Ngurus paspor sendiri? Gampang kok ^^

Ternyata membuat paspor itu gak sulit. Tanpa perlu bantuan calo, akhirnya februari kemarin saya berhasil membuat paspor sendiri. Nggak lama dan nggak mahal. Dan bagi warga pendatang, bukan asli Bandung seperti saya, ternyata tak masalah membuat paspor di Bandung. Cukup persiapkan dokumen berikut ini:

  1. KTP asli dan fotocopy
  2. Kartu Keluarga asli dan fotocopy
  3. Akte Kelahiran Asli dan fotocopy

Dokumen sudah lengkap, pakaian sudah rapi (hindari mengenakan sandal jepit dan rok mini atau celana pendek) segeralah melaju ke kantor imigrasi Bandung. Tidak sulit, kalau tidak ada kendaraan pribadi, anda hanya perlu naik angkot sekali. Ini kalau anda naik angkot Dago-Caringin, seperti saya, dari samping rektorat ITB, di bawah fly-over Pasopati atau naik angkot warna pink (yang saya lupa namanya) dari depan RS Boromeous. Cukup membayar Rp 2000, anda akan sampai dalam waktu kurang lebih 10-15menit tepat di depan kantor imigrasi Bandung, Jl. Surapati No. 82. Murah dan cepat kan? Oya, sebelum naik, jangan lupa minta mang angkot untuk berhenti di depan kantor imigrasi. Ketika angkot berhenti, jangan kaget kalau kantor itu tidak ada depan mata anda ketika anda turun dari angkot. Karena ia ada di seberang jalan ^^.

Selanjutnya, ambil formulir permohonan pembuatan paspor di loket yang letaknya di bagian kiri depan bangunan ini. Mintalah pada ibu penjaga loket dan segeralah pergi, setelah mengucapkan terimakasih tentunya, karena anda tidak perlu bayar.

Lega? Ah, itu cuma sementara. Petugas loket itu kemungkinan besar tidak akan lupa memberitahu anda agar pergi ke kantin di samping kanan belakang bangunan, untuk membeli sebuah map khusus (berwarna kuning plus sampul paspor berwarna hijau tua) seharga Rp 10.000,-.

Setelah membeli map, isi formulir dengan teliti. Jangan lupa, huruf kapital semua. Agar nyaman, kantor imigrasi menyediakan meja tinggi untuk menulis yang diletakkan di depan kantor sebelum pintu masuk. Karena ini bukan standing party, jadi tak apa menulis sambil berdiri (haha, nggak nyambung ya).

Sebelum menyerahkan formulir terisi ke loket (berupa meja tinggi panjang dari kayu), anda akan melewati bapak satpam penjaga mesin tiket. Pak satpam akan bertanya, “mau apa?”, maka jawablah sesuai keperluan, “mau menyerahkan formulir”. Kecuali kalau keperluan anda agak sedikit berbeda seperti, “toilet di sebelah mana ya?”, tak apalah anda tanyakan, daripada anda kebelet :D.

Setelah tiket anda pegang, duduklah di kursi tunggu di depan loket. Tunggu sampai petugas menyebutkan nomor tiket anda, barulah  bergerak ke depan untuk menyerahkan map beserta isinya. Tak perlu disuruh, segeralah duduk, karena nama anda akan dipanggil lagi setelah beberapa saat. Pada panggilan kedua ini, petugas akan memberikan tanda terima yang tertera tanggal kapan anda harus kembali untuk membayar biaya pembuatan paspor. Tenang saja, dokumen asli anda akan dikembalikan saat itu juga ^^. Kalau waktu itu saya harus datang 2 hari kemudian.

Pada hari pembayaran, temuilah pak satpam penjaga tiket, lagi-lagi ia akan bertanya, “mau ke mana?”. Jangan ragu-ragu untuk menjawab, “bayar paspor, pak”, maka ia akan memberikan secarik kertas bertuliskan nomor antrian.

Serahkan nomor antrian itu di kasir pembayaran, lalu tunggulah (kalau tersisa tempat duduk, anda bisa saja duduk) sampai nama anda dipanggil. Untuk paspor 48 halaman biayanya Rp 270.000,-, serahkan uangnya, kalau bisa uang pas. Oya, ada satu jenis paspor lagi, paspor 24 halaman. Untuk yang satu ini saya kurang tahu berapa biayanya. Jenis ini biasanya digunakan para TKI, sedangkan yang saya buat biasanya digunakan pelajar atau wisatawan.

