Pembangunan (syukur) yang berkelanjutan

Menjadi pribadi yang selalu bersyukur itu tidak (selalu) mudah. Ada saja cobaan, gangguan dari setan yang terkutuk, untuk menggelincirkan manusia dari taat pada Allah yang telah begitu banyak memberikan rizki berlimpah – apa-apa yang kita butuhkan – meski kadang kita sendiri tak pernah memintanya. Seperti udara, jantung yang masih berdetak, matahari yang masih bersinar terang pagi ini – pagi yang kesekian milyar kali.

Menjadi pribadi yang selalu bersyukur ternyata memang tak mudah. Manusia ternyata tak bisa hanya mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menjadi muslim yang istiqomah. Manusia itu lemah, butuh bergantung pada Allah, meminta dipinjamkan sedikit kekuatan dari-Nya agar bisa tetap taat di jalan-Nya.

Dari berdo’a itulah kita akan dikaruniakan hati yang bersyukur – merasa cukup akan apa yang diberikan Allah (pada diri kita dan kedua orang tua, jalan lahir kita ke dunia) dan bagaimana bisa memanfaatkan rizki itu sebaik-baiknya (melakukan berbagai amal kebajikan) di jalan yang Allah ridhai – berikut ini satu doa yang diajarkan Allah SWT dalam kitab suci-Nya:

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim.” (Al Qur’an Surah Al Ahqaf (46): 15)

Menariknya, dalam ayat ini, kita diajarkan untuk berdo’a tidak hanya untuk diri sendiri (saat ini) saja, tapi juga berdo’a untuk anak cucu kita di masa mendatang. Dalam do’a ini, tersadar begitu banyak dosa yang telah dilakukan, maka tobat menjadi satu syarat terkabulnya apa yang diminta. InsyaAllah.

Ini do’a syukur yang berkelanjutan. Do’a yang nantinya akan terus menjaga keshalehan penerus-penerus kita, generasi yang akan datang, di mana tongkat estafet kehidupan akan kita berikan. Doa yang telah terbentang dari 14 abad yang lalu (dipanjatkan oleh para nabi dan orang-orang sholih terdahulu) dan akan terus berlanjut sampai nanti, di akhir masa. Semoga mengantarkan kita sampai ke surga-Nya, dan kita dapat menatap ‘wajah’ yang paling indah, Allah yang Maha Pencipta. Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin.

Do’a ini juga, salah satu pedoman bagi kita yang mengaku muslim dalam mengelola bumi ini. Sangat menarik, dalam do’a ini ternyata tersurat konsep Sustainable Development (Pembangunan yang berkelanjutan). Apa yang dimaksud dengan pembangunan menurut saya sepaham dengan arti kata syukur. Apa-apa yang ada di bumi (air, tanah, tanaman, hewan, energi, termasuk manusia) adalah rizki yang Allah berikan untuk manusia. Rizki inilah yang harus disyukuri dengan cara memanfaatkan (melakukan amal kebajikan yang diridhai Allah) sebaik-baiknya untuk membangun kehidupan yang lebih baik (kebaikan pada saat ini) dan memastikan bahwa kebaikan tersebut dirasakan juga oleh generasi yang akan datang (anak cucu kita).

Subhanallah ya! Dengan ini, terbukti sudah, bahwa Al Qur’an memang ‘buku petunjuk’ bagi manusia yang benar-benar asli dari Tuhan Semesta Alam.

Sungguh-sungguh sedikit sekali ilmu kami dibandingkan ilmu-Mu, ya Allah. Asyhadualla ilaaha illallaahu, wa asyhadu annaa muhammad rasulullaah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s