Renumerasi

Renume. Bukan Remune. Ya, dua-duanya berakhiran ‘rasi’. Tapi ini bukan tentang rasi bintang atau bahkan te-rasi. Ini cuma satu cerita lucu yang saya alami tadi siang.

Ceritanya saya ditugaskan ibu membayar pajak mobil tahunan. Tempatnya di kantor SAMSAT. Saya pergi ke sana dengan membawa fotokopi BPKB, KTP asli (ibu), dan STNK asli sesuai yang dikatakan petugas informasi SAMSAT sehari sebelumnya, langsung menuju loket Perpanjangan Satu Tahun. Cuma sekali saya pernah ke sana untuk membayar pajak mobil, itu dua tahun lalu. Sudah lama sekali, jadi saya tidak begitu ingat prosedurnya. Saya berharap petugas di sana akan lebih komunikatif kepada saya yang pelupa ini, tapi harapan tinggal harapan. Yah, mungkin saking sibuknya, jadi minim senyum dan kurang ‘bicara’.

IMG_20150514_063211

Setelah menyerahkan semua berkas tadi, petugas yang berupa seorang ibu paruh baya, memberikan saya nomor antrian dan meminta saya untuk menunggu hingga dipanggil. Saya pun siap sedia, tidak banyak bicara, langsung duduk di kursi tunggu. Menunggu. Ya menunggu dipanggil oleh entah siapa nanti yang akan memanggil saya. Sepertinya sih petugas di loket ini yang akan memanggil saya untuk memberikan sesuatu formulir beserta kuitansi berisi nominal uang yang harus dibayarkan, lalu mengarahkan saya ke kasir. Begitu menurut yang saya baca di web. Itu pengalaman orang lain. Dan bukan di tempat ini juga kejadiannya. Bisa jadi benar, bisa jadi tidak sesuai.

Jadilah saya sabar menunggu selama lebih dari 30 menit. Untung ada sahabat-sahabat saya yang menemani saya menunggu. Mereka di mana? Ada yang di Bandung dan satu lagi di Jakarta. Gak mungkin? Bisa lah. Hehe. Mereka menemani saya via grup WA saja kok.

Saya sempat melirik brosur informasi yang diletakkan berdiri di meja loket tadi, ke bagian yang isinya menginfokan bahwa pelayanan (akan) memakan waktu 30 menit (saja). Lah, saya sudah 30 menit lebih. Tampaknya harus bertanya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat 5, rapat di kampus sebentar lagi.

Terkejutlah saya ketika sampai di loket. Ketika saya bertanya ke petugas, yang kini beralih menjadi bapak-bapak paruh baya, “maaf pak, nomor antrian ini sudah dipanggil belum ya?”, petugas langsung menjawab, “oh itu nunggunya jangan di sini, langsung di kasir”. Gubrak! Kenapa gak dari tadi saya dikasih tahu??

Saya pun bergebas ke kasir yang jaraknya 3 loket dari loket tadi. Salah sendiri lah, gak nanya dari tadi (toyor-toyor dahi sendiri). Ah, kamu mah terlalu positive thinking atau terlalu polos? (ngomong sama kaca).

Dan sampailah saya di loket kasir dengan pertanyaan yang sama. Petugas kasir langsung merespon dengan mengambil berkas nomor 86, sesuai nomor antrian dan tahun lahir saya (kebetulan banget nih. Apa sih? Abaikan info tidak penting ini). Ternyata itu berkas sudah ada sejak tadiii. Aih! Ya jelas, saya di mana, dipanggil juga gak akan kedengeran lah, kecuali kalau pakai pengeras suara. Heu.

IMG-20150513-WA0000

“Bayarnya satu juta seratus sembilan puluh tiga, mbak.. yah, satu juta dua ratus lah,” kata petugas kasir. Otak saya langsung berpikir sistematis ala anak teknik cap gajah duduk, tangan saya mengambil uang 50-ribuan sebanyak 20-lembar dan seribuan-logam satu-biji dari dompet. Nah, kembaliannya kan nanti dapat 800 rupiah toh? Pikir saya polos (lagi-lagi).

Ternyata petugas kasir menegur saya kalau si uang kurang 200. Lah? saya masih belum loading. Bener kan? “Mbak, bayarnya satu juta dua ratus. Uangnya tadi berapa?”, tanya pak petugas kasir. “Satu juta seribu,” jawab saya polos. “Iya, uangnya kurang 200ribu lagi, mbak!”.

Oalaah. Ngobrol atuh pak dari tadi kalau saya harus bayar satu juta seratus sembilan puluh tiga ribu! Jangan dihilangkan pengucapan nol-nya sebanyak tiga biji itu. Bingung lah saya. Wkwkwkwk. Macam renumerisasi saja.

Ternyata oh ternyata renumerasi sudah berlaku lebih dulu di Pulau kecil ini, Lombok. Saya baru tahu dari ibu, kalau di sini seribu-lima itu artinya seribu-lima-ratus, bukan 1000 dapat 5 biji! Bahkan uang logam 200 rupiah tidak ada nilainya lagi di pasar-pasar, bagi pedagang keliling, pengamen dan tukang parkir. Di pulau ini, kecuali departemen store atau toko macam alf*/ind*maret, semua sudah sepakat menolak logam 200 rupiah! Ahaha, alangkah lucunya pulau ini.

Iklan

1 Comment

  1. Ping balik: Salah | 37degree

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s