Esensi Mengulang

Apa yang kita cari dari berlelah-lelah duduk di bangku kuliah? Apakah sekedar lulus karena tuntutan orang tua? Atau memang karena kita merasa butuh akan ilmu yang membuat jiwa mendewasa? Atau untuk mendapat nilai IPK yang tinggi sehingga mudah mencari kerja?

Pada dasarnya, nilai yang didapat bukanlah pemberian dosen, tapi sejatinya torehan pemahaman diri akan ilmu yang meresap dalam kalbu dan kesungguhan serta etika dalam berguru. Dirilah yang mengukirnya. Maka jika ada yang diberikan waktu mengulang mata kuliah tertentu itu adalah konsekuensi dari apa yang kita putuskan. Untuk tidak bersungguh-sungguh, untuk tidak fokus, untuk merasa tidak ada gunanya. Sungguh, tak ada yang sia-sia. Jika memang (merasa) salah langkah, putuskanlah segera untuk belok kiri di persimpangan atau terus melangkah hingga akhir tujuan.

Sejatinya, satu sisi dari nilai yang kita dapatkan dalam lembar KHS adalah bahan evaluasi, bahwa ada yang harus diperbaiki dalam diri. Bukan orang lain yang harus dituntut untuk memaklumi atau dimaki-maki. Bukan ‘mengakhiri’ sebagai ujung dari depresi.

Sejatinya, mengulang seperti latihan kembali sebelum terjun ke medan perang. Dan dosen, seperti seorang komandan, hanya melatih lalu menilai apakah pasukannya sudah siap dan layak tempur atau tidak.  Tak elok bukan, belum mahir gunakan senjata dan beladiri, dikomando untuk bertempur melawan musuh. Resiko luka parah babak belur, bahkan bisa jadi pulang tanpa eh hanya nama. Bahaya!

Yakinkan diri, yakinilah, bahwa mengulang bukan akhir segalanya. Seringkali dalam percobaan, dibutuhkan pengulangan untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Pastinya saat latihan, pengulangan membuat diri jadi lebih terampil. Selalu dalam menghafal Al Qur’an, pengulangan membuat ayat-ayat jadi lebih melekat. Kadangkala dalam perkuliahan, pengulangan diperlukan untuk menjadi pelajaran dan memberi kesempatan diri jadi lebih baik dari sebelumnya.

Yakinkan diri dan yakinilah, bahwa mengulang bukan akhir segalanya. Terlambat dari yang lain karena harus mengulang bukanlah kegagalan. Mereka yang gagal adalah yang memutuskan untuk berhenti melangkah.

Catatan: Ada kalanya mengulang bukan karena salah pada diri, tapi karena dosen yang perlu dievaluasi (bahkan diganti). Tetap saja, kehendak Allah senantiasa baik. Yakinlah, Allah Maha Melihat dan Menghendaki kebaikan untuk kita.