Silaturahim Adik Beasiswa PPIS

Bismillah,

Perjalanan silaturahim dengan adik-adik asuh PPIS di daerah Pelesiran diawali oleh pertemuan saya dengan Bu Edah, ditemani oleh Bu Yonik. Bu Edah adalah orangtua salah seorang adik asuh PPIS, Fahmi Nursyahab (SMA kelas 2). Tak hanya menerima beasiswa untuk anaknya, Bu Edah aktif membantu Bu Yonik untuk penyaluran beasiswa kepada adik asuh PPIS lainnya di daerah Pelesiran. Kamis, 6 Oktober 2011, saya bertemu Bu Edah setelah dua pekan sebelumnya saya berkenalan dan membuat janji untuk meminta beliau menemani saya berkunjung ke rumah adik-adik asuh PPIS.

Pertemuan pertama dengan Bu Edah (tengah), ditemani Bu Yonik (kiri).

Kami mengunjungi beberapa rumah adik asuh PPIS di daerah Kebon Bibit. Kurang lebih ada 7 rumah yang kami kunjungi. Saya lupa rumah pertama yang kami kunjungi sore itu rumah adik yang mana, tapi kalau tidak salah rumah Nedi Rusmiadi (SMP kelas 3). Rumahnya tepat di belakang salah satu kos-kosan di jalan Kebon Bibit Raya. Sayangnya, si adik belum pulang ke rumah, hanya orang tuanya saja yang ada. Kami kemudian memutuskan untuk menuju rumah adik yang lain, masuk ke gang kecil sebelah Kantin Sehati, masih di jalan yang sama.

Sudah lama sekali saya tak masuk gang sempit seperti labirin itu. Rumah-rumah kecil sangat sederhana, dengan pintu dan jendela seadanya di tepian Sungai Cikapundung, berdesak-desakan. Di sinilah rumah 6 adik lainnya yang saya temui hari itu. Pertama, kami ke rumah Sansan (panggilan dari Taufik Fauzan, SMP kelas 3). Tidak ada juga tapi, kata adiknya belum pulang sekolah. Bu Edah langsung membawa kami menuju ke rumah selanjutnya, Hafidz (M. Hafidz Nasrulloh, SMK kelas 3). Setelah mengetuk pintu dan memberi salam beberapa kali, suara seorang perempuan menjawab yang ternyata ibunya Hafidz, bergegas turun dari tingkat dua rumahnya dan mempersilakan kami masuk. Hafidz-nya? Rupanya sudah berangkat ekstrakurikuler tepat setelah ashar (boxer atau kempo, saya lupa apa, yang pasti salah satu jenis bela diri :D).

Di rumah Hafidz, ibunya kemudian bercerita banyak. Selain sekolah, Hafidz saat ini sedang PKL di PT DI. Menurut ibunya, Hafidz rajin belajar dan dapat peringkat 3 di sekolahnya. Orang tua Hafidz memiliki 3 orang anak dengan usia sekolah, Hafidz adalah anak pertama. Sehari-harinya, orang tua Hafidz berjualan nasi goreng di Pelesiran. Ibu Hafidz sangat berterimakasih pada kakak-kakak donatur PPIS yang membantu meringankan beban biaya sekolah Hafidz. Setelah SMK, dianjurkan ibunya untuk melanjutkan ke UPI, karena ada beasiswa untuk siswa berprestasi di sana, kalau ia mau menjadi guru nantinya setelah lulus. Tapi Hafidz lebih tertarik masuk jurusan teknik, yang sesuai dengan yang dipelajarinya di sekolah. Selepas Hafidz lulus SMK, ibunya sangat berharap beasiswa PPIS ini dapat di-”turun”-kan ke adiknya (anak nomor 2). Hmm… Ok Bu, insya Allah akan kami pertimbangkan. :)

Ibunya Hafidz (kiri) dan bu Edah (kanan).

