Ban Bocor

Tiga hari lalu kaki kiri belakang (baca: ban) si Geeva bocor parah. Padahal hari sebelumnya kami sekeluarga plus keluarga tetangga pergi seharian ke kampung halaman saya di Narmada, silaturahim lebaran sekaligus mengunjungi makam bapak. Sebenarnya sejak di perjalanan saya merasa ada yang aneh dengan kondisi Geeva, tapi karena saya juga gak tahu pasti saya cuek saja tetap melajukannya bolak-balik Mataram-Narmada hari itu dengan kondisi full muatan.

Ban kiri belakang ini memang paling sering habis angin dibandingkan teman-temannya. Saya udah mengira, jangan-jangan ada yang bocor, tapi gak begitu parah. Toh ini ban jenis tubeless, jadi kalau ada bocor meski dipake jalan bakalan gak apa-apa, dibandingkan kalau ban biasa. Sepertinya pas lewat jalan rusak berbatu di gang kemarin, kena tambahan sekrup dan paku lagi plus muatan yang banyak, jadilah dia sempurna ‘menyerah’. Untungnya kami masih bisa sampai di rumah dengan selamat sore itu. Si ban masih normal-normal saja sampe keesokan paginya. Taraaa!

Camera 360

Aih, parah pisan ini kan? Pantesan suaranya aneh banget pas saya mundurin keluar garasi, plek-plek-plek gitu. Lucu! Tetangga sebelah rumah yang punya mobil bilang ban si Geeva kempes aja, gak sampe pecah. Jadilah saya segera paksakan dia jalan ke depan gang komplek, menuju UGD, heheh. Cuma tukang tambal ban di pinggir jalan kok. Diagnosa ‘dokter’ ban, bocornya karena ada batu tajam nusuk si ban. Masih bisa dikasih angin dulu sementara, sampai nanti di-operasi. Berasa di rumah sakit bener yak.

Benarlah, saya pake jalan ke rumah sakit (beneran) untuk ambil obat, masih bisa. Pulangnya saya mampir lagi ke sana, pak ‘dokter’ masih merawat pasien lain beroda dua (baca: motor). Jadilah si Geeva saya simpan depan garasi rumah. Beliau janji akan datang ke rumah untuk mengobati Geeva. Alhamdulillah sekarang Geeva sudah pulih dan normal kembali. Biaya perawatannya cuma Rp 30.000 untuk tambal ban dengan tiga tempat kebocoran. Mahal juga yaa.

Kata-kata mas-mas motor yang juga jadi pasien di sana nohok saya banget, “Parah itu mbak, kok dipaksain begitu sih?”. Berasa dia marahin saya juga yang suka gak sadar sama kesehatan diri sendiri. Iya, kamu (nunjuk diri sendiri) kalau udah capek, istirahat dulu lah, jangan maksain diri!

Iklan

Salah

Salah. Wajar salah, si saya bukan ahli ekonomi, bahkan tidak mengambil jurusan S1 ekonomi. Hehehe. Ya, saya salah. Itu istilah untuk pemotongan nol bukan renumerasi namanya, tapi redenominasi (betul tidak? takut salah lagi). Dan saya dengan pedenya menuliskannya di corat-coret saya di sini. Saya memang tidak sempurna 🙂

Iseng lagi

Suatu hari 3 orang anak kecil seumuran SD datang ke rumah kami, mengucap salam berkali-kali, lantas duduk di teras. “Ya, ada apa, dek?” tanya saya. Satu orang menyahut, “minta uang, mbak”. Duh, anak2 kecil ini pasti dari kampung sebrang, pikir saya.

Tumben2-nya mereka datang dan minta uang begini. Padahal blm musim hol. Daripada saya beri uang, saya bilang lah, “Hee, gak ada, gak ada. sini daripada uang, mending belajar bareng sama saya. ada PR gak?”. Wii, tanpa berpikir panjang, mereka segera beranjak, “gak usah mbak”, dan berlariii kencang!

Hah! Macam apa ditawari belajar malah lari, giliran minta uang ditungguin segitunya. Wkwkwkwk. Yah, semoga mereka (jadi) semangat belajar dan (kelak) jadi orang yg ‘benar’.

Mereka menghilang di kejauhan, saya pun masuk rumah lagi.
The end.

 

Ceritanya flickr si saya sudah kepenuhan dan gak bisa ditambah foto lagi kecuali diupgrade dulu jadi pro. Kalau gak salah, ini artinya harus bayar. Padahal saya adalah seorang penjunjung website gratis untuk saat ini :p. Maka dari itu, saya coba lah membuka account baru di Tumblr, sebagai wadah hasil eksperimental jeprat-jepret iseng autodidak saya. Masih belajar juga mengenali fitur2 yg ada di website yg satu ini. Sekilas, mirip flickr cuma lebih simple. Yaah, lumayan lah, daripada blog ini saya jadikan pelampiasan saya karena dendam pada si flickr :p .Mangga, kalau mampir didieu: My Tumblr ^^