Bismillah… bakal panjang nih. Yang sabar ya bacanya ^_______^
Entah kenapa, ketika diajak pertama kali menonton KCB 2, yg terbayang d benakku pertama kali adalah : ayat-ayat cinta. Mungkin karena pengarang kedua novel ini sama, yaitu Habiburrahman El Shirazi. Yah, ceritanya kemungkinan berkisah tentang bagaimana jika seorang muslim mengalami yg namanya jatuh cinta, pikirku waktu itu. Gak ada salahnya ikut nonton, lagipula gratis ^_______^, sayang klo dtolak. Hehehe. Padahal KCB 1 aja belum nonton. “Ceritanya gak terlalu nyambung kok,” kata teman yg sudah nonton KCB 1.

Akhirnya, setelah menonton KCB 2, pelajaran utama yg bisa kuambil adalah : kalau memang jodoh, pasti akan ketemu juga ^_______^…. Meskipun harus berputar-putar, ternyata kembali juga k titik awal. Siapapun jodoh kita, ternyata memang sudah dtetapkan Allah SWT d lauhul mahfuz, dia pasti yg terbaik untuk kita. Seperti apa yg dialami Azzam dan Anna. Menarik sekali ^_______^.
Kalo teman2 sudah nonton KCB 1 pasti udah tahu kan klo Azzam dan Anna sempat sekali bertemu d Mesir. Kalo gak salah d dalam bus, Anna yg pertama menegur Azzam. Azzam memperkenalkan diri sebagai Abdullah (nama lengkapnya memang Abdullah Azzam), kuliah d Al Azhar (seperti juga Anna). Setelah Anna turun dari bus, ternyata barang bawaannya ketinggalan. Dan akhirnya Azzam mengantarkan barang itu kembali k Anna. Sejak saat itulah, ternyata ‘cinta’ bersemi d hati masing-masing. Ada ketertarikan, tapi tak pernah terungkapkan. Keduanya, sadar bahwa cinta suci hanya boleh diberikan pada yg berhak menerimanya, setelah akad nikah terucapkan. Hingga akhirnya Anna kembali k Indonesia dan ternyata telah dlamar oleh mahasiswa dari Al Azhar juga, yg bernama Furqon (yg ternyata sahabat Azzam jg… dunia memang sempit ya, hehe).
Nah, kisah KCB 2 bermula dari kepulangan Azzam k Indonesia. Pulangnya Azzam bersama artis bernama Eliana sempat membuat gossip beredar, bahwa Azzam adalah pacar Eliana. Pada dasarnya memang Eliana suka pada Azzam, bermula dari penolakan Azzam utk menerima friendkiss dari Eliana (KCB 1). Keteguhan Azzam pada Islam membuat Eliana jatuh hati, meski bertepuk sebelah tangan. Azzam hanya menganggap Eliana sebagai teman.

Sembilan tahun Azzam tinggal d Mesir, kuliah sambil bekerja (berdagang tempe dan bakso). Ibu dan ketiga adiknya menjadi tanggungan Azzam seorang diri, karena hanya Azzam anak laki2 satu2nya sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia. Salah seorang adik Azzam yg bernama Husna ternyata bersahabat dg Anna.

Tepat saat kepulangan Azzam, Anna datang ke rumah, bermaksud memberikan undangan pernikahannya pada Husna. Saat itulah Anna bertemu Azzam, yg dikenalnya sebagai Abdullah. Seseorang yg pernah ia menaruh hati, ternyata adalah kakak dari sahabatnya yg akan ia undang k pernikahannya sendiri. Azzam sendiri terlihat kaget dan pasrah mendengar Anna akan menikah. Sepotong cinta layu sebelum berkembang.

