Februari 5, 2010

Jodoh Cinta (satu kisah)

Kisah pertama di buku ini tentang seorang gadis bernama Ambar. Ia seorang gadis yang supel, pekerja keras, dan sangat percaya diri. Begitu lulus kuliah, ia mendapat kesempatan bekerja di luar Jawa, jauh dari keluarganya. Saat itu, umurnya masih 23 tahun tapi sang ibu selalu menasehatinya untuk tak lupa mencari jodoh. Dalam hatinya, Ambar tak ingin buru-buru menikah. Karir dan masa depan adalah tujuan dan prioritasnya.

Suatu hari, seorang karyawan baru ditempatkan di divisi dimana Ambar bekerja. Seorang laki-laki lajang, sebut saja Hamdan. Sejak saat itu, Ambar sering berinteraksi dan bekerjasama dengan Hamdan. Hamdan sangat baik, terlihat begitu ingin menjaga dan melindungi Ambar. Ambar yang sepanjang hidupnya tidak pernah dekat dengan lelaki, merasa yakin sekali kalau Hamdan adalah jodohnya. Bahkan semua karyawan di perusahaan seperti sepakat menjodohkan Ambar dengan Hamdan. Pasangan yang serasi, kata semua orang. Ambar memang tak pernah mempertegas hubungan mereka seperti apa, tapi ia sudah sangat yakin bahwa Hamdan adalah lelaki yang dikirim Tuhan untuknya.

Empat tahun berlalu. Ambar tak terlalu memikirkan pekerjaannya lagi. Baginya kini, membantu meningkatkan karir Hamdan lebih penting. Bahkan obsesinya mencari kerja di Jawa dan meneruskan kuliahnya seperti menguap karena terlena oleh cinta. Sampai suatu ketika, Hamdan datang ke rumahnya, malam minggu seperti biasa. Yang tak biasa adalah Hamdan datang bersama seorang gadis cantik yang tak dikenalnya. Titi namanya. Tanpa prasangka apa-apa, Ambar mempersilahkan mereka berdua masuk. Dalam hatinya, Ambar menduga-duga bahwa Titi adalah kerabat atau adik Hamdan. Tiba-tiba Hamdan menyerahkan undangan pernikahannya yang berinisial H & T (Hamdan & Titi), membuat langit serasa runtuh di kepalanya.

Esok harinya, Ambar meminta penjelasan. Ia bertanya, kenapa Hamdan begitu tega padanya yang selama ini sudah begitu banyak membantu; menyokongnya dalam karir; orang-orang juga sudah tahu kalau selama empat tahun mereka dianggap sebagai jodoh yang akan menikah. Tahukah apa yang dikatakan Hamdan?

“Oh, itu. Tapi aku tak pernah meminta bantuan.Kupikir kamu suka rela membantu. Aku juga tak pernah membicarakan soal hubungan kita. Orang ngomong, ya biar saja. Aku diam karena merasa tak perlu menanggapi gosip murahan itu. Kupikir kamu beranggapan sama!”

Saat itu, Ambar menyadari satu kesalahannya. Dia sudah berharap terlalu banyak pada mimpi kosong. Dengan luka yang ditahan, ia akhirnya hanya bisa meminta maaf dan mengucapkan selamat atas pernikahan Hamdan dengan Titi.

Dengan sisa-sisa ketegarannya, Ambar berusaha menghadapi semua itu. Dalam hatinya terbersit kembali keinginan untuk mencari pekerjaan di Jawa dan meneruskan kuliahnya, mengejar mimpinya sebagai wanita karir yang sukses. Suatu hari teleponnya berdering. Kode daerah Jakarta.
“Halo…” Dengan ragu diangkatnya.
“Ambar?! Ini Linda. Kamu apa kabar?”
“Ooh Linda. Hai, aku baik. Kamu gimana? Kaget aku, kirain siapa!”
“Iya nih. Di tempat aku, asisten marketingnya keluar minggu depan ikut suaminya dinas ke Kalimantan. Manajernya temen baik aku. Gimana, kamu masih mau kerja di Jakarta nggak? Ini ditawarin ke aku, tapi aku kan nggak sanggup marketing. Aku inget kamu. Kalau mau, kamu bisa kerja mulai bulan depan. Biar aku kasitahu posisinya untuk di-lock, jadi dia nggak cari orang lain.” Jelas Linda panjang lebar.
“Ya, aku mau. Lock aja. Biar aku beresin semua urusan di sini sebulan ya!” Spontan Ambar menjawab.

Hubungan telepon sudah terputus. Namun, Ambar masih menatap HP-nya, seperti tidak percaya. Air matanya menitik. Allah telah mengabulkan doanya untuk membawanya jauh dari tempat yang selama ini telah membuatnya bodoh.

Singkat kata, Ambar akhirnya bekerja sebagai marketing di perusahaan itu. Ia segera beradaptasi dengan baik. Lingkungan baru memberikan semangat baru pada Ambar. Ia kembali menemukan jati dirinya sebagai pekerja keras dan ambisius, hingga karirnya di tempat baru kembali meroket. Selain itu, ia juga mengambil kuliah malam untuk mewujudkan cita-citanya meraih gelar sarjana. Dia tidak terlalu peduli lagi dengan laki-laki, meski tidak juga menutup diri dari pergaulan.

Peringatan keras dari orang tua dan kerabatnya untuk segera menikah, mengingat usia sudah hampir menginjak kepala tiga, membuat Ambar ‘berburu’ mencari belahan jiwanya. Saat itu, ada dua orang yang sudah sempat mau melamarnya, tapi tidak jadi semua. Yang pertama membatalkan, karena orang tuanya ternyata telah menjodohkannya dengan gadis lain. Yang kedua ditolak orang tua Ambar, hanya karena alasan ‘feeling’. Semula Ambar berontak, tapi ia berusaha menerima nasehat orang tuanya. Ternyata firasat orang tuanya terbukti. Sebulan kemudian, lelaki itu menjadi buronan polisi karena menggelapkan uang perusahaan!

