(Tidak) Ada yang Sempurna

“Tidak ada pantai yg sempurna,” kataku berusaha memupus keraguanmu untuk bermain air di pantai keempat yang kita temui. Matahari sudah semakin terik, kita sudah sampai di sini dan tak punya waktu untuk mencari yg lebih baik dari ini. “Ayo lari!” dan kakimu mantap mengejar langkahku. Di sisi kanan ombak datang dan pergi sambil membawa dedaunan panjang berwarna hijau kehitaman, kita berlari mencari tempat yang lebih ‘sepi’ dari hempasan ‘rumput laut’, sambil tertawa bersama deru angin.

“Kenapa tidak ada pantai yg sempurna? Pantai yang pertama tadi sebenarnya paling asyik, tapi ada anak-anak penjual gelang yang mengganggu… di pantai kedua ombaknya terlalu besar, pantai ketiga ada kepiting kecil, dan di sini banyak rumput lautnya,” katamu saat kita berhasil memanjat bukit Seger, duduk menghadap pantai dan laut lepas di bawah sana. Nada suaramu masih menyisakan kecewa. Aku kira kata-kataku tentang itu sudah hilang dibawa ombak ke tengah laut lepas saat kita asyik bermain air dan pasir pantai. Ternyata ‘melupakan’ (memang) jauh lebih sulit.

“Karena tidak ada yang sempurna di dunia. Yang sempurna adanya nanti, di surga… Apa yang ada di dunia ini (mungkin) hanya satu persen dari kenikmatan yang ada di surga,” kataku berusaha memperbaiki rasa. Kau diam. Entah mengerti atau tidak.

Aku berharap kau tidak melupakannya dan kelak masih mengingatnya. Kelak, kau akan memahaminya. Dan semoga kita Diizinkan memasuki surga-Nya.

Your ticket, please?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s