Chotto Matte Kudasai

Satu senja di atap gedung bertingkat 14. Sendai City. February 2011.

“Whoaa, abunai!!”  Seorang anak laki-laki kecil, belasan tahun, berlari mendekati sosok pria yang berdiri di pinggir atap gedung. Badannya gempal, tapi larinya cepat. Seperti karung beras berjalan. Lucu, pria itu tertawa kecil. Di saat seperti ini, ada saja pengganggu.

“Nani shiteru no?” Anak itu mendongak mencari mata pria itu. Ah, ia setinggi ayah.

“Betsuni…,” menghindari tatapan mata anak itu, pria itu menatap matahari.

“Abunai, bahaya berdiri di sini. Kata ayah, kalau angin bertiup kencang, kita bisa jatuh!”

“Hahaha, mungkin kalau kamu, gak akan jatuh ya?” Pria itu tertawa puas sekali.

“Heuuh, bukan itu masalahnya! Sudah banyak yang jatuh dari sini. Kata Ayah, bukan karena angin, tapi bunuh diri. Aaah, jangan-jangan, ano-san mau bunuh diri ya?!”

Polos sekali anak ini, “kalau iya, memang kenapa?”

Angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Pria itu berjalan menjauh dari pinggir gedung, kalau memang akan ada yang jatuh hari ini, cukup satu orang saja, aku. Si anak kecil terus mengikuti pria itu, bahkan duduk di sampingnya ketika ia memutuskan duduk dengan tetap menghadap matahari senja.

Tergelitik rasa ingin tahu, anak kecil itu bertanya lagi, “Hei, ano-san… kalau iya mau bunuh diri, kenapa harus loncat dari atas sini? Orang-orang itu juga, banyak yang bunuh diri dengan meloncat dari atap gedung tinggi. Apa gak ada cara lain lagi untuk bunuh diri?”

“Ada. Satu cara bunuh diri yang sering dilakukan dulu adalah menabrakkan diri ke subway,

Subway desu ka”

“Aa, kamu sudah pernah naik itu kan?” Kenapa aku jadi harus menjelaskan tentang bunuh diri sama anak kecil yang gak aku kenal ini ya. Haha, ya sudahlah…

“Kamu tahu, sebelum ada subway, orang-orang bunuh diri dengan meloncat dari gedung tinggi. Setelah ada subway, mereka lebih suka menabrakkan diri ke subway yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi sekarang pemerintah menetapkan denda yang besar untuk keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang bunuh diri dengan cara itu karena mengganggu kenyamanan umum.”

“Ee, okashii naa,”

“Haha, sou ne. Tokorode, kamu bukan orang Jepang ya?”

“Un, Indonesia kara kimashita”

“Nihon go ga jyozu ne”

“Haha, sonna koto nai desu yo. Motto motto benkyoushinakereba ikemasen”

“Omoshiroi na, nihon wa”

“Un, totemo omoshiroi! Tanoshii naa. Demo… buat ano-san, Jepang gak menarik lagi ya, jadi mau bunuh diri?”

“Tabun…”

Hening, matahari senja semakin tenggelam di ufuk barat. Angin berhembus lebih tenang, tetap saja dingin. Tapi sorot mata pria itu lebih dingin dan kosong. Hatinya juga sudah mulai membeku lagi.

“Sou desu ka. Wakarimashita,” Anak kecil itu tiba-tiba berdiri. Pria itu, di depannya, duduk memeluk kakinya sendiri sekarang. Sudah malas berbicara lebih banyak lagi. Sedih merayap memenuhi rongga dadanya.

“Wakarimashita… demo, chotto matte kudasai. Tunggu dulu, jangan dulu bunuh diri sekarang. Ano-san belum tahu kan bagaimana Indonesia itu? Kalau memang ramen dan sushi sudah gak menarik lagi buat ano-san, negeriku, Indonesia punya banyaaaak makanan!! Belum tahu kan makanan enak yang namanya rendang? Rendang itu adanya di restoran Padang. Sore kara, ada yang namanya karedok dan batagor di Jawa Barat, ada lumpia basah di Semarang, terus ada bakso Malang Karapitan!! Zenbu, totemo oishii desu yo!!”

“Hahahahahahaha… pantas kamu gendut sekali!!” Pria itu tak tahan, tertawa sambil sebelah tangan memegang perutnya dan sebelahnya lagi memukul-mukul lantai.