Sejak peristiwa itu, Ambar semakin menenggelamkan diri dalam karir dan studinya. Namun Ambar tetaplah seorang perempuan. Di malam-malam di tengah sujud-sujud panjangnya, tangisnya tetap saja tumpah. Doa…doa…doa. Selalu itu yang ia lakukan setelah sholat malam. Sabar…sabar…sabar. Selalu itu yang menjadi kekuatannya. Meski kadang ia putus asa, kenapa jodohnya tak kunjung datang juga.
Ketika itu libur panjang, seperti biasa ada acara reuni SMA. Sebenarnya ia malas. Hanya karena dijemput oleh Yanti, temannya, ia terpaksa datang. Dalam perjalanan, Yanti berhenti dan menyapa seorang laki-laki yang berjalan kaki. Ambar merasa tak mengenalnya. Lelaki itu memperhatikan Ambar.
“Bimo, ini Ambar. Kita juga mau ke reunion. Nanti kita ngobrol ya!”
“Iya.”
Kata Bimo. Yanti segera menjalankan motornya lagi.

Reuni sudah lewat. Ambar kembali ke Jakarta dan bekerja. Ia sudah lupa sama sekali dengan Bimo. Suatu malam, pembantu kosnya mengatakan ada lelaki yang mencarinya. Dengan heran ia menuju ke depan. Ada Bimo di sana.
“Ini oleh-oleh dari Yanti. Dia titip ke aku minta dianterin ke kamu karena tempatmu dekat sama aku.”
“Makasih, ya.”
kata Ambar.

Mereka kemudian berbincang singkat. Tiba-tiba Bimo menanyakan apakah Ambar sudah punya calon suami. Tentu saja Ambar menjawab tidak. Tanpa bertele-tele, Bimo mengajak Ambar menikah! Ambar kaget, tapi mengatakan akan memberikan jawaban beberapa hari lagi. Berhari-hari ia menegakkan sholat istikharah, meminta petunjuk dari Allah. Ia juga berencana untuk menelepon orang tuanya dan berdiskusi.

Sebelum rencana itu terwujud, orang tuanya sudah meneleponnya, mengabarkan tentang Bimo yang datang ke rumah untuk bersilaturahmi dan menyatakan niatnya memperistri Ambar. Orang tua Ambar mengatakan, feeling mereka, dialah jodoh Ambar. Sebaiknya Ambar menerimanya. Ambar hanya bisa bengong dan meng-iya-kan pendapat orang tuanya.

Prosesi dari lamaran sampai pernikahan pun berjalan lancar. Tidak mengganggu kesibukannya bekerja dan kuliah. Bahkan sebelum akad nikah dia bisa ikut wisuda. Ya, jodoh memang rahasia. Tidak bisa ditebak, tapi harus dipercaya: bila sudah jodoh dan tiba waktunya, tak perlu khawatir dia akan datang mendekat dan mudah semua urusannya!

Februari 5, 2010

Jodoh Cinta (Update)

Kepada Yang Tercinta,
Pemilik jiwaku dan jiwa yang Kau janjikan untukku

Yang Tercinta, kusampaikan pada-Mu kerinduanku yang mendalam melalui surat ini. Aku tak pernah berputus harapan dari menanti tunainya janji-Mu padaku. Tentang dia, Sang Jodoh Cintaku.

Yang Tercinta, mungkin memang masih Kau simpan ia dengan mesra dariku, dan Kau masih mengujiku, seberapa taat, sabar dan pantasnya aku mendapat anugerah ini dari-Mu.

Yang Tercinta, kupuja Engkau dalam setiap sujudku. Dan Dalam menunggu, kuurai pengertianku lewat beragam kisah para pemuda muslim dalam memperjuangkan jodoh cinta mereka. Semoga aku pun dapat meniru semangat dan keyakinan seperti mereka.

Yang Tercinta, ini bukan suratku yang pertama dan terakhir, bahkan hingga nanti saat telah Engkau sampaikan langkahnya padaku…

(Back Cover “Jodoh Cinta, update”)

———————————————————————–


Ternyata Kinoysan (Mbak Ari Wulandari), penulis “Jodoh Cinta” sudah mengeluarkan lagi buku “Jodoh Cinta, update” . Kalau yang pertama berkisah tentang muslimah lajang dalam mencari jodoh, buku yang kedua ini merupakan kumpulan kisah pemuda muslim lajang yang mencari belahan jiwanya. Membaca buku yang kedua ini, membandingkannya dengan buku pertama, saya sepakat dengan Mbak Ari bahwa: setiap orang ingin cepat menemukan jodohnya dan menikah. Tidak hanya muslimah, para muslim pun begitu. Bagi kita yang sedang dalam masa pencarian, harus sabar, berusaha dan tawakal. Sementara melihat mereka yang belum bersanding dengan belahan jiwanya, tak perlulah kita mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati tak nyaman . Mendukung dan mendoakan, itu lebih baik untuk dilakukan. Bukan begitu? ^^v

Untuk buku yang satu ini, sepertinya saya tidak akan menuliskan note untuk salah satu kisah. Menulis note untuk satu kisah dari buku pertama saja sudah sepanjang itu. Capek :p. Saya cuma ingin mengutip pemikiran Firman (salah satu pemuda yang dikisahkan dalam buku ini) tentang jodoh:

Jodoh itu seperti pakaian. Terlalu sulit mendeskripsikan untuk menjelaskan tentang jodoh. Dia itu seperti seseorang yang dilahirkan sebagai bagian dari kita, kemudian dipisahkan oleh jarak, waktu, keadaan, tempat, dan lain-lain; hingga akhirnya dipertemukan kembali . Sebagai bagian dari diri kita, sepertinya ada sesuatu yang tak kasat mata yang membuat kita mengenalinya.