Petugas loket pembayaran akan memberikan tanda lunas, setelah itu bersegeralah kembali menyapa pak satpam penjaga karcis, “mau foto dan wawancara, pak”, maka selamat! satu lagi karcis bernomor akan anda dapatkan (sayang sekali ini bukan karcis yang bisa anda kumpulkan untuk ditukar dengan hadiah). Jangan keburu senang dengan nomor cantik yang anda dapatkan, seperti: 444. Tunggulah sampai petugas menyebutkan nomor antrian saat ini, dan ketika anda mendengar nomor antrian seperti: 150, maka anda akan merasa nomor anda tak cantik lagi ^^.

Anda bisa memilih untuk tinggal dan menanti antrian, atau bisa berjalan-jalan mencari udara segar atau makan dulu di warung terdekat, karena antrian itu bisa sangat lama. Bahkan kalau hari itu anda tak punya banyak waktu, anda bisa pulang saja dan datang lain hari. Tetap simpan tanda lunas anda dan lain hari ketika datang anda tinggal ‘menyapa’ pak satpam yang baik hati, “ tinggal foto dan wawancara, pak”.

Sembari menunggu, lepaskan kacamata anda (bagi yang menggunakan). Rapihkan penampilan sehingga anda merasa itu penampilan terbaik anda saat itu (hehe, lebay). Ketika akhirnya nomor antrian anda dipanggil, segera masuk ke ruangan dan temukan beberapa petugas duduk di balik computer yang sudah disetting untuk menyimpan data foto dan sidik jari anda saat itu juga. Pilih salah satu saja. Ya, yang memanggil nama anda, pastinya. Duduk di kursi tepat di depan meja, anda akan segera difoto, ‘ckrek’ (nggak ada rasanya sih, suaranya juga, bahkan nggak ada blitznya!), dan seluruh jari tangan kanan anda akan di-scan. Setelah itu, tinggalkan meja itu, beralih ke meja petugas yang memanggil nama anda, tentunya untuk wawancara, bukan disuruh bayar hutang :p. Petugas wawancara akan menanyai alasan anda pergi ke luar negeri dan meminta anda mengecek kelengkapan data anda. Dalam kasus saya, ada perbedaan antara alamat rumah yang tercantum di KTP dengan yang tertulis di Kartu Keluarga. Untungnya tidak terlalu dipersulit, “tolong buat surat keterangan dari pihak RT atau kelurahan, discan, dan bawa waktu mengambil paspor, ya”, lantas saya menandatangani bakal paspor saya dan diberikan tanda bukti untuk pengambilan paspor. Biasanya paspor akan jadi dalam seminggu. Karena itu, ucapkan terimakasih, pulanglah, dan datang pada hari kerja seminggu kemudian (catatan: pengambilan paspor biasanya di atas jm13, setiap hari kerja).

Seminggu kemudian, anda bertemu lagi dengan pak satpam, jangan tunggu ditanya, minta karcisnya saja. Kadang kalau antrian tidak terlalu panjang, ia akan mengatakan, “langsung ke depan aja”, maka dengan langkah pasti berjalanlah ke depan loket, serahkan tanda bukti pengambilan paspor lalu duduklah di kursi tunggu. Begitu nama anda dipanggil, anda akan diminta tandatangan sekali lagi, bukti pengambilan paspor, dan diberikan paspor yang telah anda nanti-nanti selama seminggu kemarin. Anda tak lupa sampul hijau tua itu kan? Ya ya, pakaikan segera untuk menutupi si paspor , supaya tidak kedinginan :D.

Selamat! Kini anda punya paspor 48 halaman yang berlaku selama 5 tahun! Anda mau ke negara mana, tinggal mengurus visanya saja, dengan datang ke kedutaan besar negara bersangkutan. Untuk yang satu ini saya belum mengurusnya. Kalau sudah, semoga ada kesempatan untuk berbagi lagi. Selamat bertualang!

Iklan

9 Comments

  1. ke jepang insyaAllah,,
    nah, itu dia makanya saya buat pas senggang2 ini,, jd klo bingung2 masih ada waktu (untuk menikmati kbingungan, hehe) jadi gak perlu minta bantuan calo 😀
    gpp, jd pengalaman,, dtunggu tulisannya ttg ‘buat paspor pake calo’ ^^v

  2. Apakah kalau seseorang pakai celana pendek tidak diperbolehkan membuat paspor? n ketika tanya dasar peraturan pakai celana pendek tidak boleh buat paspor malah mau dihajar oleh petugas imigrasi dan mau dibatalkan pembuatan paspor ( waktu tanya pakai celana panjang ). tolong benahi kinerja pegawai imigrasi yang arogan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s