Yang Kau Butuhkan Sesungguhnya Cuma: Keberanian

Apakah kau merasa salah jurusan? Masuk universitas yang tak kau inginkan, tapi tak mampu menolak harapan orangtua untuk melihatmu berdiri di ruangan megah itu, memakai toga, bergelar Sarjana Teknik, Enggineer. Padahal hatimu melayang jauh di alam bebas, berburu gambar-gambar kehidupan satwa liar.

Itu yang menjadikanmu berada di urutan terakhir! (Farhan Qureshi)

Bebaskanlah, dengarkan dan ikuti saja suara hatimu. Lakukan apa yang kau inginkan. Lakukan apa yang kau senangi. Maka di sanalah kau akan dikejar oleh kesuksesan. Begitulah para pemenang sejati. Mereka menang bukan karena ingin penghargaan, tapi karena mereka benar-benar ‘jatuh cinta’ pada apa yang mereka lakukan. It is their passion. (Ranchoddas Chanchad)

Ataukah kau merasa jurusan inilah pilihan hatimu sejak awal. inilah ‘cinta pertama’ yang kau harapkan untuk kau ‘nikahi’. kau telah’ jatuh cinta’ sejak pertama kali melihat betapa kerennya orang-orang berseragam putih-putih itu keluar masuk lab. Membuat sesuatu yang ‘besar’ dan berguna bagi banyak orang. Itu sudah obsesimu sejak lama.

Tapi, kini kau masih saja berdiri di urutan terakhir! Apa yang salah?

Ternyata hanya satu penghalangnya. Kau pengecut! Takut melihat masa depan! Kau ‘dihantui’ oleh sekian banyak masalah di sekelilingmu. Kau tumpuan satu-satunya ayahmu yang terbaring lumpuh, saudara perempuan yang butuh biaya menikah, ibu yang tak pernah bisa beli baju baru selama 5 tahun terakhir. Kau ‘berjalan’ dengan segala beban itu. Merubahmu menjadi sosok pengecut yang kebingungan, tak bisa focus, tak berani menghadapi tantangan, tak mau mengambil resiko, malas dan tak mau berkorban!

Karena itulah kau berada di urutan terakhir! (Raju Rastogi) —————————————————————————————————————————-

Ya, mungkin orang lain menarik hikmah yang berbeda dengan apa yang kutuliskan ini setelah menonton film Three Idiots (http://en.wikipedia.org/wiki/3_Idiots). Untukku, inilah yang paling berkesan. Cukup dirangkai dengan dua kalimat: Kau memang pengecut! Sesungguhnya yang kau butuhkan cuma: keberanian.

Wahai Allah, Yang Maha Besar, karuniakanlah kami sebesar-besarnya keberanian untuk menatap masa depan kami, sehingga kami dapat berjalan dengan kepala tegak. And could live our life. —————————————————————————————————————————– Nah, kalau kamu? Sudah menontonnya? Just watch, I recommended this. Then please share your opinion after that. I’ll be waiting ^^v. ——————————————————————————————————————————

Skala: 7/7

Iklan

20 Comments

  1. hehehehehe,, analisa yg bagus,, klo gitu saya dan semua orang indonesia juga gitu dong,, eh,, tunggu ini teh serius?!

    TKI d bidang apa? jual kambing ya? pantes ada blog khususnya ^^

  2. Ping balik: Setiap Kita Itu Unik « Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

  3. wah, tersan(d)ung,, pas dliat d blognya rizal ternyata ada kutipan tulisan saya :p

    kalo kata seseorang, ‘melakukan apa yg kamu cintai’ –> passion

    klo ‘mencintai apa yg kamu kerjakan’ itu apa ya?

  4. ahahaha,, betul juga,, klo dilihat dari sudut pandang seorang yg merasa terjebak dan dan ingin lari tapi gak bisa-bisa,,

    klo dari sudut pandang lain bisa juga begini ya: mencintai apa yg kamu kerjakan = komitmen

    komitmen utk melakukan yang terbaik = bentuk rasa syukur pada Allah atas kesempatan/pekerjaan/rezeki yg diberikan Allah saat ini

    mungkin apa yg kita kerjakan saat ini bukan apa yg sebenarnya kita ‘cari’,, tapi ada kemungkinan klo apa yg kerjakan saat ini adalah salah satu cabang yg akan berujung pada apa yg kita ‘cari’,, (hidup bukan garis lurus,, tapi pasti menuju satu titik)

    dgn kata lain, apa yg kita kerjakan saat ini adalah satu tahapan yg harus kita lalui,, dan ketika kita merasa tidak menyukai apa yg kita kerjakan saat ini, ada dua pilihan:
    1. tinggalkan pekerjaan itu dan lakukan pekerjaan yg kau cintai
    2. kerjakan dan tetap berusaha melakukan yg terbaik, mengambil setiap hikmah yg bisa jadi berserakan sepanjang jalan yg mungkin salah itu, sampai akhirnya tahap itu terlewati ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s