Anak-anak (kucing)

Ada tiga anak kucing di rumahku. Harusnya empat, eh lima. Satu mati, tewas diterkam kucing tetangga. Satunya mati juga, setelah 3 hari bertahan hidup tanpa di-keloni mbok (baca: ibunya). Tiga anak kucing yang tersisa namanya Topi dan Tipo (warna bulunya belang hitam putih) serta Piti (satu-satunya yg perempuan, warna bulunya mirip ibunya, hitam. Persis saudara kembarnya yg tewas, si Poti).

Si Topi paliing manjaa. Suka banget tidur di pangkuan. Ini juga, pas lagi ngetik di depan laptop, dia seenaknya manjat dan nyari tempat di pangkuan dan nemplok di lengan kanan saya (untung masih 4 bulan, masih ringan badannya, jadi gak pegel). Selain itu, paling suka loncat ke atas meja makan dan tidur seenaknya di atas tutup makanan (yang dipasangin ‘baju’). Β Dia kira itu tempat tidur apa? -_____-

Si Tipo paling ganteng. Paling bersih. Bulunya lebih banyak putih dibanding hitamnya. Bulunya haluss banget. Paling rajin ‘mandi’ kayaknya. Beda banget sama si Piti, yg paling mirip ibunya, Pita. Bulu Piti paling tipis, dia juga paling sering gak (di)mandiin sepertinya sama si Pita. Kalau saja si Poti masih hidup, dia yg paling lucu, karena di sekeliling mulutnya ada lingkaran putih dan kakinya pakai kaus kaki πŸ˜€ (bulu kaki hitam, tapi putih di ujungnya).

Satu anak kucing lagi bukan anak si Pita, tapi anak si Mbok (ibunya si Pita). Sudah lama gak melahirkan dan punya anak, si mbok tiba-tiba lahiran. Cuma satu anak (aneh, biasanya kan kucing kalau lahiran rombongan, 3.. 4.. 5) dan belang tiga. Warna bulunya coklat-putih-hitam. Yang lebih aneh lagi, si Mbok sejak lahiran gak mau ngemongin si Belang sama sekali. Padahal tuh bayi kucing butuh minum asi dan dikelonin biar badannya hangat. Eh, si Mbok malah kayak alergi gitu deket2 sih Belang. Disodorin si Belang, dia langsung lari terbirit-birit (kayak ngelihat hantu! Emang kucing ngerti hantu yak?)

Hari pertama si Belang lahir dia eaa-eaa seharian, manggilin si Mbok kali ya? Sedih dan merana banget ngelihatnya. Kehausan pisan dan menggigil banget badannya. Ibu dan mbak berusaha ngasih minum susu formula, biar Belang gak kelaparan. Tapi apa daya, Belang masih belum mengerti apa itu susu dan gimana cara minum (kayak gaya minum manusia). Parah nih, si Mbok, anak sendiri gak mau diurusin. Apa dia kaget, apa tuh istilahnya, blue baby syndrom.. kondisi psikologis dimana sang ibu gak siap nerima kehadiran seorang bayi. Oalah, kucing bisa juga kena syndrom beginian ya?

Atau jangan-jangan, mitos itu benar, yang katanya kalau kucing melahirkan anak kucing belang tiga dan kelaminnya laki-laki biasanya gak akan dibiarkan hidup sama induknya. Entah apa alasannya. Ada yang bilang, begitu lahir langsung digigit sampai mati sama induknya sendiri. Ada yang ditelantarkan begitu aja, gak mau diurus sama sekali. Lho, kayak si Belang banget ini, kasusnya. Tapi jenis kelaminnya si Belang belum bisa dipastikan apa. kalau mitos itu benar, si Belang jangan-jangan kelaminnya laki-laki!

Ah, masa sih, ada yang tega membunuh anaknya sendiri di kalangan hewan? Kalau di kalangan manusia sering kita dengar berita aborsi, entah karena alasan ekonomi atau cuma malu kalau aib hamil di luar nikahnya jadi tersebar. Na’udzubillahhimindzalik. Bukankah sering dibanding-bandingkan kalau “harimau saja tak akan menerkam anaknya sendiri”, masakah manusia tega berbuat keji pada anaknya sendiri? Ternyata, ada juga hewan yang mengabaikan anaknya sendiri, seperti kasus si Mbok dan Belang.

Hewan juga, bisa jadi tak berperasaan ya. Eh, apakah hewan punya perasaan seperti manusia? Bukannya mereka cuma punya insting (naluri) hewan saja?

(bersambung)

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s