Anna akhirnya menikah dgn Furqon. Sementara Azzam mulai menyibukkan diri dgn bisnis. Pertama ia mencoba jasa kurir. Dengan sebuah truk dan seorang supir dan kernet, Azzam mengambil barang k Jakarta yg dikirim dari Mesir untuk kemudian diantarkannya k berbagai tempat d pulau Jawa. Namun, karena desakan ibunya, Azzam mengganti usahanya dgn berjualan Bakso Cinta (baksonya bentuk hati gitu, hehe, ada2 aja).
Mapan. Bisnis Bakso Cinta berjalan lancer, berkembang pesat. Azzam sudah punya mobil sendiri dan sudah membuka cabang di kota lain. Desakan ibu Azzam kini beralih ke masalah jodoh. Azzam pun berusaha mencari ‘peluang’. Usulan Husna yg menawarkan temannya (Rina) sudah ditolak ibunya. Pelajaran bagus buat kita yg belum nikah nih. Ternyata seorang ibu itu sangat memperhatikan tentang calon menantu yg akan menjadi pendamping hidup anak lelakinya. Bibit bobot bebetnya dperhatikan betul. Hehe, ternyata masih ada yg seperti itu. Kenapa Rina ditolak? Karena Rina pernah menginap d rumah dan ‘tertangkap basah’ tidur lagi sehabis shubuh! Wah wah wah… rezeki bisa dpatok ayam, kata ayah Azzam yg masih diingat sekali oleh ibu Azzam. Jadi pesan moral yg harus diingat : hindari tidur sehabis shubuh ^______^. (Kata Rasulullah juga begitu ternyata).
Husna pun berusaha mencarikan jodoh lagi untuk Azzam. Kali ini adik ipar dari temannya, Mila namanya. Sebenarnya Azzam jg pernah dtawarkan seorang bapak yg mengikuti pengajian yg diisi Azzam. Bapak itu memiliki seorang anak yg jg sdh ingin menikah. Melihat cara Azzam menyampaikan materi dgn sangat baik dan bahasanya mudah dipahami, bapak itu memberikan kartu namanya, menawarkan putrinya untuk dinikahi Azzam. Tapi Azzam tidak segera menanggapi tawaran bapak itu. Nah, ini cara lain orang tua mencarikan jodoh utk anaknya. Mencarikan orang yg sholeh (agamanya baik) utk putrinya. Satu pesan moral lagi : kita bisa meminta orang tua untuk mencarikan jodoh yg sholeh utk diri kita.
Kita kembali lagi k usaha Husna men-ta’aruf-kan Mila dgn Azzam. Setelah ditanyakan pada Mila, ternyata Mila setuju untuk menjalani ta’aruf. Sementara Azzam setuju-setuju saja pada usulan Husna. Sayangnya, orang tua Mila yg masih sangat ‘kejawen’, menolak. Alasannya karena Mila anak ketiga sedangkan Azzam anak pertama. Mitosnya, klo anak ketiga menikah dgn anak pertama, salah seorang dari ayah atau ibu pihak perempuan akan meninggal. Gagal sudah upaya Husna yg kedua. Pesan moral ketiga : keluarga yg belum menjalankan Islam dgn ‘kaffah’ (menyeluruh) bisa menjadi penghalang usaha kita untuk menjalankan pernikahan (secara Islami).
Belum patah semangat, Azzam memutuskan untuk mendatangi rumah bapak2 yg pernah menawarkan anaknya pada Azzam. Namun terlambat, sang anak sudah keburu menikah dgn calon yg dicarinya sendiri. Patah sudah semangat Azzam, ia memilih untuk kembali fokus berbisnis saja.
Sementara Azzam berkutat dalam hal mencari jodoh, Anna sudah mendapat pendamping hidupnya yaitu Furqon. Seharusnya Anna sudah bahagia. Ya, seharusnya. Tapi ternyata, tidak! Selama 6 bulan sejak pernikahannya, Anna tidak sepenuhnya menjadi istri. Furqon ternyata belum ‘menyentuh’ Anna sekalipun. Bukan karena tidak bisa. Ada sesuatu yg membuat Furqon slalu membatalkan niatnya melakukan ‘ibadah’ itu, yg membuatnya menggigil ketakutan dan menjauhi Anna. Ketakutan yg disembunyikannya bahwa ia ternyata pernah divonis menderita HIV. Marah! Anna marah dan sangat terpukul. Anna mendesak Furqon untuk menceraikannya, malam itu juga. Ya, malam itu juga Anna pulang k rumah dengan hati terluka. Esoknya kedua keluarga (dari pihak Anna dan Furqon) bertemu, dan terkejut mendengar pengakuan Furqon yg baru menceritakan bahwa dirinya divonis menderita HIV. Pesan moral keempat : sebelum memutuskan untuk menikahi seseorang, pastikan bahwa ia terbuka ttg kondisi diri dan keluarganya (supaya gak ada masalah d kemudian hari yg mungkin bs memicu perceraian – sesuatu yg sangat dibenci Allah SWT, meskipun diperbolehkan-Nya).
Kembali ke Azzam. Sahabat ayah Azzam (pak de) mencoba membantu Azzam dalam hal pencarian jodoh, mengenalkan keponakannya (lupa namanya, yg main asmiranda da’. Subhanallaah,, cantik banget asmiranda pake jilbab! Kayak bidadari turun ke bumi… ckckckck) yg seorang dokter.