Setelah bertandang ke rumah Hafidz, kami menuju rumah Irman Firmansyah  (SMA kelas 1). Kami tidak beruntung lagi kali ini, Irman belum pulang dari sekolah. Hanya ada ibu dan kakak pertamanya di rumah, jadilah saya mewancarai ibunya saja dan sempat mengabadikan ijazah SMP-nya. Nilai ujian nasionalnya lumayan bagus, alhamdulillah ya, mudah-mudahan bisa terus ditingkatkan. :wink:

Ijazah Hafidz lulus SMP

Menurut penuturan ibunya, ayah Firman hanya bekerja jika ada “proyekan” (saya tidak tahu apa tepatnya pekerjaan yang beliau geluti). Di depan rumahnya, ibu Firman berjualan snack-snack seadanya. Oleh karena itu, ibu Firman sangat tertolong dengan adanya bantuan dari kakak-kakak PPIS dan berharap juga ketika nanti Firman lulus, PPIS berkenan memberikan beasiswa untuk adiknya Firman. Wah, senang sekali mendengar program beasiswa PPIS ini memberi banyak manfaat. Sebelum pamit, ibunya Firman kemudian saya foto bersama Bu Edah.

Ibunya Firman (kanan) berfoto bersama Bu Edah.

Selepas dari rumah Firman, kami melanjutkan perjalanan kembali ke arah rumah Hafidz dan Sansan, menyusuri jalan perumahan sempit di pinggiran sungai untuk menuju rumah adik selanjutnya (siapa ya?). Tiba-tiba Bu Edah berhenti dan menegur seorang anak laki-laki yang sedang memancing, duduk di batu, di tengah sungai yang airnya sedang surut. Rupanya ia adalah salah satu adik asuh, Agung namanya, sekolah di SMPN 52 kelas 2. Yap, rumah selanjutnya, sudah ditentukan! Kali ini kami harus menyebrang jembatan kecil yang membelah sungai, menuju ke pinggiran sungai yang satu lagi. Ayahnya Agung ternyata sedang memancing juga terlihat oleh kami yang sedang menyeberang sungai (ah, anak dan ayah sama saja). Cepat saja, bu Edah memanggilnya untuk berhenti sebentar, “ada tamu dari Jepang,” kata Bu Edah. Haha, padahal saya kan orang Indonesia. 8)

Dan sampailah saya di seberang sungai, bersama bu Edah, kembali berjalan-jalan di labirin, yang kali ini sedikit lebih besar ukurannya dan lebih bervariasi jenis rumahnya (dari yang sederhana, sangat sederhana, dan sangat sederhana sekali), menunjukkan komposisi penduduk yang lebih heterogen dari segi ekonomi dibandingkan labirin sebelumnya. Di sini kami bertemu ayah Agung yang kemudian mengantarkan kami ke rumah Ica (panggilan dari Ica, kelas 3 di SMAN 2, jurusan IPS), salah satu adik penerima beasiswa PPIS lainnya.

Ica adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Kurang lebih setahun setelah melahirkan Ica, ibunya Ica mengalami gangguan pengelihatan dan memeriksakan matanya ke RS Cicendo. Dokter di sana mendiagnosis kalau mata beliau tidak ada masalah, hanya saja bola matanya sedikit berubah arah (saya kurang jelas juga menangkap penjelasannya, maaf) akibat salah pakai kaca mata minus dan harus dioperasi. Karena ketiadaan biaya, keluarga Ica memutuskan tidak melakukan apa-apa, meski pihak rumah sakit merujuk untuk operasi di Jakarta, di tempat yang lebih lengkap fasilitasnya.  Yah, itu kejadian 17 tahun yang lalu dan sampai saat ini, ibu Ica akhirnya tidak bisa melihat apa-apa lagi. :(

Di tengah musibah seperti itu, keluarga Ica tetap berusaha berjuang membesarkan Ica dan membiayai pendidikannya karena mereka percaya Ica anak yang rajin dan cerdas. Meskipun baru kali pertama menerima beasiswa PPIS (di periode ini), dan mungkin untuk terakhir kalinya (karena setelah ini lulus dari SMA, aamiin!), Ica dan keluarganya sangat berterimakasih atas bantuan kakak-kakak PPIS. Jika lulus dari SMA, Ica berencana masuk STAN, mengambil jurusan pajak atau akuntansi. Kita doakan bersama ya, semoga Ica kelak bisa menjadi ahli pajak ataupun akuntan yang jujur dan kredibel. :)

