Ketika

bukan.. bukan apa-apa

ketika
hanya ketika
dan senja tak juga bersuara
menyisakan jingga yg berlari-lari renta

apa? mengapa? siapa?
suara-suara tanpa empunya
bertanya-tanya

mohon.. pinta.. luka..
niscaya
hamba

dalam gelap dan air mata
warna-warna
hampa

dan
hanya

ketika dan hanya
ketika

Tuhan.. bahagia itu
apa?

 

Orang iseng

Saat saya menulis blog ini, perasaan saya masih bingung antara ingin tertawa atau sebal atas apa yang saya alami hari ini dan kemarin. MasyaAllaah.. ckckck.. innalillaah… alhamdulillah..

Ceritanya saya memarkir sepeda saya 2 hari lalu d kampus Kawauchi. Saya kunci dengan rantai, sementara kunci rodanya saya tinggalkan seperti biasanya, karena saya memang gak tahu cara mencabutnya. Saya tinggalkan begitu saja, aman, pastinya, seperti biasa. Malamnya saya terpaksa menginap di rumah mbak agni di Sanjoumachi, karena kemalaman berobat ke rumah pak dokter arif. Si Seine (nama sepeda saya) tak sempat saya ambil dan seharian setelahnya masih di parkiran Kawauchi.

Kemarin malam, saya berencana pulang kampus naik sepeda. Turun dari bus kampus yang membawa saya dari Aobayama ke Kawauchi, saya bergegas menuju parkiran sepeda, paling ujung, tempat saya menaruhnya. Tuh, kan, si Seine masih anteng parkir di sana. Alhamdulillah. Saya buka kunci rantai, saya naikkan standar-nya, lalu saya jalankan mundur ke belakang.. lho.. lho.. macet?? Saya majukan lagi, maju beberapa senti.. macet lagi! Hee.. doushite.. saya bingung dan langsung mencari-cari apa yg aneh dari si Seine. Dan mata saya langsung menemukan bahwa kunci roda yang saya tinggalkan karena tak bisa saya cabut itu tak ada lagi ter-cantol di sana. Hee??!!

Continue reading

Finitude

Can I be the author of my being?

Or: can i conserve myself at the present time? If this would be the case, then the idea of a perfect substance would be caused by my own mind. In order for this to be, I should have to be God Himself. As this I am clearly not, infinity is before finitude..

(Descartes, R)