the Truth

Baru baca artikel tentang Kota Jakarta, lagi panas-panasnya Pilkada memang di Kota Nomor Satu-nya Indonesia itu. Yang paling mengejutkan saya pertama adalah judulnya, bukan isinya (bisa klik disini). Judul artikelnya: Ada Gubernur “setengah gila” untuk Jakarta?.

Bahasanya cenderung negatif. Provokatif memang, menarik (ya, setidaknya saya jadi baca akhirnya). Saya share link-nya di wall FB saya dan mendapat komen begini dari teman saya:  lebih sopan bilang ‘setengah waras’ ketimbang ‘setengah gila’.

Yap, that what i think also!Bahasa positif, menurut saya, lebih baik digunakan untuk menyampaikan satu pesan pada orang lain. It’s true that, don’t judge book by it’s cover. But, hey, I already read the book, not only see the cover (apa sih, gak nyambung juga komennya -___-).

Saya jadi ingat artikel yg pernah di-share seorang teman, tentang katakan kebenaran walau itu pahit, yang ada hadistnya juga (hehe, maaf jadi OOT dari bahasan awal :p). Menurut artikel teman saya itu, ‘sejarah’ turunnya hadist tsb adalah seorang pedagang jeruk yang satu hari tidak beruntung mendapat suplai jeruk yang sebagian besarnya tidak manis rasanya, seperti biasa yg ia dapat. Ia bingung, apa ia harus bilang sejujurnya kalau jeruknya pahit, lah nanti pembelinya kabur semua?


(source: http://simple.wikipedia.org/wiki/Orange_(fruit))

Pedagang yang bingung itu pun bertanya pada Rasulullah, dan dijawab tegas, katakan kebenaran meskipun pahit! Ya, selama ini kita mungkin sudah salah kaprah memahami hadist ini sebagai: katakan yang benar, meski pahit buat orang yang mendengarnya. Ya, memang ada benarnya juga, sih, ketika itu untuk kebaikan. Tapi poin penting dari hadist ini justru bukan pada objek (yang mendengar), tapi pada subjek (yang mengatakan).

Ketika hantaman buruk itu akan datang pada kita, yg mengucap kebenaran, seperti contoh si penjual jeruk tadi, atau mungkin suatu saat kita dipanggil untuk jadi saksi di pengadilan, dan harus sejujurnya mengungkapkan satu fakta. Ya, di sanalah hadist ini berperan. Meski hari itu terancam merugi karena dagangan tak satupun terjual, meski nyawa terancam karena mengungkap kebenaran di peradilan. Katakan kebenaran, meski pahit (buat diri kita).

Dan itu sungguh berat.. tapi bisa, insyaAllah..

Jadi melenceng jauh dari bahasan awal ya? Sebenarnya ada nyambungnya juga kalau disambung-sambungin. Penulis artikel dengan judul Ada Gubernur “setengah gila” untuk Jakarta? ini mungkin orang Jakarta-nya sendiri yg sudah sangat kesal dengan kondisi kota tercinta-nya yg gak berubah-rubah jadi lebih baik dari jaman batu sampai jaman modern seperti sekarang. Bahkan makin rusak dan dijajah ekspatriat dan orang-orang kaya baru yang tinggal di apartemen-apartemen dan rumah mewah elit, memojokkan rakyat kecil jauh ke bantaran-bantaran sungai Ciliwung. Dan ia memaparkan dengan sangat jujur tentang bobroknya Jakarta, meski mungkin akan dilihat semua orang sebagai pe-nurunan harga diri kota Jakarta yg didaulat jadi ibu kota.

Miris memang, tapi kebenaran harus dikatakan, sepahit apapun.

Untuk yg mau tahu lebih detail fakta Jakarta, agar bisa melakukan perbaikan based on science, bisa klik paper ini.

Untuk yg sedang berkompetisi, kalau saya, sebelum ikutan bakal mikir berkali-kali untuk ‘nyemplung’, hehe. Selamat berkompetisi dengan menjunjung tinggi nilai kebenaran!

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s