Berlomba-lomba dalam kebaikan

Di Sendai, Mahasiswa Muslim Indonesia akan mengadakan pengajian menghadirkan Ustadz Fauzil Adhim (salah buku beliau judulnya: Kupinang Engkau dengan Hamdalah). Saya yang sudah pulang ke Indonesia hanya bisa ikut baca saja perkembangan persiapannya di milis, padahal ingin sekali ada di sana dan bisa ikut mendengarkan pemaparan beliau di tengah-tengah mekarnya buka sakura. Tema materinya pas banget buat saya soalnya, hehe (jujur pisan ya saya?).

Di milis ada anggota yg sedikit meresume tentang salah satu isi buku yang beliau tulis. Berikut ini yg paling nyepet saya:

Orang yang mempunyai niat tulus, kata Imam Ja’far, adalah dia yang hatinya tenang, sebab hati yang tenang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niat murni untuk Allah dalam segala perkara.

Kalau menyegerakan menikah karena niat yang jernih, Insya Allah hati akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan & kekhawatiran meliputi dada.

Lain lagi dengan tergesa-gesa. Ketergesaan ditandai oleh perasaan tidak aman & hati yang diliputi kecemasan yang memburu.

Don’t be hurry, just cool calm and confident.. intinya mah.

Semua akan indah dan mudah pada waktunya. Kalau kata teman saya yang juga baru menggenapkan agamanya pas tahun baru 2012 kemarin, menikah itu seperti pagi… tak bisa ditunda, tak bisa dipercepat.

Ada lagi kata seseorang, menikah itu bukan lomba lari! Yang pemenangnya akan dapat trophy berupa lelaki atau perempuan idaman yg ia jatuh hati setengah mati. Pernikahan memang salah satu jalan dalam berlomba-lomba dalam kebaikan, tapi kebaikan seperti apa?

Perlombaan ini bukan antara si A dan si B memperebutkan si C. Karena jodoh, in what i believe is: satu jiwa diciptakan karena (dan untuk) satu jiwa, kecuali jika Allah berkehendak lain. It just like lock and key. Saling melengkapi, tak akan tertukar, kecuali memang dibikin serepnya :p.

 (http://yaailahi.blogspot.com/2011/05/love.html)

Perlombaan ini juga bukan untuk menentukan siapa yg lebih dulu menikah berarti lebih utama dan lebih mulia di mata Allah daripada yg belum menikah. Gak otomatis seperti itu. Karena tetap, firman Allah ini akan berlaku sama dalam setiap keadaan: yg membedakan hanyalah taqwa.

Kalau menurut saya, mungkin sebenarnya perlombaan itu sesungguhnya ada dalam diri kita. Kita yang dulu, dengan kita yang sekarang. Sudah berubah jadi lebih baikkah kita, sehingga sudah pantas diamanahi tanggung jawab besar sebagai suami/istri bahkan nanti menjadi seorang ayah/ibu.

Saya jadi ingat kata-kata seorang teteh, bahwa sesungguhnya jodoh itu bukan masalah antara kita dengan dia (jodoh kita), tapi masalah kita dengan Dia (Allah). Kalau Allah merasa kita sudah siap, pasti jodoh kita akan mudah saja Dipertemukan dengan kita. Bukan kita-nya yang merasa siap ya, karena kayaknya sih, gak ada orang yang pernah merasa siap untuk urusan yang satu ini (hasil tanya-tanya saya dengan beberapa teman yg sudah menikah :D).

Bahkan pernikahan bukan hanya menikahkan si A dengan si C, tapi juga keluarga si A dengan si C. It’s true, really complicated. Ternyata, di sanalah ajang perlombaan kebaikan selanjutnya dibentangkan. Bagaimana tolong menolong antara dua jiwa dalam biduk rumah tangga yang baru terbentuk dapat terjadi, begitupun antar dua keluarga besar yang sebelumnya tak saling kenal dapat menjadi ladang amal kerjasama dalam kebaikan, mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk bisa beli tiket menuju ke surga-Nya. Indahnya 🙂

Pernikahan, kalau dilihat dari sudut pandang ini memang perlombaan menuju kebaikan ya?

Bertambah baik untuk diri sendiri. Bertambah baik untuk dua jiwa yang di-pertemukan kembali. Bertambah baik untuk keluarga yang dipersatukan.

NB: Dedicated to all of you, who already found their soulmate, barakallahulakuma wabaroka ‘alaika, wajama’abainakuma fii khoiir..
and  for those who haven’t yet (we will meet him/her, soon, insyaAllah)..

aamiiin ya Rabbal ‘alamiiin

— 6 Mei 2012 —
1. Linda Hindiana & Prasetiyono Hari Mukti (Bandung)
2. Mahendrata Samsuhadi & Karina Dewi Heruyono (Jakarta)

Iklan

4 Comments

  1. Nice post teh. Inspiring pisan.
    *ada orang komen d blog sy, ngasih nasihat dan katanya mengutip tulisan teh ajeng. Ketemu juga rujukannya. Ternyata teh ajeng satu tim di panitia nlyc 2010.

    Salam perjuangan dari Indonesia teh! (msh d jepang y?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s