Save me from myself

I want it all
I want it now
Forget about the consequences
I know that it’s bad, it’s better to wait
But sometimes I can be selfish
And the only sound I hear is right now
And all my patience gets locked out
I know that it’s wrong
And I want to change
I need You here with me

Chorus:
Allah, Allah, Allah
Save me from myself
Allah, Allah, Allah
Lord I need Your help
Allah, Allah, Allah
Save me from myself
Allah, Allah, Allah

Big lights pull me in every time
And it’s so hard to break a pattern
But I see it clear, what’s deep inside
Is the only thing that really matters
So tell me how, how to turn it around
Before my senses hit the ground
‘Coz I know that’s it’s wrong
And I want to change
I need You here with me

CHORUS

Save me from myself
‘Coz I tripped and fell
And there is nothing, nothing
that I won’t do
Oh, save me from myself
‘Coz I need Your help
And now I’m running, running
Back to You

Writers: Maher Zain, Paddy Dalton, Moh Denebi, Bara Kherigi

Penerimaan (diri)

Ini bukan tulisan saya. Saya copas dari status FB seorang saudari. Saya tulis ulang di blog ini sebagai reminder diri. Terimakasih Dani Wadiandini 🙂

———————————-

Dunia tidak selalu bereaksi seperti yang kita inginkan. Sekeras apapun kita berusaha, sepanjang apapun kita menghabiskan waktu untuk memenangkannya, sebaik apapun kita bekerja, tidak semuanya kembali seperti yang kita inginkan.

Masing-masing orang punya cara mereka sendiri untuk menganggapi kita. Dan tidak semuanya kita senangi. Seperti kita punya cara sendiri untuk menanggapi mereka, dan tidak semuanya menyenangi itu.

Masing-masing orang punya standardnya sendiri. Itu kenapa banyak orang bertanya bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik, namun tetap dinilai kurang.

Jangankan di dunia orang dewasa, di lingkup anak-anak saja, dunia seringkali tidak ramah. Seorang anak bisa saja sudah belajar keras, berusaha hebat, tetap saja dinilai kurang oleh guru dan orang tuanya.

Kita tidak hanya butuh niat baik dan usaha keras untuk dapat disukai. Kita juga butuh sikap setuju dengan mereka, sehingga kita disenangi oleh mereka. Lalu tanpa sadar, kita main politik kecil-kecilan, menyimpan semua ketidaksetujuan.

Akhirnya, sebagian dari kita terbiasa dengan pengacuhan, penolakan, penghinaan, dan perendahan. Ya wajar, namanya juga kita mengalami banyak bab hidup.

Kata seseorang, sepanjang kamu sudah berusaha maksimal, apapun hasilnya, biarkanlah. Karena satu-satunya yang tidak menilai kita dari hasil, tapi dari usaha yang sudah kita berikan, hanyalah Tuhan.

Pada level apapun, dimanapun kita berada, bersama siapapun kita berdiri, di usia berapapun kita, dunia selalu punya cara untuk mengintimidasi kita. Memaksa kita untuk jatuh dan menyerah.

Lalu kita bersedih dan berhenti bahagia. Kita menggantungkan kebahagiaan pada penerimaan orang lain. Kita mengatakan beriman, tapi kenyataannya kita merasa bergantung pada orang lain.

Dunia tidak akan berubah hanya karena kita protes. Kita ini bukan apa-apa. Yang harus dirubah adalah sudut pandang kita tentang kebahagiaan dan penerimaan. Kebahagiaan bukan tentang bagaimana orang lain menerima dan menolak kita. Kebahagiaan adalah tentang bagaimana kita menerima diri sendiri.

Jakarta, 20 Agustus 2015

Pembangunan (syukur) yang berkelanjutan

Menjadi pribadi yang selalu bersyukur itu tidak (selalu) mudah. Ada saja cobaan, gangguan dari setan yang terkutuk, untuk menggelincirkan manusia dari taat pada Allah yang telah begitu banyak memberikan rizki berlimpah – apa-apa yang kita butuhkan – meski kadang kita sendiri tak pernah memintanya. Seperti udara, jantung yang masih berdetak, matahari yang masih bersinar terang pagi ini – pagi yang kesekian milyar kali.

Baca lebih lanjut

Lost

 

(Picture Source: http://www.acclaihmimages.com/_gallery/_image_pages/0041-1201-0511-3920.html)

 

When you’re in a cross sections, don’t know where to turn, the first thing to be assured is don’t get lost and lose your self.
Stay where people can still see you. hold the map, look for directions, there are chances people around you would show you the way.
Be aware of surroundings, there might be signs.
Last but not least, let Him lead you the way to the right place where you belong.

Percayalah, Allah Maha Mendengar.

(Qisthi, 2012)