Ica bersama ayah dan ibunya

Sementara itu, Agung, meski tidak masuk peringkat di sekolahnya, ia tidak pernah bolos dari sekolah. Suntuk belajar, Agung akan pergi memancing, seperti yang ia lakukan sore itu. Untuk menghidupi keluarganya, ayah Agung berjualan cireng di SD Pertiwi dan SD Pelesiran sejak pagi sampai sore. Dengan adanya bantuan dari kakak-kakak PPIS, Agung dan ayahnya sangat berterimakasih. Ayah Agung berharap bantuan ini akan terus berjalan sampai Agung lulus SMA nanti. Maka dari itu, terus berpartisipasi ya, rekan-rekan PPIS. Meski sedikit, tapi ternyata itu sangat berharga untuk membantu mereka. :)

Agung bersama ayahnya.

Rumah selanjutnya yang kami kunjungi setelah ini adalah rumah Siti Hasanah (SMA kelas 3, jurusan IPA). Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, tapi ternyata Siti belum pulang dari sekolah. “Pulangnya jam 5 dari sekolah, biasanya sampai jam 5:30,” kata ibunya menjelaskan. Akhirnya kami berbincang dengan sang ibu, menunggu Siti pulang. Siti termasuk adik asuh PPIS paling “senior”, dalam artian bahwa ia sudah menerima beasiswa sejak di tingkat SD dan sekarang sudah kelas 3 SMA. Selama itu pula, keluarg Siti merasa sangat terbantu dengan beasiswa PPIS. Ibunya Siti menitipkan salam dan terima kasih yang sangat besar untuk kakak-kakak donatur beasiswa PPIS. Oh ya, Siti juga pernah menerima bantuan laptop yang diberikan kakak-kakak PPIS melalui William (Kepala Divisi Sosial PPIS) beberapa waktu lalu. Dengan bantuan laptop tersebut, Siti jadi lebih mudah untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Ibu dan adiknya Siti.

Tiga puluh menit berjalan, Siti belum juga datang. Kami akhirnya memutuskan untuk beralih ke satu rumah adik lagi, Trijayanti (SMA 1), sebelum waktu maghrib keburu datang. Diantar oleh ibu Siti, kami “bermain labirin” lagi, dengan garis finish-nya sebuah bangunan kecil yang memiliki 2 daun pintu. Ruangan berukuran sekitar 2m x 2m di dalamnya remang-remang tapi terang oleh cahaya yang keluar dari TV. Ada 8 orang kira-kira berkumpul di sana (banyak banget!). Alhamdulillah, ada Trijayanti beserta ibu dan keluarga lainnya di sana.

Seperti halnya Ica dan Agung, Trijayanti baru di periode ini mendapat bantuan dana dari beasiswa PPIS. Ibu Trijayanti sangat tertolong dengan beasiswa ini, karena dengan itu, Trijayanti bisa ujian setelah sebelumnya tidak diperbolehkan oleh pihak sekolah karena belum membayar uang untuk biaya ujian. Sayangnya meski sudah ikut ujian, rapor Trijayanti masih ditahan oleh pihak sekolah, karena belum membayar SPP selama beberapa periode. :(Ayo kawan-kawan PPIS, kita terus bantu mereka yang membutuhkan!

Trijayanti bersama ibu dan adiknya.

Karena adzan sudah berkumandang, kami pun memutuskan menyudahi silaturahim kami di rumah Trijayanti. Pamit pulang, setelah sebelumnya berfoto bersama di ruangan yang kecil tapi hangat itu. Alhamdulillah, masih ada senyum di sana, di tengah segala keterbatasan yang ada. Mudah-mudahan uluran tangan kita yang tak seberapa ini turut mengembangkan senyum mereka.

We can’t change the world.

But from their smile, we hope that we can change something, to be better…

Sendai, 11 Oktober 2011

(Seperti ditulis dalam website ini)

Iklan

4 Comments

  1. iya ras.. alhamdulillah, yg sedikit itu berarti buat mereka ternyata.. dan yg lebih subhanallah lagi, uang beasiswa yg adik2 terima itu jg sebagian dsisihkan lagi oleh adik2 utk patungan membeli alat tulis (seperti buku dan pensil) yg akhirnya dberikan k teman2 mereka yg gak punya alat tulis.. sughoii ne!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s