Kali ini, lolos! Ta’arufnya lancaaar ^______^. Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan k proses khitbah (melamar). Sementara itu, Husna juga dilamar oleh sahabat Azzam (yg diperankan oleh dude herlino… lupa euy namanya).

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, keluarga Azzam hendak melangsungkan 2 pernikahan sekaligus (Azzam dgn Asmiranda, Husna dgn Dude Herlino). Ibu Azzam sangat bersemangat dan antusias, bahagia sekali perihal pernikahan kedua anaknya. Ingin semua cepat beres. Undangan sudah dicetak, tinggal disebar . Tinggal mencari ustadz yg bisa memberikan tausiyah pernikahan. Azzam mengusulkan ustadz dedi mizwar (lupa nama peran yg dmainkannya euy, hehe), ayah Anna. Langsung setuju, Ibu Azzam mendesak untuk k rumah beliau saat itu juga. Di luar, cuaca buruk, hujan turun dengan derasnya. Motor Azzam menerobos hujan, membonceng ibunya menuju rumah Anna.
Di rumah ada Anna yang langsung membukakan pintu, terkejut mendapati Azzam dan ibunya berbasah kuyup, ia mempersilahkan mereka duduk sementara ia bergegas memanggil ayahnya d masjid. Begitu bertemu, disampaikanlah maksud kedatangan, untuk meminta ustadz menjadi pemberi tausiyah setelah akad nikah. Merasa tak pantas, ustadz menolak, tanpa memberi tahu alasan. Beliau mengusulkan nama lain yg dianggap lebih pantas memberi tausiyah. Ibu Azzam terus membujuk, terus berharap. Tapi tak mungkin menerima, pikir ustadz. Azzam pun mengajak ibunya pulang, kembali berderas-deras hujan dgn hati yg kecewa.