Jodoh itu pasti cocok dan pas, apapun keadaannya. Betapapun orang menganggap tidak sebanding, pasti Allah telah mengukurnya. Jodoh kita adalah bagian dari diri kita. Tidak mungkin bagian itu tidak tepat.

Note ini ditutup dengan mengutip firman Allah SWT:
“… Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan…” (QS. Adz Dzariyat:49)

Maka, kita harus yakin bahwa setiap orang sudah ditetapkan siapa jodohnya oleh Allah. Jangan takut kehabisan stock :p. Jangan jadi terburu-buru menikah hanya karena omongan orang yang terasa tidak enak di telinga dan tidak enak di hati. Persiapkan diri, itu pasti. Berusaha, itu harus. Yang paling penting dan pertama sekali adalah: luruskan niat . Serta libatkan Allah SWT dalam prosesnya (salah satunya dengan istikharah). Karena ternyata menikah itu bukanlah tujuan, tapi gerbang awal kehidupan baru kita bersama pasangan, untuk meraih hidup bahagia di dunia, di akhirat dan juga yang terpenting: ridha Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah dia menjaga separuh yang lain dengan bertakwa kepada Allah.” (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik)

Februari 1, 2010

Jodoh Cinta

Kepada Jodoh Cintaku
Di Bumi Allah

Apa kabar, Cinta?
Melalui surat ini, kusampaikan padamu, bahwa aku masih menunggu dengan setia dan penuh kerinduan, dalam malam-malam yang penuh doa.

Beberapa kali seseorang hadi dalam episode hidupku (dan tahukah sayang…. aku mengira itu kamu!). Hanya suratan takdir kemudian yang membuatku sadar, kau belum lagi singgah dalam hidupku.

Cinta….

Usia memang meninggalkan jejak pada diriku. Tapi semoga iman di dada, bisa membuatmu melihat cahaya dalam diriku.

Percayalah, tidak ada yang berubah dalam hari-hariku. Aku masih muslimah yang sama yang menunggu kehadiranmu.

Dan sambil menunggu, perkenankan aku membaca kisah sejati perjuangan muslimah-muslimah lajang sepertiku dalam menemukan jodoh mereka.

Semoga seperti mereka, aku bisa memperoleh kekuatan dan energi kesabaran hingga kau meminangku, suatu hari nanti…..

Salam sayang,
Jodoh Cintamu
(Back Cover :”Jodoh Cinta”, Kinoysan)

Februari 1, 2010

Api Sejarah — Mengungkap yg Tersembunyi dan Disembunyikan

Buku ini tebalnya mirip2 novel Harry Potter, tepatnya 583 halaman! Perlu diketahui, tebal “Harry Potter & the Chamber of Secret” yg dijual di Indonesia tebalnya 432 halaman! Berarti buku ini lebih tebal ya. Tapi karena gaya bahasanya yg cukup ringan, saya jadi betah membaca buku ini.

Buku ini bukan buku sejarah biasa. Kata seorang teman, kita memang sangat perlu belajar sejarah bangsa ini. Tapi, karena banyaknya rekayasa dalam penulisan sejarah, maka kita perlu juga belajar koreksi sejarah. Maka menurut saya, buku “Api Sejarah “ yg ditulis Ahmad Mansyur Suryanegara ini adalah salah satu buku koreksi sejarah yg pantas dibaca oleh kita semua (generasi penerus bangsa) untuk menemukan mata rantai yg hilang dalam sejarah. Terutama tentang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari buku ini saya baru tahu, kalau ternyata sejarah Sang Saka Merah Putih itu erat sekali dengan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda, “Allah menunjukkan kepadaku bumi. Aku ditunjukkan pula timur dan baratnya. Allah menganugerahkan kepadaku warna yang indah. Merah Putih. Dari sinilah para ulama Indonesia mengembangkan Bendera Merah Putih menjadi bendera umat Islam sebagai mayoritas bangsa Indonesia. Masih ingat dengan bubur merah putih yang biasa dibuat oleh ibu-ibu kita sebagai lambang penyambutan kelahiran bayi dan tahun baru Islam?? Ternyata budaya bubur merah putih juga berasal dari sini. Subhanallah…

Dari dulu saya dibingungkan oleh pertanyaan tentang bagaimana bisa bahasa melayu disepakati menjadi dasar bahasa kesatuan, Bahasa Indonesia, seperti yg diikrarkan para pemuda dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 (Kami mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia). Padahal ada banyak suku, ada banyak bahasa daerah. Berarti bahasa Melayu sudah dikenal dan dipakai bersama jauh sebelum ikrar ini ditetapkan. Kenapa bisa begitu? Dari buku ini saya jadi tahu bahwa para pedagang muslim-lah yg menyebarkan kebiasaan berbicara dgn bahasa melayu pasar dalam kehidupan perdagangan antar pulau. Subhanallah.

Masih banyak fakta-fakta sejarah yg dipaparkan buku ini dan selayaknya kita tahu sebagai generasi penerus bangsa. Karena ALLAH SWT sendiri telah berfirman dalam QS. al Hasyr (59): 18 yang artinya: “perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu”. Belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu (sejarah) akan memberikan kita banyak pelajaran (bekal) untuk menghadapi tantangan zaman ke depannya. Masalah yg kita hadapi mungkin memang tak persis sama dgn yg dihadapi para tokoh di masa lalu. Tapi sejatinya, di setiap zaman, ‘pola-pola’ itu berulang, seperti roda yg berputar. Dan setiap masa memiliki pahlawannya masing-masing, begitu kata orang bijak. Mereka, orang-orang besar itu adalah pahlawan-pahlawan di masa lalu. Sedangkan kita.. siapa?

