‘Lolos’ Ujian SIM A

Sudah 10 kali ini saya mulai berani bawa mobil sendirian, pp, tanpa ditemani om saya. Sepuluh kali privat setir mobil lagi dengan Om, saya ‘nekat’ bawa si Geeva sendirian padahal masih belum punya SIM A. Sebenarnya ada, tapi sudah habis masa berlakunya tahun 2011 kemarin. Biar lebih tenang bawa si Geeva saat melintas di depan pos polisi (jangan sampai kena tilang karena gak bawa SIM, hehe) saya putuskan untuk sesegara mungkin membuat SIM A yg baru.

Hari 1; registrasi awal-cek kesehatan

Pergilah saya ke Satlantas Polres Kota tempat saya berdomisili (Mataram) dengan mengendarai mobil (tanpa SIM lagi :p). Ramai juga ternyata warga yg antri hendak membuat SIM hari itu. Langsung saja saya mencari di mana letak loket registrasi, setelah mambaca diagram alur proses pembuatan SIM yg terpampang besar di dinding.

Ada tiga orang petugas jaga saat itu. Seorang mbak2 di paling kiri, tampak dari bank, yg menurus keuangan dan dua orang bapak berpakaian polisi yg sepertinya mengurus administrasi. Pada seorang petugas polisi saya bertanya perihal SIM saya yg sudah lewat setahun lebih dari masa kadaluwarsanya. “Harus bikin SIM baru”, kata pak polisi.

Sudah saya persiapkan sebelumnya, berkas yg dibutuhkan untuk membuat SIM A baru, berupa 1 lembar fotocopy KTP dan surat keterangan sehat (berdasarkan link yg saya lupa sourcenya -___-). Ternyata sesampainya di loket registrasi, pak polisi menyuruh saya membuat surat keterangan sehat lagi di dokter yg sudah dtunjuk, dr. Dian namanya. Padahal berdasarkan satu sumber, kalau sudah ada SK sehat dari dokter lain, gak perlu buat yg baru.

Praktek dr. Dian kira-kira 200 m dari Satlantas. Jalan ke arah selatan satlantas kira-kira 100 m lalu nyebrang. Lanjut jalan lagi 100 m ke arah timur sampai menemukan klinik kecil di sebelah kanan jalan (ini dia kliniknya).

Untuk membuat surat keterangan sehat ternyata butuh 2  lembar fotocopy KTP dan biaya Rp 30.000. Jangan bingung dengan sistem antriannya. Kumpulkan saja fotocopy KTP di meja dokter dan nanti akan dipanggil sesuai urutan pengumpulannya. Pemeriksaannya sederhana saja, cuma tes buta warna (melihat angka dalam tebaran lingkaran kecil warna warni) dan ditanyai berapa tinggi dan berat badan. Yang bikin saya tertawa geli adalah isian tekanan darah yg ditulis sendiri oleh petugas kesehatan yg duduk di samping bu dokter, tertulis 120/80 mmHg (padahal saya gak diukur tensi-nya sama sekali) :))).. ckckck.. cuma formalitas saja ternyata (lihat di sini).

Setelah mendapat SK sehat saya langsung menuju loket registrasi sebelumnya, mendapati pak polisi yg sama, sedang berbicara dengan pengaju SIM lain. “Pak, silahkan membuat SK sehat di dokter dian dulu, lalu difotocopy 2 lembar ya,” kata si pak polisi yg membuat saya geleng-geleng kepala. Saya belum fotocopy itu SK, kenapa coba tadi gak sekalian dikasih tahu. Ah, coba tanya dulu saja, “Pak, ini saya sudah dapat SK sehatnya. Saya mau buat SIM A baru,” kata saya yg langsung dijawab si pak polisi, “Oh ya, ini diisi dulu formulirnya, biayanya Rp 100.000. Ini nomor antriannya (41), tunggu aja, nanti dipanggil”. Wah, murah ya, batin saya. Btw, kok saya gak diminta fotocopy itu surat sehat? (krik.. krik..) Ya sudahlah.

Saya serahkan uang administrasi yg diminta lalu segera mengisi form (seperti di bawah ini). Setelah terisi semua, saya serahkan kembali pada pak polisi tersebut. Kekagetan selanjutnya terjadi saat nama saya dipanggil oleh petugas yg lain, polisi juga, yg duduk di samping polisi sebelumnya. “Ini mau buat SIM A ya?”, tanyanya. “Iya, pak.” Wajah saya kebingungan, sepertinya ada masalah.

