Try Out Ramadhan

Hari ini lari d sarana olahraga ganesha ITB, berencana lanjut ke car free day dan gasibu. Saya tak bawa banyak barang, hanya satu dompet hape kecil berisi si noki (hape nokia 3210 saya) plus headset dan uang Rp 150.000. Lumayan lah, pikir saya, untuk membeli sekedar barang kebutuhan saya d gasibu. He, lumayan gede ya? Habisnya kalau sudah nyampe gasibu itu suka gak tahan, beli ini beli itu, jadi saya cadangkan saja maksimal hari ini segitu. Daripada nanti ngutang kan lebih malu :p.

Tak disangka, saya teledor sekali -_____-. Entah sejak kapan, saya tak sadar,  dompet hape beserta isinya itu terjatuh saat saya sedang lari. What? barang segede itu??!! Heu, apapun bisa terjadi pada diri seorang saya… ya Rabb, masa saya baru nyadar kalau itu hilang waktu mau beranjak pergi dari saraga… ckckck. Saya jadi ingat kata-kata pak Dedi, mahasiswa s3 Tohoku, yang mewanti-wanti sambil bercanda karena seringnya melihat saya lupa ini itu. Katanya, ‘ajeng.. ajeng.. gimana nanti kalau kamu udah punya anak. Bisa-bisa lupa pas di jalan, terus hilang!’, sambil tertawa. Ya ampun, tidaaakkk! Na’udzubillahhimindzalik.. jangan sampai deh -_____-.

Yah, begitulah. Sesadarnya saya kalau itu dompet tak ada di saku, saya segera k pos penitipan barang, bertanya siapa tahu ada orang baik yang yg menemukan dan menitipkan di sana. ‘Gak ada. Dimana jatuhnya? udah dicari belum?’, kata petugas  jaga. ‘Cari dulu, kalau gak nemu, coba ke pos satpam di sana’, lanjutnya. Dan saya pun segera bergegas berlari lagi, kali ini dengan tujuan berbeda, menemukan dompet coklat saya yg mungkin saja tergeletak entah di mana, sepanjang track lari.

Nothing.. tak ada euy. Sampai di batu-batu refleksi pun sudah saya jelajahi. Nihil! Harapan satu-satunya, ke pos satpam. Harapan itu masih ada!

‘Belum ada neng’, kata pak satpam, mematahkan harapan saya. ‘Kalau udah ada, nanti dikasi tahu ya’. Maka saya pun berinisiatif mencari sekali lagi. Hasilnya, masih sama, nihil. Itu barang kan lumayan gede banget, pastinya kalau jatuh dan gak ada yang ngambil, ia masih tergeletak di sana. Kalau gak ada sama sekali, artinya ada orang yang nemu. Harusnya kalau dia orang baik, akan segera mengembalikannya, setidaknya ke pos satpam. Misscall! Saya baru kepikiran.. duuh, betapa lemotnya saya. Akhirnya saya putuskan kembali ke pos satpam.

‘Belum ada neng’, kata pak satpam. ‘Boleh minta tolong dimisscall-kan hape saya pak?’ Dan si bapak satpam yg tidur-tiduran di kursi belakang meminta nomor saya. Hati saya bagaimana kabarnya? H2C.. alias harap-harap cemas. Kalau tidak aktif, artinya itu hape sudah wassalam -_____-.

Ternyata benar, kali pertama dimisscall, hape itu masih aktif, nyambung, tapi cuma ada suara ‘kresek-kresek’, entah angin, dan suara laki-laki di tengah-tengah suara anak kecil. Saya matikan saja, karena tak jelas. ‘Di-sms coba neng’, usul seorang satpam. Setelah saya sms nomer sendiri, saya coba misscall lagi, tapi tidak nyambung saudara-saudara. As i predicted, itu hape sudah berpindah pemilik. Saya pasrah. Haha. Fiuh, barang titipan Allah aja kok.. kata saya pada diri sendiri. I have nothing.

Satu hal yang saya syukuri, kunci kosan masih ada d saku. Biasanya saya taruh juga di dompet hape itu. Kalau itu hilang, gawat berkali-kali gawat. And i know, i still have Allah.. so, it doesn’t matter that i loose something.

Tak apa kalau itu masih menyangkut barang ya Rabb..tak apa kalau barang hilang, diambil, dicuri.. atau cuma sekedar lupa menyimpan di mana. Ketakutan terbesar saya adalah ketika kehilangan ingatan akan Allah.

Ah, saya jadi ingat, beberapa bulan lalu ada teman kehilangan hape di Tokyo. Ia melaporkan kehilangan hape itu ke pos polisi terdekat. And, surprise! Three days later she got call from the police officer that someone was found her phone. Alhamdulillah, she got back her phone. Amazing, isn’t? :). Setelah merasakah hidup di Jepang, saya memang jadi sering membanding-bandingkan Indonesia dengan Jepang. Saya berharap, suatu saat nanti Indonesia bisa seperti Jepang, dalam hal yang baiknya saja tapi.

Kata teman saya di wall FB, belum Ramadhan udah dapat hadiah kesabaran dari Allah. Haha, kalau dipikir-pikir, ini jadi seperti try out buat saya menjelang ujian yang sebenarnya bulan depan, Ramadhan. Baiklah.. anggap saja pemanasan. Terimakasih banyak ya Allah, untuk ujian ini.

Well, time to close this story. InsyaAllah ada hikmahnya dengan beralih kepemilikan si noki dari tangan saya ke tangan pemilik yang baru :).  Bye bye noki… thanks for everything..

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s