Resensi ini ditutup dgn mengutip perkataan E.F.E Douwes Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi dari Indiche Partij: “djika tidak karena sikap dan semangat perdjuangan para Ulama, sudah lama pratiotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan”

semoga kita bisa meneruskan perjuangan para pahlawan kemerdekaan (yg mana mayoritasnya merupakan para santri dan ulama) dalam mengisi kemerdekaan. Aaamiiin. Merdeka!

Januari 5, 2010

NLYC 2010

Desember 9, 2009

Ketika Cinta Bertasbih 2

Bismillah… bakal panjang nih. Yang sabar ya bacanya ^_______^

Entah kenapa, ketika diajak pertama kali menonton KCB 2, yg terbayang d benakku pertama kali adalah : ayat-ayat cinta. Mungkin karena pengarang kedua novel ini sama, yaitu Habiburrahman El Shirazi. Yah, ceritanya kemungkinan berkisah tentang bagaimana jika seorang muslim mengalami yg namanya jatuh cinta, pikirku waktu itu. Gak ada salahnya ikut nonton, lagipula gratis ^_______^, sayang klo dtolak. Hehehe. Padahal KCB 1 aja belum nonton. “Ceritanya gak terlalu nyambung kok,” kata teman yg sudah nonton KCB 1.

Akhirnya, setelah menonton KCB 2, pelajaran utama yg bisa kuambil adalah : kalau memang jodoh, pasti akan ketemu juga ^_______^…. Meskipun harus berputar-putar, ternyata kembali juga k titik awal. Siapapun jodoh kita, ternyata memang sudah dtetapkan Allah SWT d lauhul mahfuz, dia pasti yg terbaik untuk kita. Seperti apa yg dialami Azzam dan Anna. Menarik sekali ^_______^.

Kalo teman2 sudah nonton KCB 1 pasti udah tahu kan klo Azzam dan Anna sempat sekali bertemu d Mesir. Kalo gak salah d dalam bus, Anna yg pertama menegur Azzam. Azzam memperkenalkan diri sebagai Abdullah (nama lengkapnya memang Abdullah Azzam), kuliah d Al Azhar (seperti juga Anna).  Setelah Anna turun dari bus, ternyata barang bawaannya ketinggalan. Dan akhirnya Azzam mengantarkan barang itu kembali k Anna. Sejak saat itulah, ternyata  ‘cinta’ bersemi d hati masing-masing. Ada ketertarikan, tapi tak pernah terungkapkan. Keduanya, sadar bahwa cinta suci hanya boleh diberikan pada yg berhak menerimanya, setelah akad nikah terucapkan. Hingga akhirnya Anna kembali k Indonesia dan ternyata telah dlamar oleh mahasiswa dari Al Azhar juga, yg bernama Furqon (yg ternyata sahabat Azzam jg… dunia memang sempit ya, hehe).

Nah, kisah KCB 2 bermula dari kepulangan Azzam k Indonesia. Pulangnya Azzam bersama artis bernama Eliana sempat membuat gossip beredar, bahwa Azzam adalah pacar Eliana. Pada dasarnya memang Eliana suka pada Azzam, bermula dari penolakan Azzam utk menerima friendkiss dari Eliana (KCB 1). Keteguhan Azzam pada Islam membuat Eliana jatuh hati, meski bertepuk sebelah tangan. Azzam hanya menganggap Eliana sebagai teman.

Sembilan tahun Azzam tinggal d Mesir, kuliah sambil bekerja (berdagang tempe dan bakso). Ibu dan ketiga adiknya menjadi tanggungan Azzam seorang diri, karena hanya Azzam anak laki2 satu2nya sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia. Salah seorang adik Azzam yg bernama Husna ternyata bersahabat dg Anna.

Tepat saat kepulangan Azzam, Anna datang ke rumah, bermaksud memberikan undangan pernikahannya pada Husna. Saat itulah Anna bertemu Azzam, yg dikenalnya sebagai Abdullah. Seseorang yg pernah ia menaruh hati, ternyata adalah kakak dari sahabatnya yg akan ia undang k pernikahannya sendiri. Azzam sendiri terlihat kaget dan pasrah mendengar Anna akan menikah. Sepotong cinta layu sebelum berkembang.

Anna akhirnya menikah dgn Furqon. Sementara Azzam mulai menyibukkan diri dgn bisnis. Pertama ia mencoba jasa kurir. Dengan sebuah truk dan seorang supir dan kernet, Azzam mengambil barang k Jakarta yg dikirim dari Mesir untuk kemudian diantarkannya k berbagai tempat d pulau Jawa. Namun, karena desakan ibunya,  Azzam mengganti usahanya dgn berjualan Bakso Cinta (baksonya bentuk hati gitu, hehe, ada2 aja).

Mapan. Bisnis Bakso Cinta berjalan lancer, berkembang pesat. Azzam sudah punya mobil sendiri dan sudah membuka cabang di kota lain. Desakan ibu Azzam kini beralih ke masalah jodoh. Azzam pun berusaha mencari ‘peluang’. Usulan Husna yg menawarkan temannya (Rina) sudah ditolak ibunya. Pelajaran bagus buat kita yg belum nikah nih. Ternyata seorang ibu itu sangat memperhatikan tentang calon menantu yg akan menjadi pendamping hidup anak lelakinya. Bibit bobot bebetnya dperhatikan betul. Hehe, ternyata masih ada yg seperti itu. Kenapa Rina ditolak? Karena Rina pernah menginap d rumah dan ‘tertangkap basah’ tidur lagi sehabis shubuh! Wah wah wah… rezeki bisa dpatok ayam, kata ayah Azzam yg masih diingat sekali oleh ibu Azzam. Jadi pesan moral yg harus diingat : hindari tidur sehabis shubuh ^______^. (Kata Rasulullah juga begitu ternyata).