Petugas perempuan di sebelahnya menimpali, “Untuk membuat SIM A harus dilengkapi sertifikat dari kursus mengemudi”. Hah? Spontan saya kaget, masih gak ngerti maksudnya apa. “Sertifikat mengemudi? Jadi saya harus ikut kursus mengemudi, begitu?” Masa saya harus kursus lagi, sementara saya sudah bisa? Pikir saya dalam hati. “Tanya saja nanti di kursus mengemudinya, nanti dijelaskan prosedurnya. Gak harus ikut kursus lagi,” kata petugas yg satu lagi, sedikit menenangkan hati saya. “Nanti kalau sudah lengkap, ke sini lagi ya,” kata petugas yg lain, sambil menyerahkan kembali uang beserta formulir dan kelengkapan lain yg tadi saya kumpulkan.

Hari 2; sertifikat kursus mengemudi

Esoknya saya menemukan kursus mengemudi yg seharian kemarin saya cari-cari tapi gak ketemu, Dian’s. Ternyata untuk mendapat sertifikat ini memang tidak harus ikut kursus lagi (Kebetulan pula tahun 2006 saya pernah kursus mengemudi di lembaga kursus ini).

“Meski mbak pernah kursus di sini, kami tidak bisa mengeluarkan sertifikat yg dulu lagi karena sekarang sistemnya menggunakan sertifikat yg menggunakan nomer seri,” jelas si mbak panjang lebar. “Jadi kalau saya mau buat lagi, jadinya kapan dan berapa biayanya?” tanya saya. “Bisa jadi sekarang, karena tinggal ditulis saja. Biayanya Rp 120.000,” (ckck, bayar lagi ternyata). “Ok, tolong buatkan satu sertifikat ya, mbak. Perasaan di internet saya lihat gak ada syarat seperti ini,” selidik saya penasaran. “Memang begini, mbak. Pas masuk polres kan ada pengumumannya. Itu peraturan baru dari polri katanya.” Ooh, saya manggut-manggut sambil menyiapkan uang.

Ternyata benar, tak sampai 5 menit, sertifikat itu sudah ada di tangan saya dan saya pun bergegas ke satlantas, yg ternyata sudah tutup. “Hari ini jum’at, sudah tutup jm11. Besok buka lagi mulai jm8,” jawab mbak keuangan yg saya tanyai.

Hari 3; registrasi ulang-foto-ujian-lolos!

Hari ketiga proses perburuan SIM, dokumen sudah lengkap. Tak lupa saya fotocopy juga si sertifikat kursus mengemudi dan SK kesehatan yg belum sempat saya copy kemarin. Saya datang lebih pagi dari sebelumnya dan langsung menuju loket registrasi. Saya serahkan map berisi dokumen dan uang Rp 120.000 (bukan Rp 100.000 ternyata) dan mendapat nomer antrian baru (27). Menunggu sekitar 15-20 menit, nama saya akhirnya dipanggil masuk ke ruang Foto SIM (loket 4) untuk di-‘ambil’ sidik jari, foto, dan tanda tangan oleh petugas. “Langsung ke ruang ujian teori ya,” kata bapak petugas foto sambil menyerahkan map saya.

Tanpa menunggu dipanggil, saya langsung masuk ke ruang ujian. Ujian SIM C sedang berlangsung ternyata. Seorang petugas polisi di ruangan tersebut menyuruh saya menyerahkan map dan keluar ruangan menunggu dipanggil. Saya duduk di kursi tunggu sambil membaca buku.

Sekitar 15 menit kemudian ujian selesai, nama2 lain termasuk saya dipanggil masuk ke ruangan. Ada 5 orang, kami bebas memilih duduk di mana. Saya duduk di kursi nomor 4 (hore, bulan lahir saya! gak penting, hehe). Petugas polisi memeriksa dokumen kami dan mencocokkan nomor kursi kami. “Ok, ini semua yg mau ujian SIM C, ya.” Lho, saya kan.. “Maaf pak, saya SIM A”. Si petugas kaget, segera mengecek dokumen milik saya, “Ok, mbak keluar dan tunggu dipanggil ya.” Lah?

Menunggu lagi 30 menit. Ternyata ini toh yg membuat orang2 banyak yg terkena rayuan calo; ngurus SIM dengan cepat dan mudah? Hubungi calo!. Saya rupanya salah satu yg gak terkena rayuan itu, alhamdulillah.

Tepat di depan kursi tunggu saya terpampang poster rambu lalu lintas. Ah, saya cek pengetahuan saya tentang marka jalan aja, siapa tahu ada yg keluar nanti di ujian. Duh, ternyata banyak yg gak saya tahu, khawatir gak lulus ujian teori nih. Di sebelah saya duduk seorang bapak, “Bapak mau ujian juga?” tanya saya. “Oh saya tinggal ambil SIM aja.”