“Demo, ano-san…,” anak kecil itu terdiam sebentar lalu melanjutkan, “di Indonesia memang banyak makanan, tapi… masih banyak orang gak bisa makan. Banyak orang juga gak punya rumah yang bagus dan harus tinggal di kolong jembatan. Tapi mereka tetap hidup dan bertahan.”

“Sou ka…”

“Kalau ano-san sedih dan mau bunuh diri karena merasa gak punya apa-apa lagi, aku gak percaya. Ano-san masih punya dua mata, masih punya dua telinga, masih punya baju bagus buat dipakai. Soshite, di luar sana, masih banyak orang yang belum ano-san temui. Banyak tempat yang ano san belum datangi. Banyak hal yang belum ano-san lakukan…”

“Dan banyak makanan yang belum aku cicipi…”

“So so! Dakara, jangan bunuh diri!”

“Kalau akhirnya aku tetap mau bunuh diri? dunia rasanya akan baik-baik saja tanpa adanya aku,”

“Kalau ano-san bunuh diri, dunia mungkin akan baik-baik saja. Tapi kalau ano-san tetap hidup, dunia bisa jadi lebih baik lagi,”

“Haha, hidupku ini gak ada artinya selama ini buat orang lain. Kenapa kamu percaya diri sekali?”

“Karena kata Tuhanku, ’gak ada yang sia-sia’. Apa yang Dia Ciptakan, pasti ada manfaat-nya ^^

“Sou ka, siapa nama Tuhan kamu itu?”

“Allah ^^”

Matahari sempurna tenggelam. Gelap menggantikan terang, tapi satu bintang di langit  selatan mulai bersinar. Pria itu berdiri sekarang, “Ja, isshou ni tabemasen ka. Onaka ga suita naa!” Hmm, baiklah, mungkin aku harus kenalan dulu sama Tuhannya anak laki-laki ini dulu, sebelum memutuskan bunuh diri lagi.

“Haiiii!” Alhamdulillah ya Allah, makan gratis lagi ^^.


————————————-

Vocabulary

Abunai: Danger

Nani shiteru no: What are you doing?

Betsuni: nothing

Dakara: That’s why

Tokorode: By the way

Indonesia kara kimashita: Come from Indonesia

Demo: But

Soshite, sore kara: And then

Zenbu: All

Totemo: Really

Oishii: Delicious

Ano-san: You

So so: That’s right

Wakarimashita: I understand

Ja, isshou ni tabemasen ka: ok, let’s eat together?

Omoshiroi: Interesting

Tanoshii: Fun

Nihon: Japan

Go: Language

Nihon go ga jyozu ne: Your Japanese language is really good

Sonna koto nai desu yo: No, not like that

Motto motto benkyoushinakereba ikemasen: I have to study more and more

Okashii: Strange

Onaka ga suita naa: I am hungry

Hai: Ok

Chotto matte kudasai: Please wait a moment

Iklan

12 Comments

  1. @ayya: saya juga sekalian belajar ini teh,, biar gak lupa apa yg udah ada d kepala. arigatou rewardnya,, nyari wangsit dulu yak, hehe

    @Raras: klo Ryan, beberapa hari lalu beneran loncat, jadi kejadian nyata deh,, hahaha,, untungnya dia cuma bercanda. inspirasi tulisan ini dari obrolan pas makan siang di kantin engineering sama Dindha, Icha, Uti, Ryan waktu itu. terus jadi keinget ada diskusi d milis KMIS yg ada sangkut pautnya sama ini. jadi deh, cerita aneh ini 😀

    @miranti: wah, dapet PR juga dari mir. arigatou,, demo,, chotto matte kudasai ne 😀

  2. hihihi… walo cuma cerita khayalan, tapi sangat memberi inspirasi..aku suka ceritanya!
    danke, Ajeeengg…..

    “masih banyak yang indah di dunia ini yang belum kita liat…so, jangan bunuh diri dulu yaa!!!”
    *kecuali kalo emang udah waktunya pulang ke Allah ^___^v

  3. uti: ahaha, gara2 obrolan siang itu 😀
    sabishii, makan siang bareng d kantin, hehe

    aan: hasil analisis kami (saya dan uti, inget gak, ti? obrolan habis sholat bareng), krn orang jepang gak punya pegangan selain diri mereka sendiri, makanya mudah banget mutusin bunuh diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s