Husna pun berusaha mencarikan jodoh lagi untuk Azzam. Kali ini adik ipar dari temannya, Mila namanya. Sebenarnya Azzam jg pernah dtawarkan seorang bapak yg mengikuti pengajian yg diisi Azzam. Bapak itu memiliki seorang anak yg jg sdh ingin menikah. Melihat cara Azzam menyampaikan materi dgn sangat baik dan bahasanya mudah dipahami, bapak itu memberikan kartu namanya, menawarkan putrinya untuk dinikahi Azzam. Tapi Azzam tidak segera menanggapi tawaran bapak itu. Nah, ini cara lain orang tua mencarikan jodoh utk anaknya. Mencarikan orang yg sholeh (agamanya baik) utk putrinya. Satu pesan moral lagi : kita bisa meminta orang tua untuk mencarikan jodoh yg sholeh utk diri kita.

Kita kembali lagi k usaha Husna men-ta’aruf-kan Mila dgn Azzam. Setelah ditanyakan pada Mila, ternyata Mila setuju untuk menjalani ta’aruf. Sementara Azzam setuju-setuju saja pada usulan Husna. Sayangnya, orang tua Mila yg masih sangat ‘kejawen’, menolak. Alasannya karena Mila anak ketiga sedangkan Azzam anak pertama. Mitosnya, klo anak ketiga menikah dgn anak pertama, salah seorang dari ayah atau ibu pihak perempuan akan meninggal. Gagal sudah upaya Husna yg kedua. Pesan moral ketiga : keluarga yg belum menjalankan Islam dgn ‘kaffah’ (menyeluruh) bisa menjadi penghalang usaha kita untuk menjalankan pernikahan (secara Islami).

Belum patah semangat, Azzam memutuskan untuk mendatangi rumah bapak2 yg pernah menawarkan anaknya pada Azzam. Namun terlambat, sang anak sudah keburu menikah dgn calon yg dicarinya sendiri. Patah sudah semangat  Azzam, ia memilih untuk kembali fokus berbisnis saja.

Sementara Azzam berkutat dalam hal mencari jodoh, Anna sudah mendapat pendamping hidupnya yaitu Furqon. Seharusnya Anna sudah bahagia. Ya, seharusnya. Tapi ternyata, tidak! Selama 6 bulan sejak pernikahannya, Anna tidak sepenuhnya menjadi istri. Furqon ternyata belum ‘menyentuh’ Anna sekalipun. Bukan karena tidak bisa. Ada sesuatu yg membuat Furqon slalu membatalkan niatnya melakukan ‘ibadah’ itu, yg membuatnya menggigil ketakutan dan menjauhi Anna. Ketakutan yg disembunyikannya bahwa ia ternyata pernah divonis menderita HIV. Marah! Anna marah dan sangat terpukul. Anna mendesak Furqon untuk menceraikannya, malam itu juga. Ya, malam itu juga Anna pulang k rumah dengan hati terluka. Esoknya kedua keluarga (dari pihak Anna dan Furqon) bertemu, dan terkejut mendengar pengakuan Furqon yg baru menceritakan bahwa dirinya divonis menderita HIV. Pesan moral keempat : sebelum memutuskan untuk menikahi seseorang, pastikan bahwa ia terbuka ttg kondisi diri dan keluarganya (supaya gak ada masalah d kemudian hari yg mungkin bs memicu perceraian – sesuatu yg sangat dibenci Allah SWT, meskipun diperbolehkan-Nya).

Kembali ke Azzam. Sahabat ayah Azzam (pak de) mencoba membantu Azzam dalam hal pencarian jodoh, mengenalkan keponakannya (lupa namanya, yg main asmiranda da’. Subhanallaah,, cantik banget asmiranda pake jilbab! Kayak bidadari turun ke bumi… ckckckck) yg seorang dokter.

Kali ini, lolos! Ta’arufnya lancaaar ^______^. Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan k proses khitbah (melamar). Sementara itu, Husna juga dilamar oleh sahabat Azzam (yg diperankan oleh dude herlino… lupa euy namanya).

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, keluarga Azzam hendak melangsungkan 2 pernikahan sekaligus (Azzam dgn Asmiranda, Husna dgn Dude Herlino). Ibu Azzam sangat bersemangat dan antusias, bahagia sekali perihal pernikahan kedua anaknya. Ingin semua cepat beres. Undangan sudah dicetak, tinggal disebar . Tinggal mencari ustadz yg bisa memberikan tausiyah pernikahan. Azzam mengusulkan ustadz dedi mizwar (lupa nama peran yg dmainkannya euy, hehe), ayah Anna. Langsung setuju, Ibu Azzam mendesak untuk k rumah beliau saat itu juga. Di luar, cuaca buruk, hujan turun dengan derasnya. Motor Azzam menerobos hujan, membonceng ibunya menuju rumah Anna.

Di rumah ada Anna yang langsung membukakan pintu, terkejut mendapati Azzam dan ibunya berbasah kuyup, ia mempersilahkan mereka duduk sementara ia bergegas memanggil ayahnya d masjid. Begitu bertemu, disampaikanlah maksud kedatangan, untuk meminta ustadz menjadi pemberi tausiyah setelah akad nikah. Merasa tak pantas, ustadz menolak, tanpa memberi tahu alasan. Beliau mengusulkan nama lain yg dianggap lebih pantas memberi tausiyah. Ibu Azzam terus membujuk, terus berharap. Tapi tak mungkin menerima, pikir ustadz. Azzam pun mengajak ibunya pulang, kembali berderas-deras hujan dgn hati yg kecewa.

