Niku wa arimasuka

Paling susah hidup di negeri yg mayoritasnya non muslim adalah: makan! Makanan halal susah sekali dicari di Jepang, termasuk di Sendai. Sebagian besar orang Jepang menambahkan sake pada makanan mereka, sekedar sebagai penambah rasa. Babi adalah daging yang sangat biasa dimakan di sini dalam berbagai bentuk. Dan segala bentuk daging yg tidak disembelih dengan menyebut nama Allah jatuhnya jadi haram dan tidak bisa juga dimakan oleh muslim yang tinggal di Jepang.  Daging dalam bentuk turunannya pun jadi jatuhnya haram, seperti bahan2 untuk pengawet makanan, pengembang kue, dll karena menggunakan bahan2 dari hewan yg tidak disembelih dengan menyebut nama Allah (linknya bisa dilihat di sini:http://mujahidsamurai.multiply.com/journal/item/30). Muslim pendatang baru seperti saya harus mulai menghafalkan kanji2 yg bertuliskan nama bahan makanan ‘terlarang’ itu, karena bisa bahaya kalau masuk ke dalam perut.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba memasak sendiri setelah sepekan berada di Sendai. Daripada susah-susah mencari makan, hitung-hitung belajar (membiasakan) memasak ^^ (biasanya cuma masak mie dan nasi di rice ccoker, haha).  Jadilah hari itu saya pergi ke mini market terdekat untuk membeli bahan makanan.

Sayur.. aha! ada sawi ternyata. Telur.. dapat! Minyak goreng… apa ya, namanya yg boleh dibeli kata Tyas waktu itu. Mata ini mulai melirik botol-botol berisi cairan bening kekuningan yang dalam pikiran saya adalah: minyak goreng. Hm, telepon Tyas dulu aja, biar pasti.

“Assalamualaikum. Tyas, mau nanya, minyak goreng yg boleh dibeli waktu itu apa namanya?”

“Oillie klo gak salah. Lagi dimana?”

“Seven Eleven. gak ada yg namanya itu.. adanya mii riin..”

“yang itu udah jelas gak boleh, sake..”

“klo gitu yg lain aja, kayaknya gak ada tulisan mirin-nya”

“coba tanya k karyawannya, ‘niku wa arimasuka’, takutnya ada kandungan hewannya d dalamnya”

“oh, ok.. dtanya dulu ya”

Dan saya pun bergegas menuju kasir utk bertanya.

“Ano, sumimasen… niku wa arimasuka” sambil menunjuk huruf2 kanji yg sepertinya bertuliskan ‘komposisi’ (sok tahu aja :p)

“Niku? aaa, niku wa haitenai”

Ooh, alhamdulillah, bisa dibeli berarti, gak ada kandungan hewannya ^^.

Setelah membayar semua belanjaan, saya pun bergegas pulang ke apato. Potong-potong sayurnya.. juga bawang putih, bawang merah, cabe. Kocok-kocok telurnya.

Wajan sudah di atas kompor, selanjutnya siapkan minyak gorengnya. Masih disegel rupanya, tutupnya.  ‘Pluk’ tutupnya terbuka dan saya mencium bau aneh menyengat yg sepertinya saya kenali sebagai sake. Lho, ini minyak goreng aneh sekali baunya… dan kenapa encer pisan ya??

Dengan penasaran, saya buka laptop dan membuka aplikasi kamus bahasa Jepang (Wakan Full)..masukkan kata: “sake”.. dan hasilnya, jreng-jreng!

Kanji di atas ada dalam label botol minyak goreng itu! Paraah pisaan T___T..salah beli rupanya! Niatnya mau menghindar, eh malah kebeli yg jelas2 haram. Sedih karena sake itu jelas2 gak bisa dpakai, artinya buang2 uang. Tapi menggelikan, haha, lucu sekali kejadian hari itu.. rasanya pengen ngejedut-jedutin kepala ke tembok.

Untungnya ada teman yg memberikan minyak gorengnya sehingga misi masak memasak malam itu jadi juga terlaksana (meskipun hasilnya jauh dari harapan :p). Alhamdulillah masih bisa makan malam itu, hehe.

Dan besok paginya, sake minyak goreng itu saya bawa ke kampus untuk diberikan pada Hanae San, mahasiswa Jepang yg kuliah di jurusan yang sama.

“Do you like cooking?” tanya saya begitu bertemu Hanae San di labnya.

“Yes”

“So, i bought wrong thing yesterday.. ” botol itu saya keluarkan dari dalam tas kresek.

“aah, sake” serunya, agak kaget tapi tetap senyum. Mungkin dalam pikirannya, ‘aneh’, seorang saya membeli sake (?), haha!

“i can’t use this, so i give it to you. You can have it”

Dan Hanae menerima botol sake yg saya kira minyak goreng itu dengan wajah senang.

“Thank you. So, you like cooking. Maybe you can teach me some Indonesian food?”

Haha, maybe :p.

mirip kan?? perhatikan baik-baik, yg sebelah kiri: minyak goreng dan sebalah kanan: sake merah (mirin).

Iklan

6 Comments

  1. ya ampuuuunn, maaf banget…
    Selama ini memang ga pernah ketemu minyak goreng di konbini. Kita biasa belanja di Seiyu ato pasar Ohta (pasar Kemis). Maaf kalo telat menginformasikan.
    Maaf-maaf… *jadi merasa bersalah* -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s