Terbatas

Hari itu, aku capek sekali, tapi ia datang melemparkan setumpuk buku ke atas kasur dan mulai bicara panjang lebar. Kuberikan sebelah telingaku untuk menampung kata-kata yang meluncur dari mulutnya, sementara sebelahnya kubiarkan asyik dengan lantunan lagu Maher Zain yang diputar di laptop. Jariku masih khusyuk menari-nari di atas keyboard, mengerjakan thesis yang belum selesai.

“Kesimpulan yang aneh. Logikanya terbalik. Seperti ilmuwan yang bertekad pergi mencari ujung langit untuk menemukan Tuhan, tapi tidak ketemu juga ujungnya sampai sekarang. Dan di atas langit itu pun, yang katanya harusnya ada Tuhan tinggal, tidak ada Tuhan ia temukan. Maka ia simpulkan, Tuhan itu tak ada.” 

Topik yang menarik, pikiranku melayang meninggalkan si thesis dan mencari file dalam arsip ingatanku tentang satu artikel mirip seperti yang sahabat baikku ini sedang ceritakan. “Oh, aku tahu, seperti ilmuwan lain yang berhipotesa bahwa semua makhluk di dunia ini, bahkan terbentuknya alam semesta adalah terjadi begitu saja, tidak ada campur tangan Tuhan. Haha, aku jadi berfikir kalau dulu itu, tiba-tiba saja atom-atom berkumpul dan saling berikatan membentuk molekul yang bernama air. Koordinasi yang hebat dan sempurna! Dan tidak ada saling berebutan kursi, mereka bijak sekali. Eh, tapi apakah atom-atom itu dapat berpikir dan memiliki kebaikan hati? Menarik… dan itu bisa jadi, tapi itu hanya mungkin di film animasi, tentu saja.” 

Sahabat baikku semakin tergelak. Ia tambah semangat untuk masuk ke bagian yang paling penting dari curhatannya. “Ya, seperti itu. Kemudian satu pernyataan yang lebih mengusik lagi; Tuhan, katanya, memberi yang manusia butuhkan bukan yang kita inginkan. Kesimpulannya? Kekuasaan Tuhan terbatas. Pernyataan ini sebenarnya menjebak masuk ke dalam labirin pemikiran yang membingungkan, kalau salah-salah mencernanya. Ah, anak-anak kelas filsafat itu, kasihan sekali mereka…”

Sekarang aku mulai memutar tubuhku ke arahnya dan semakin serius untuk ikut menanggapi ceritanya. Kalau laptop dan thesisku bisa bicara, mungkin mereka sudah mulai berteriak marah-marah karena cemburu ditinggalkan sendirian. “Iya, aku juga kasihan dengan mereka. Tapi, itulah mungkin pencarian mereka akan hakikat Tuhan, kita doakan saja Tuhan memberi mereka hidayah. Dan kita mestinya bersyukur, karena jalan pikiran kita masih dijaga kelurusannya oleh Tuhan. Kita ini, gak ada apa-apanya kalau tanpa Penjagaan Tuhan.”

Sahabatku mengangkat kedua tangannya di depan dada, aku juga, kami sama-sama mengucap “Alhamdulillahhirobbil ‘alamiin…”, kemudian ia segera melanjutkan lagi. “Kamu tahu, logika mereka memang sudah terbalik. Aku sudah jelaskan pada mereka, kalau Tuhan itu bukannya terbatas, tapi manusia lah yang terbatas. Dan karena keterbatasan manusia itulah, Tuhan dengan sangat bijak, sudah menakar porsi yang pas untuk kita, terhadap apa-apa yang kita butuhkan. Keinginan manusia yang tak terbatas, bisa sangat mencelakakan. Apapun yang berlebihan dan tidak pada tempatnya akan membawa kita pada kehancuran. Dan karena kasih dan sayang Tuhan lah, apa yang kita butuhkan selama ini, selalu Tuhan cukupi dengan dosis yang tepat. Tidak kurang, tidak lebih.”

“Ya, aku setuju sekali denganmu. Kekuasaan Tuhan sangat tak terbatas, tapi ketika tampungannya terbatas, maka akan berbahaya sekali kalau dipaksakan untuk menampung semuanya.”

“Tapi ya yang namanya manusia itu memang rakus sekali. Selalu merasa tidak pernah cukup, kemudian ujung-ujungnya akhirnya menyalahkan Tuhan karena tidak memberi semua keinginannya.”

“Ya, begitulah. Semoga kita terjaga dari sifat seperti itu. Ada doa yang sangat bagus, tentang ini”

“Apa? Bukan doa minta jodoh kan?” Ia terpingkal-pingkal.

“Ahaha, lebih baik dari itu, kamu mau tahu?”

“Tentu saja!” Ia merapihkan posisi duduknya sambil mengambil buku catatan. Ini memang salah satu hobinya, karena ia bercita-cita jadi seorang jurnalis, jadi harus membiasakan mencatat hal menarik apapun yang ia temukan dalam notes kecil miliknya.

“Ini dia doanya:’Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan*’”

“Aaaamiiiiin”

“Nah, aku sudah harus kembali ke laptop sekarang. Belikan aku nasi goreng ya. Laper nih.” Aku menyodorkan selembar uang berwarna hijau ke arahnya, “Buat dua porsi ya. Jangan pedes-pedes!”

“Oke bos!” 

Ia beranjak keluar kamar. Kini sepi hanya tinggal aku, laptop, dan thesisku yang sudah tidak lagi marah-marah. Eh, tapi sekarang giliran perutku yang marah-marah. Sabar sebentar ya, kalian main musik jazz dulu saja #karenakeroncongansudahterlalumainstream

*HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s