Pertanyaan Anna, ‘kenapa ayah tega menolak permintaan mereka yg sdh bersusah payah datang berhujan-hujan?’, dijawab dgn lunglai, ‘apakah pantas seorang yg tak bisa mempertahankan keutuhan keluarga anaknya memberikan tausiyah pernikahan? Itu namanya kaburo maqtan indallaahi, antaquulu maalaa taf’alun (amat besar kebencian d sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yg tiada kamu kerjakan — QS. As Shaff (61) : 3).

Basah. Hujan masih turun dengan deras. Azzam menggigil, jalanan berkelok-kelok tampak kabur di depannya. Sebuah truk, di kelokan, menyalip mobil d depannya, tidak melihat ada motor dari arah yg berlawanan, motor Azzam dan ibunya! Tak terhindarkan, motor itu ditabrak! Azzam terpental, kakinya menghantam batu d pinggir jalan. Ibunya…. (Sungguh, tak ada seorangpun yg tahu di bumi mana ia akan mati).

Di rumah sakit…

Tak sadarkan diri, kaki Azzam divonis patah dan harus segera dioperasi. Husna dan adiknya yg kedua, berpelukan, menangis sesenggukan, menyadari bahwa mereka kini tak punya orang tua lagi. Ibunya harus segera dikuburkan, Azzam harus segera dioperasi (kondisinya kritis). Husna memilih untuk menemani Azzam d rumah sakit, berjaga-jaga kalau Azzam sadar. Begitu sadar, Azzam menanyakan kodisi ibunya yg hanya dijawab Husna yg berusaha tegar, ‘ibu sudah tidak apa2, ibu sudah tenang di tempatnya. Mas tenang aja. Kaki mas harus segera dioperasi’,…. Pesan moral : berbohong utk kebaikan lebih baik daripada memberitahukan kebenaran yg justru akan memperburuk keadaan. Hiks,, pastinya berat banget ya ngomongnya.

Seusai operasi, keluarga Asmiranda datang menjenguk…

Asmiranda tak dapat menahan diri menangis melihat kenyataan bahwa Azzam celaka dan patah kakinya. Azzam sadar, tak mungkin melangsungkan pernikahan dalam kondisi seperti itu. ‘Pada dasarnya ikatan kita bukan ikatan pernikahan. Sebagai seorang dokter, kau pasti lebih paham berapa lama kakiku akan sembuh. karena itu kubebaskan kau untuk menikah dgn laki2 lain kalau kau tak sabar dalam masa penantian’. Pesan moral : ikatan d luar pernikahan (pacaran bahkan lamaran!) tidak seharusnya dijadikan ‘pembenaran’ untuk ‘mengikat’ orang lain yg belum tentu menjadi istri/suami kita; kembalikan semuanya pada Allah SWT (definisi ikhlas nih).

Azzam pun menjalani rehabilitasi. Perlahan-lahan ia latihan berjalan dgn kruk, hingga akhirnya beberapa bulan kemudian ia dapat berjalan kembali seperti semula. Masih ingat pak de? Ya, sahabat ayah Azzam yg mengenalkan Asmiranda pd Azzam. Beliau datang, suatu hari, dgn sebuah surat dari Asmiranda. Isi surat itu ternyata adalah kabar bahwa ia sudah menikah dgn orang lain yg dipilihkan oleh orang tuanya, ‘bersama surat ini, kukembalikan cincin yg mas berikan saat khitbah.’ Berusaha menyemangati, adiknya berkata, ‘pasti ada perempuan yg lebih cocok memakai cincin milik ibu ini mas.’Kembali bersemangat, Azzam memutuskan untuk menemui ustadz Dedi Mizwar, ‘pak kyai kan punya banyak santri. Mungkin saja ada yg menurut pak kyai cocok dgn mas.’

Yah, kita hampir menuju endingnya. Bisa nebak endingnya gimana? ^______^

Yah, akhirnya Azzam mengutarakan niatnya utk mencari jodoh dgn bantuan ustadz dedi mizwar (karena Asmiranda ternyata sdh menikah dgn orang lain). Sementara itu, Anna mencuri dengar pembicaraan mereka dari ruang sebelah, tampak berharap cincin itu dipakaikan di tangannya.

Berpikir, Ustadz Dedi Mizwar akhirnya berkata, ‘Maukah kamu mendengar suatu kisah. Ini kisah nyata. Tentang seorang gadis yg sholehah. InsyaAllah sholehah. Gadis ini sangat takut pada Tuhannya. Sangat cinta pada nabinya. Sangat bangga pada agamanya. Suatu hari, gadis itu menikah. Seharusnya ia bahagia, tapi ternyata suaminya tidak pernah menyentuhnya. Akhirnya ia memutuskan untuk berpisah. Ia masih gadis yg suci. Seandainya kamu kunikahkan dgn gadis ini, kamu bersedia?’

‘Kalau menurut pak kyai ia cocok dgn saya, saya bersedia pak kyai,’

‘benar kamu bersedia? Kalau benar, kamu datang ba’da maghrib, hari ini. Kunikahkan kalian dgn jama’ah sholat sebagai saksinya…’

‘ya pak kyai, saya bersedia. Tapi kalau boleh saya tahu, siapa nama gadis itu dan dimana dia sekarang?’

‘gadis itu bernama, Anna…’

Dan sepotong cinta tumbuh kembali. Azzam bertasbih-bertahmid, Anna menangis dan langsung bersujud (sujud syukur). Dua harapan bertaut kembali… subhanallah… Alhamdulillah… Allahuakbar!

Dan ba’da maghrib itu, masjid pak kyai syahdu. Azzam mengucapkan ijab qabul, memperistri Anna yg dulu pernah singgah di hatinya. Namun ia halau dan tak dibiarkannya berkembang, karena Allah belum menghalalkan untuk-Nya. Dan ternyata, tekad Azzam menjaga hatinya karena Allah dan tekad Anna menjaga hatinya karena Allah berbuah manis. Mereka dipertemukan Allah dalam bahtera pernikahan yg suci, menaungi cinta suci yg kini halal untuk mereka berdua. (lagu Melly Goeslaw yg liriknya ‘aku hanya ingin cinta yg suci…’,pas banget sama film ini ^_______^).