Pertanyaan Anna, ‘kenapa ayah tega menolak permintaan mereka yg sdh bersusah payah datang berhujan-hujan?’, dijawab dgn lunglai, ‘apakah pantas seorang yg tak bisa mempertahankan keutuhan keluarga anaknya memberikan tausiyah pernikahan? Itu namanya kaburo maqtan indallaahi, antaquulu maalaa taf’alun (amat besar kebencian d sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yg tiada kamu kerjakan — QS. As Shaff (61) : 3).
Basah. Hujan masih turun dengan deras. Azzam menggigil, jalanan berkelok-kelok tampak kabur di depannya. Sebuah truk, di kelokan, menyalip mobil d depannya, tidak melihat ada motor dari arah yg berlawanan, motor Azzam dan ibunya! Tak terhindarkan, motor itu ditabrak! Azzam terpental, kakinya menghantam batu d pinggir jalan. Ibunya…. (Sungguh, tak ada seorangpun yg tahu di bumi mana ia akan mati).
Di rumah sakit…
Tak sadarkan diri, kaki Azzam divonis patah dan harus segera dioperasi. Husna dan adiknya yg kedua, berpelukan, menangis sesenggukan, menyadari bahwa mereka kini tak punya orang tua lagi. Ibunya harus segera dikuburkan, Azzam harus segera dioperasi (kondisinya kritis). Husna memilih untuk menemani Azzam d rumah sakit, berjaga-jaga kalau Azzam sadar. Begitu sadar, Azzam menanyakan kodisi ibunya yg hanya dijawab Husna yg berusaha tegar, ‘ibu sudah tidak apa2, ibu sudah tenang di tempatnya. Mas tenang aja. Kaki mas harus segera dioperasi’,…. Pesan moral : berbohong utk kebaikan lebih baik daripada memberitahukan kebenaran yg justru akan memperburuk keadaan. Hiks,, pastinya berat banget ya ngomongnya.
Seusai operasi, keluarga Asmiranda datang menjenguk…
Asmiranda tak dapat menahan diri menangis melihat kenyataan bahwa Azzam celaka dan patah kakinya. Azzam sadar, tak mungkin melangsungkan pernikahan dalam kondisi seperti itu. ‘Pada dasarnya ikatan kita bukan ikatan pernikahan. Sebagai seorang dokter, kau pasti lebih paham berapa lama kakiku akan sembuh. karena itu kubebaskan kau untuk menikah dgn laki2 lain kalau kau tak sabar dalam masa penantian’. Pesan moral : ikatan d luar pernikahan (pacaran bahkan lamaran!) tidak seharusnya dijadikan ‘pembenaran’ untuk ‘mengikat’ orang lain yg belum tentu menjadi istri/suami kita; kembalikan semuanya pada Allah SWT (definisi ikhlas nih).
Azzam pun menjalani rehabilitasi. Perlahan-lahan ia latihan berjalan dgn kruk, hingga akhirnya beberapa bulan kemudian ia dapat berjalan kembali seperti semula. Masih ingat pak de? Ya, sahabat ayah Azzam yg mengenalkan Asmiranda pd Azzam. Beliau datang, suatu hari, dgn sebuah surat dari Asmiranda. Isi surat itu ternyata adalah kabar bahwa ia sudah menikah dgn orang lain yg dipilihkan oleh orang tuanya, ‘bersama surat ini, kukembalikan cincin yg mas berikan saat khitbah.’ Berusaha menyemangati, adiknya berkata, ‘pasti ada perempuan yg lebih cocok memakai cincin milik ibu ini mas.’Kembali bersemangat, Azzam memutuskan untuk menemui ustadz Dedi Mizwar, ‘pak kyai kan punya banyak santri. Mungkin saja ada yg menurut pak kyai cocok dgn mas.’
Yah, kita hampir menuju endingnya. Bisa nebak endingnya gimana? ^______^
Yah, akhirnya Azzam mengutarakan niatnya utk mencari jodoh dgn bantuan ustadz dedi mizwar (karena Asmiranda ternyata sdh menikah dgn orang lain). Sementara itu, Anna mencuri dengar pembicaraan mereka dari ruang sebelah, tampak berharap cincin itu dipakaikan di tangannya.
Berpikir, Ustadz Dedi Mizwar akhirnya berkata, ‘Maukah kamu mendengar suatu kisah. Ini kisah nyata. Tentang seorang gadis yg sholehah. InsyaAllah sholehah. Gadis ini sangat takut pada Tuhannya. Sangat cinta pada nabinya. Sangat bangga pada agamanya. Suatu hari, gadis itu menikah. Seharusnya ia bahagia, tapi ternyata suaminya tidak pernah menyentuhnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berpisah. Ia masih gadis yg suci. Seandainya kamu kunikahkan dgn gadis ini, kamu bersedia?’
‘Kalau menurut pak kyai ia cocok dgn saya, saya bersedia pak kyai,’
‘benar kamu bersedia? Kalau benar, kamu datang ba’da maghrib, hari ini. Kunikahkan kalian dgn jama’ah sholat sebagai saksinya…’
‘ya pak kyai, saya bersedia. Tapi kalau boleh saya tahu, siapa nama gadis itu dan dimana dia sekarang?’
‘gadis itu bernama, Anna…’
Dan sepotong cinta tumbuh kembali. Azzam bertasbih-bertahmid, Anna menangis dan langsung bersujud (sujud syukur). Dua harapan bertaut kembali… subhanallah… Alhamdulillah… Allahuakbar!
Dan ba’da maghrib itu, masjid pak kyai syahdu. Azzam mengucapkan ijab qabul, memperistri Anna yg dulu pernah singgah di hatinya. Namun ia halau dan tak dibiarkannya berkembang, karena Allah belum menghalalkan untuk-Nya. Dan ternyata, tekad Azzam menjaga hatinya karena Allah dan tekad Anna menjaga hatinya karena Allah berbuah manis. Mereka dipertemukan Allah dalam bahtera pernikahan yg suci, menaungi cinta suci yg kini halal untuk mereka berdua. (lagu Melly Goeslaw yg liriknya ‘aku hanya ingin cinta yg suci…’,pas banget sama film ini ^_______^).
Subhanallah…. Pelajaran moral yg terpenting : sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk kita, pasangan kita. Sesuai diri kita. Sesuai ketaatan kita pada Allah, Rasul-Nya, dan diin (Islam) ini. Semoga kita bisa mempersiapkan diri kita sendiri, sebelum tiba saatnya kita dipertemukan dgn jodoh yg telah ditetapkan-Nya, ya ^_______^.
Wallahua’lam bishshowwab.
Waaah… panjang juga yaaa. Nulisnya juga lama, 3 jam-an euy, hehehehe. Punten ya bahasanya belepotan. Smg nanti bisa nonton filmnya langsung ya. Saya sampe nangis2 lho nontonnya, hehehe. Empat jempol deh buat KCB 2 (2 jempol lagi minjem orang lain :p). Smg bermunculan lagi film2 Indonesia yg berkualitas dan mengandung pesan moral – pesan moral yg bermanfaat buat penontonnya… aamiin.