Menyapa

Hari ini aku melihat seseorang di toko perlengkapan bayi. Sosoknya seperti senior pembina paskibra tiga belas tahun lalu saat SMA dulu. Apa benar itu dia? Ingatanku parah sekali. Mungkin aku kenal wajah dan perawakan seseorang, tapi sungguh untuk urusan mengingat nama aku bisa dapat nilai F jika hal seperti ini ada ujiannya.

Dia sedang membayar di kasir, tiga kaleng susu ibu menyusui (sepertinya untuk istrinya yg baru melahirkan), sementara aku duduk menunggu bingkisan hadiah lahiran seorang kawan yg baru saja kubeli selesai dibungkus karyawan toko. Coba kuingat-ingat lagi siluet wajah lelaki itu, sepertinya memang iya. Aku mencoba tersenyum saat si ia sepintas melihat ke arahku, buru-buru kutundukkan kepala sambil berpikir, malu sekali rasanya. Apa harus aku yg menyapa lebih dulu? Betapa malunya kalau aku salah orang.

Ah, kalaupun itu benar, aku sangsi ia masih mengingatku. Sadar diri kalau dulu aku tak sepopuler teman-temanku dan cenderung pendiam. Mbak-mbak karyawan toko menyodorkan bingkisan yg sudah cantik terbungkus rapi. Aku ucapkan terimakasih dan bergegas pergi.

“Hey, sombong sekali kamu!!” satu teriakan mengagetkanku yg tengah mengambil posisi duduk dan menutup pintu mobil. Aku menoleh, lelaki yang tadi?! Ia di samping motornya melihat ke arahku. Aku bengong. Aku kah yg dimaksud? Dan sekali lagi kudengar ia berteriak. “Hey, sombong sekali kamu sekarang ya?!”. Wahaha, rupanya ia masih ingat kalau aku juniornya (?). Bergegas aku turun dari mobil dan mendekatinya. “Maaf kak, tadi saya mau menyapa tapi takut salah orang.” Dia tertawa renyah, masih seperti dulu. Tatapan matanya dan pembawaannya juga tidak berubah, hangat seperti matahari. Yang pasti bukan matahari musim panas, itu terlalu menyengat (apasih?).

Ternyata prasangkaku meleset, ia masih ingat namaku bahkan. Padahal sampai sekarang aku masih lupa namanya siapa. Aih, kepalaku ini kalau bisa ingin diganti sparepart-nya. Tebakanku yg satunya ternyata benar, ia habis membeli susu untuk istrinya yg baru saja melahirkan 15 Agustus kemarin. Wah, dua hari lagi pas hari kemerdekaan. Kebetulan yg sangat membahagiakan seorang (mantan) paskibra kalau anaknya bisa lahir tepat di tanggal itu. Tapi ya, lahir kapanpun, yg lebih penting anak dan ibunya sehat. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk seorang ayah. Bukankah begitu?

Yang kusadari dari pertemuan tak disangka ini, ternyata waktu tidak akan merubah orang yang benar-benar tulus. Orang-orang berhati baik akan tetap menjadi orang baik, tak perduli apapun latar belakang agama-suku-budayanya. Dan untuk orang-orang berhati tulus seperti itu aku berharap Tuhan selalu menjaga hatinya untuk mencintai kebaikan dan berjalan menujuNya, sumber dari segala kebaikan. Semoga begitu juga untuk hatiku.

Tiba-tiba aku terpikir tentang kamu. Hey, kita berpisah sudah lama sekali, lebih dari tiga belas tahun! Aku yakin dulu kita pernah bertemu sebelum terlahir di bumi yg dihuni milyaran manusia ini. Katanya, orang-orang yg berjodoh akan dipertemukan dan saling mengenali. Karena hati mereka memancarkan frekuensi yg sama. Jika berbeda, pada akhirnya mereka akan memilih menjauh. Apakah salah satunya atau keduanya.

Apakah aku akan dapat mengenali sosokmu saat kita pertama kali bertemu? Apakah kamu juga akan ingat? Aku ragu, takut salah mengenali. Karena sekali lagi kukatakan, aku ini sungguh pelupa yg sangat kronis.

Pada akhirnya, mungkin aku benar-benar merasa mengenalimu, tapi aku akan memikirkan berulang kali untuk menyapamu lebih dulu. Karena seperti kebanyakan orang, aku takut kalau kenyataan tidak seperti yg diperkirakan.

Jika melihatku seperti itu, akankah kau menyapaku lebih dulu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s