Subhanallah…. Pelajaran moral yg terpenting : sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk kita, pasangan kita. Sesuai diri kita. Sesuai ketaatan kita pada Allah, Rasul-Nya, dan diin (Islam) ini. Semoga kita bisa mempersiapkan diri kita sendiri, sebelum tiba saatnya kita dipertemukan dgn jodoh yg telah ditetapkan-Nya, ya ^_______^.

Wallahua’lam bishshowwab.

Waaah… panjang juga yaaa. Nulisnya juga lama, 3 jam-an euy, hehehehe. Punten ya bahasanya belepotan. Smg nanti bisa nonton filmnya langsung ya. Saya sampe nangis2 lho nontonnya, hehehe. Empat jempol deh buat KCB 2 (2 jempol lagi minjem orang lain :p). Smg bermunculan lagi film2 Indonesia yg berkualitas dan mengandung pesan moral – pesan moral yg bermanfaat buat penontonnya… aamiin.

Desember 4, 2009

sms idul adha update

bismillah,,,

alhamdulillah tahun ini dapat beberapa sms lebaran kurban yg bs dshare ^^, kali ini banyak versi seriusnya,,,

1. Di Idul Adha ini ada jutaan kambing & sapi teal rela berkorban untuk manusia. Kini mereka sedang menanti kerelaan manusia untuk berkorban, menyembelih nafsu kebinatangan yg bercokol di tubuh ini. Sudahkah kita melakukannya? Andai belum, maka sebenarnya siapa yg lebih mulia di Idul Adha ini… manusia atau mereka (kak Ryan)

2. Seperti Ibrahim, manusia penuh dedikasi, kisah hidupnya membentang sepanjang sejarah. Bintang kehormatan sebagai kekasih Alla pun tersemat pada namanya. Layaknya Hajar, wanita tegar penuh cinta, hingga jejak kasih sayangnya abadi dalam mata air zam2. Menjadilah sesabar smail, hingga kesabarannya pun mendapat sanjungan dari langit. Met Idul Adha (Khadafi)

3. Pengorbanan sejatinya ketika harta, keluarga, dan jiwa diserahkan untuk Allah, Rasulullah SAW telah mengajar kita arti kurban sebenarnya. Kesyahidan itulah puncak tertinggi dlm pengorbanan di jalan Allah. Niatkanlah untuk mendapat syahadat di akhir nafas qt.  (mbak Emi)

4.  ((___))

‘(  +    +  )’–.–.–.–.–.,

(       )         “    @     ‘:_/’+

*            ‘- i – i – :_:’

Nih aku sapibuat saudariku,,,,

tapi sayang gak bisa dipotong utk qurban,  hehehehe

happy ied Mubarak (Aji)

November 17, 2009

Jangan memaksakan diri jadi dewasa

Ketika kita melihat orang lain lebih baik dari kita, biasanya kita membandingkan diri kita dengannya. Apa yang kurang, apa yang lebih. Bagus kalau kita jadi tahu kekurangan diri dan mengupgrade diri di sisi itu, dengan bersemangat! Sebaliknya, kalau jadi rendah diri, karena ada banyak kekurangan diri yg ternyata dimiliki orang lain, itu yg salah.  Bahkan merasa, ‘belum juga tumbuh dewasa’ (padahal usia sudah kepala berapa ^^).

Setiap orang dewasa dengan caranya sendiri. Ada yg cepat jadi dewasa. Ada yg lambat. Setiap orang tumbuh dewasa dengan cara yg berbeda. Karena setiap orang itu special, unik. Setiap orang berbeda, pasti berbeda. Kita mungkin lahir di tahun yg sama, jam yang sama, menit yang sama, bahkan detik yg sama; tapi kita tumbuh dgn cara masing2. Menjadi manusia yg berbeda.

Setiap orang lahir dari orang tua yg berbeda. Ada yg tinggal di kota, ada yg di desa. Ada yg bersekolah, ada yg tidak bersekolah. Bahkan yg tinggal di kota yg sama atau bersekolah di sekolah yang sama pasti ada yg berbeda. Berbeda jalur pulang, berbeda geng bermain, berbeda peringkat kelas, berbeda ekskul, berbeda usia, berbeda penghasilan orang tua. Setiap orang bertemu dengan hal yg berbeda bahkan setiap detiknya. Mungkin di suatu hari dua orang bisa berkumpul bersama, makan bersama, berpakaian dgn warna sama (karena janjian sebelumnya pake dresscode yg sama) dan lain-lain dan lain lain, tapi setelah itu, sebelum itu, bahkan saat itupun satu orang bisa merasakan, melihat, mendengar, berpikir hal yg berbeda. Tak mungkin ada manusia yg sama persis. Bahkan saudara kembar identik sekalipun. Karena itu, tak ada manusia yg dewasa bersama-sama. Maka, tingkat kedewasaan setiap orang pasti berbeda, satu dgn lainnya.

Tapi kita memang harus dewasa. Memang harus. Mendewasakan diri itu harus. Mendewasakan diri itu keharusan bagi setiap orang yang memilih untuk jadi dewasa. Kita sebenarnya tidak tumbuh dewasa dgn sendirinya. Sejatinya, kita menumbuhkankan diri untuk dewasa. Kita memilih untuk jadi dewasa. Kita memilih, menjadi dewasa seperti apa.

kita memilih menjadi dewasa seperti apa

Mendewasakan diri, artinya menumbuhkan kedewasaan pada diri sendiri. Bukan pada diri orang lain, betul kan ya? Maka kurang tepat rasanya kalau kita membandingkan kedewasaan diri kita dengan orang lain. Yang tepat adalah membandingkan diri kita di saat ini dengan diri kita di saat yang lalu. Apakah ada perubahan? Lebih baik atau sama saja atau lebih buruk? Kalau lebih baik, berikan pujian pada diri dan bertambah semangat untuk meningkatkannya lagi. Kalau sama saja, evaluasi hal-hal yg bisa memompa semangat untuk meningkat di masa depan, tetap semangat! Kalau lebih buruk, kasihani diri (cintai diri) – evaluasi lebih dalam, apa yg salah – sembuhkan diri, motivasi diri untuk bangkit lagi – tekad untuk lebih baik ladi d masa datang.