Berhubung si bapak lowong, iseng saya tanya arti beberapa rambu. Alhamdulillah lagi, si bapak baik, menjawab dengan ramah. Meski saya gak yakin juga jawaban beliau benar atau salah :D. Beberapa saat kemudian, nama2 dipanggil ke loket pengambilan SIM, termasuk nama si bapak. Ketika si bapak melewati saya, hendak pulang, saya beri senyum ‘selamat ya pak’ (doakan saya lulus) dan dibalas senyum oleh beliau yg saya artikan sbg senyum ‘duluan ya’.

Tak ada lagi tempat saya bertanya, saya baca buku lagi saja. Seorang ibu dan seorang anak perempuannya berdiri di samping kursi tempat saya duduk, asyik mengobrol. Sepertinya habis ujian juga. Tiba-tiba si anak perempuan berkata, “itu yg ada terompetnya artinya marching band (gak boleh masuk)”, hah?! Ngakak ketawa dalam hati, serius nih, si mbak lebih parah daripada saya!

Gak berapa lama, nama si mbak itu dipanggil loket pengambilan SIM. Wah, ‘lulus’ ternyata. Si mbak aja bisa, saya pasti bisa lulus juga! Eh, bisa jadi itu karena ‘dibantu’, makanya bisa ‘lulus’ (Astagfirullah, jadi su’udzon). Lah, saya? Ah, bismillah aja. Minta do’a ke teman2 dan ibu di rumah dulu deh, biar tenang. Dan terkirimlah sms minta doa dari ponsel saya ke ponsel Pipi, Zie, Kyky dan Bunda. Alhamdulillah, jadi semangat lagi :D.

Setelah 30 menit, peserta ujian SIM sebelumnya keluar ruangan. Hampir semua membawa selembar kertas kecil yg entah isinya apa. Dari kasak-kusuk yg saya curi2 dengar, mereka harus balik ujian lagi tanggal 13 September. Wah, gagal berarti? Hm, sulit juga ya, ujiannya ternyata.

Tak berapa lama, beberapa nama dipanggil lagi masuk ruang ujian. Lho, nama saya? Dipanggil terakhir, setelah beberapa jeda. Akhirnya.. sudah pukul 11 soalnya, ujian ini shift terakhir. Saya masuk ruang ujian, tapi tidak duduk bersama peserta yg lain. Si petugas menyuruh saya duduk di sampingnya yg duduk menghadap layar komputer. Itu di sebuah ruangan kecil di belakang ruang ujian yg tidak dibatasi jendela. Ada petugas polisi C (perempuan) duduk di meja di samping kanan meja petugas berkomputer (kita sebut saja polisi A). Di sudut kiri ruangan ada petugas polisi B yg sibuk menghadap komputer lain. Seorang lagi berpakaian non-formal, entah siapa, mungkin polisi yg sedang menyamar? (saya terlalu banyak nonton film nih).

Ternyata 5 peserta ujian di ruang depan akan ujian SIM C. Polisi A mengecek persiapan ujian (kelengkapan dokumen ujian, mencocokkan nomer kursi, dan tombol jawaban berfungsi baik atau tidak). Layar di depan menampilkan petunjuk bagaimana ujian SIM akan berlangsung dan salah satu contoh soal. Setelah itu, ujian pun resmi dimulai.

Saya?

Saya masih duduk anteng sambil memperhatikan layar di depan, hitung-hitung ‘belajar’ ujian. Begitu selesai pertanyaan pertama, polisi B berkata, “jawabannya apa, mbak?”. Saya jawab dengan pelan, takut terdengar yg lain, “salah, pak.” Lanjut pertanyaan kedua, “kalau yg ini jawabannya apa?”. Saya jawab mantap, “yg ini benar.” Sampai pertanyaan ketiga, polisi A terus bertanya apa jawabannya, yg saya jawab yakin, “kalau ini salah”.

Begitu si polisi A duduk di depan komputer, di samping kursi saya, saya tanya, “untuk SIM A, soal ujiannya apa akan seperti ini juga?”. “Oh, beda,” katanya sambil menyerahkan map saya, “ini ditandatangani dulu, mbak”.

“Tanda tangan dimana, pak?” saya mencari lembaran mana yg saya harus tandatangani sampai mata saya menemukan satu lembar ‘form nilai’ bernamakan saya (lho???). “Itu yg ada nama mbak-nya di kolom itu,” saya mencari yg dimaksud (ternyata di balik form registrasi) lalu segera membubuhi tandatangan saya di sana. Saya? Heran, lah! Saya belum ujian, baru menjawab 3 soal yg belum tentu juga hasilnya benar (tapi saya yakin benar, sih), kok sudah ada hasilnya?

