘dan Allah rekatkan ikatannya’

Kemuliaan seseorang hanya dinilai dari ketaqwaan.. yg dirahasiakan Allah agar kita selalu berusaha mengejar taqwa tapi juga tidak boleh merendahkan orang lain (karena kita tdk tahu siapa yg lebih taqwa di hadapan Allah)
sekilas ttg fitnah Iman 👆🏻

Merasa beriman, merasa tidak akan diuji ➡ kisah pemilik kebun dlm qs al kahfi ➡ fitnah harta: mendapat harta hanya krn amal ibadahnya

Kesempitan harta: cara Allah menghindarkan kita dari kesombongan

Orang kaya belum tentu sholeh, belum tentu lebih baik daripada yg tidak berpunya. Tapi seringkali orang salah menduga

Obat fitnah harta: kembalikan pada Allah, ucapkan ‘masyaAllah..lahaula walaquwwata illa billah’

Yg ketiga adalah ttg Semangat berburu ilmu (harus lebih besar daripada smangat berburu harta) ➡ kisah Musa berguru pafa Khidir. Bergurulah pada siapa saja.. yg tidak terkenal belum tentu tidak lebih baik daripada yg terkenal.

Syarat mendapat ilmu: Sabar. Tidak bisa instan. Sekarang adalah zaman fitnah ilmu. Hoax itu seperti hadist maudlu, belum jelas kebenarannya, begitu mudah disebarkan. Sungguh seseorang dikatakan pendusta jika selalu menceritakan setiap yg ia dengar (al hadist).

yg ke-4 fitnah Kekuasaan. Tapi tidak dibahas, karena gak cukup waktu.

Merasa Bodoh

Kata orang bijak, jika merasa bodoh mendorongmu untuk terus belajar, maka merasa bodoh adalah hal yang baik. Teruslah merasa bodoh dan tak tahu apa-apa. Itu akan membuat kaki melangkah terus, maju ke depan.

Sebaliknya, jika merasa bodoh membuat kakimu berhenti mengejar mimpi, maka ingatlah kalau tidak ada seorang pun yang benar-benar pintar dan menguasai segala hal. Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan, meski sedikit. Dan itu harus disyukuri.

Syukuri yang sedikit, niscaya akan ditambah-Nya. Begitu kata Tuhan.

Ada orang yang tak bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan. Ada juga yang tak bisa kita lakukan dan bisa dilakukan orang lain. Karena itulah, manusia tak bisa hidup sendirian.

Tapi benar, kadangkala aku bingung mencari bantuan. Takut dibilang terlalu bodoh. Takut dibilang merepotkan. Jika sudah begitu, menertawakan diri sendiri satu hal yang bisa kulakukan. Apakah kamu pernah merasa demikian?

 

Sepasang sandal

Kamu tahu mengapa sandal harus sepasang? Karena kaki ada dua? Ya, itu benar. Sandal tak akan nyaman dipakai kalau hanya sebelah, kiri saja atau kanan saja. Seperti kalian.

Ya, seperti kalian yang tak akan sempurna kalau berjalan sendirian. Teruslah berjalan berdua, kemanapun kalian melangkah. Teruslah saling melengkapi dan menyeimbangkan. Seperti sepasang sandal, itulah kalian, jodoh yang dipertemukan Tuhan.

Janji

Ia berjanji
Sudah lama
Bahwa ia akan selalu
datang

Sampai saat ini
Ia selalu menepatinya
Tak pernah luput
sedetik pun

Membayangkannya begitu menepati janji
Buatku sedikit bahagia
Tapi juga takut
Karena janjinya dipenuhi
Untuk pembalasan
dendam

Dendam yang tak berkesudahan
pada manusia
Anak cucu Adam

Kau pasti tahu siapa dia
Ya, si dia
Setan itu sungguh sangat
menepati janji

Ia berjanji untuk setia menjadi penjaga pintu kegelapan
Ia berjanji untuk setiap saat
tak pernah lalai untuk
membisikkan was-was dan ketakutan
menularkan kebencian, kemarahan, kedengkian, dan kesombongan
mengimingi-imingi kenikmatan dunia yang fana
dalam jiwa
manusia

Dia memang pandai sekali berjanji
dan menepatinya
tidak seperti kamu
Iya, kamu

 

 

Datang

Seperti benar-benar datang

Tapi tidak benar
Karena setelah kubuka mata
Kau hilang perlahan
Meski tak segera kusadari
Kalau yang datang
Sudah pernah hilang

Seperti kembali ke masa lalu
atau justru masa depan?

Kau bilang, “ayo kita jalan-jalan..
nanti menyetirnya bisa gantian”

Sepertinya itu masa depan
karena di masa lalu aku belum sepandai sekarang
menyetir Geeva di jalanan

Apakah kau benar-benar datang?
Tapi yang terlihat hanya kegelapan
Begitu aku membuka mata
Tapi cukup menghangatkan

Terimakasih
sudah datang
dan maaf yang tak sempat
terucapkan

Maaf karena engkau
masih saja sendirian
yang aku sendiri tidak tahu
sampai kapan

Terimakasih
untuk datang
meski sekedar menemani
saat hujan

 

(Menerima) Kritik

“Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati kita sangat terluka . Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakah hal yang diperlukan dalam hidup. …. Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar seseorang untuk menjadi mandiri di dunia ini.” (Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running)