Sampai kapan harus seperti itu? Sampai kita sudah dewasa. Kapan kita sudah dewasa? Hm, ketika kita sudah bisa melakukan hal2 di atas, dan bersabar untuk tetap melakukannya, itu satu tahap menuju kedewasaan. Mungkin, ketika pengetahuan kita tentang hidup ini telah sempurna, maka kita bisa disebut dewasa. Yang jadi pertanyaan adalah: kapan pengetahuan kita ttg hidup dikatakan sempurna?

Jawabannya, sepertinya, tidak akan pernah. Pengetahuan manusia tentang hidup ini tidak akan pernah sempurna.  Kata Anis Mata,”hidup adalah lukisan yang tak pernah selesai”. Setiap saat bermunculan hal-hal baru di dunia. Bayi-bayi lahir, teknologi baru ditemukan, ilmu-ilmu berkembang, teori lama menggantikan teori baru, dan lain-lain dan lain-lain. Semuanya adalah fakta-fakta baru yang akan merekonstruksi pengetahuan kita sebelumnya. “Kebijaksanaan terbentuk dari akumulasi informasi (fakta) yang membentuk pengetahuan kita tentang hidup. Karena sifatnya yang akumulatif, maka kesadaran hidup kita tidak akan pernah bisa terbentuk seketika. Karena tidka terbentuk seketika, maka sikap hidup kita juga berubah dari waktu ke waktu,” begitu menurut Anis Mata.

Karena pengetahuan kita tentang hidup tidak akan pernah sempurna, maka proses pembelajaran tidak boleh selesai. Kita memang tidak boleh memaksakan diri jadi dewasa, tapi kita harus terus belajar untuk mendewasakan diri.

(dipersembahkan untuk diri sendiri)

November 16, 2009

Belajar Nyebrang Jalan dari si Kabayan

“Hidup itu ibarat menyebrang jalan,” begitu pesan seorang ustadz yang kudengar saat acara halal bihalal Lebaran yang diselenggarakan di RW-ku, RW 10 Kelurahan Tamansari. Saat kita mau menyebrang jalan, seperti apa sih tingkah laku kita? “Yang pasti, jangan menyebrang jalan seperti si Kabayan,” katanya lagi. Memang bagaimana cara Kabayan menyebrang jalan?

trafficlights

Alkisah, suatu hari si Kabayan pergi ke kota dan hendak menyebrang jalan. Sepertinya untuk pertama kalinya, sebab Kabayan bingung untuk menyebrang di jalan seramai itu. Kendaraan lalu lalang, terus menerus. Pertama kali juga ia melihat yang namanya lampu lalu lintas. Diamlah ia di bawah lampu lalu lintas itu, berdiri memperhatikan. Lampunya berubah-ubah warna. Pertama “hijau”: kendaraan lalu lalang. Berganti “kuning”: kendaraan ambil ancang-ancang (beberapa bukan untuk berhenti, tapi justru ngebut biar gak kena lampu merah). Lantas “merah”: tepat di zebra cross, kendaraan-kendaraan mengerem. Si Kabayan, melihat fenomena itu sepertinya belajar sesuatu, kendaraan-kendaraan itu berhenti karena lampu-lampu itu. Pintar ya.

Beberapa saat kemudian, lampu berubah warna lagi, hijau – kuning – merah – hijau – kuning – merah, tapi si Kabayan masih tetap diam, belum juga menyebrang. Tetap diam di bawah lampu lalu lintas itu. Terus memperhatikan. ‘Tap-tap-tap’, langkah kaki seorang polantas mendekati si Kabayan. “Bapak teh mau nyebrang? Kumaha (kenapa) masih di sini terus?” dengan heran pak polntas bertanya. “Eh, punten (maaf) pak, saya belum nemu warna yg cocok euy.” Ealaah  ^____^.

“Nah, begitu juga hidup, ibarat menyebrang jalan. Harus tahu aturan (hidup), supaya gak bingung.” Jelas pak ustadz. Dan aturan hidup seorang muslim itu ada di mana? Betul sekali: Al Qur’an dan Al Hadist.

Lha, si Kabayan teh aneh pisan,,, di Indonesia kan warna lampu lalu lintas kan cuma 3. Klo lampu lalu lintas seperti yg di bawah ini, mungkin kita baru bisa milih warna yg cocok (dengan kepribadian kita)? Sok mangga, dipilih dipilih, sayang anak2 sayang anak,,, Hehehehe,,,

traffic_light_tree

 

Mei 26, 2009

akhirnya di Bandung lagi,,,

Setelah dua bulan kembali ke kampung halaman, akhirnya saya kembali ke Bandung lagi. Tapi kali ini cuma sebentar, ada niat kuliah lagi, sekarang usaha dulu nyari beasiswa. Soalnya kalau biaya sendiri, gak sanggup euy :D

Mohon doanya ya…

Btw,, sekarang jarang nulis, karena akses internet di Mataram, kota kelahiran dan ‘kebesaran’, susah dijangkau,,, kembali ke Bandung, ngenet bisa berlama-lama di kampus tercinta,, hehehe

I still have a lot of things to do
so,, I think it is enaugh for this time
Hope I could write something next time