Nilai saya 85 dan dinyatakan lulus (salah 4 dari 30 soal. Maksimal salah 6 untuk lulus). Polisi A menyadari kekagetan saya, langsung berkata, “mbak sudah saya bantu, ini tinggal bawa ke ujian praktek. tapi jangan bilang kalau saya bantu ke yg lain ya.” Deg! Apakah saya harus merogoh kocek lagi, padahal saya dari awal niatnya lurus-lurus aja, gak pake calo. Tuhan, bagaimana ini?

Eh, ternyata si polisi A gak bilang apa-apa tentang ‘tambahan dana’, dia malah menasehati saya untuk memfotocopy SIM yg sudah saya dapat supaya kalau hilang bisa dibuat SIM yg baru tanpa harus bikin lagi. Wah??? Ada apa ini??? Apa si pak polisi sedang kesambet malaikat atau cuma kasihan melihat saya yg cuma sendirian mencari SIM A dan dapat ujian di shift terakhir? Atau memang ini prosedur yg dilewati semua pencari SIM A, berkat sertifikat kursus mengemudi jadi gak perlu lagi ujian teori (dan praktek, karena pada kenyataannya saya gak diminta untuk ujian praktek lagi).

Begitulah, setelah dari ruang ujian saya menuju petugas polisi lain di luar ruangan, lantas si formulir diberi cap. Setelah itu disuruh menghadap ke satu ruangan, ada petugas polisi di sana yg sepertinya berwenang menandatangani form dan melegalkan bahwa saya ‘lulus’ ujian SIM (teori dan praktek). “Sudah tinggal dicetak, di loket 4 ya,” kata petugas polisi terakhir. Saya bawa map saya ke loket 4, tempat foto SIM, “maaf pak, ini tinggal dicetak”. Lalu menunggu lagi.

Tak berapa lama, nama saya pun dipanggil. Petugas loket pengambilan SIM menyerahkan SIM saya. Saya bersyukur dalam hati, meski masih sangat bingung, bahwa Allah memudahkan ujian SIM ini (seperti doa Kyky). Wah, bisa dibilang, ini mah lolos, bukan lulus, saudara-saudara. Apapun alasan polisi A membantu saya, saya sangat berterimakasih karena sudah meloloskan saya. Semoga si bapak A diberi hidayah oleh Allah agar jadi orang baik terus, aamiin…

Oya, klo ditotal-total, saya harus mengeluarkan uang sejumlah Rp 270.000 (jalur tanpa calo; kesehatan Rp 30.000, registrasi Rp 120.000, sertifikat kursus mengemudi Rp 120.000), sedangkan jalur calo, info dari Om, harus mengeluarkan sampai Rp 400.000. Jauh lebih murah kan?

Iklan

17 Comments

  1. hiyuuh, bingung juga itu nilai datang dari mana. bayangkan, baru jawab 3 soal, bisa di-‘proyeksi’ ke 30 menit ke depan saya udah beres ngerjain 30 soal! wkwkwkwk.

    hehe, klo di Indonesia mungkin ada yg bisa, tiw 😀
    banyak jasa ngerjain skripsi, tinggal bisanya bayar berapa (miris)

  2. Sungguh proses administrasi yang absurd… Saya kira harus uji simulator mobil-mobilan (kayak di game center) atau apalah. Ternyata “hanya” kelengkapan surat-surat dan ujian tanya-jawab yang entah-gimana sistem penilaiannya. Tapi ngomong-ngomong, dapet SIM A yang pertama gimana ceritanya, tuh? Hehe.

  3. yg pertama saya masih cupu, gak ngerti apa2 ttg proses bikin sim. saya cerita sama paman klo mau bikin sim, kebetulan bibi punya keluarga yg jadi polisi, jadilah saya ditemani bibi ke polres. well, saya sebenarnya mau jalur formal, tapi gak bisa nolak ‘kebaikan hati’ bibi dan paman yg mau bantu.

    kelengkapan administrasinya sebenarnya sama, cuma langsung ketemu pak polisi kenalan bibi (tanpa ngantri) dan ngasih beberapa lembar uang (saya lupa berapa). yg lucu, saya ngasih kelebihan satu lembar 50 ribu, saya bilang ke bibi disuruh ngambil lagi aja mumpung masih di sini. ya udah, saya minta, dan pak polisinya ngeluarin uang dari dompetnya sendiri (ckckck), selembar 50ribuan tadi (gubrak pisan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s