Napak Tilas Islamisasi Dinasti Praboe Siliwangi (Api Sejarah)

Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah (hlm. 148) menjelaskan tentang Islamisasi Praboe Siliwangi dan Dinastinya. Sumbernya adalah Carita Purwaka Caruban Nagari – CPCN.

Dituturkan dalam CPCN, 1720 M, pernikahan merupakan sebab awal masuknya Islam di kalangan istana Pakoean Padjadjaran. Pada masa itu, pemegang kuasa atas istana Pakoean Padjadjaran adalah Raden Manah Rarasa atau Pamanah Rasa, lebih dikenal sebagai Praboe Siliwangi dengan gelar Praboe Dewata Wisesa. Dinikahinya Njai Soebang Larang, santri dari Sjech Hasanoeddin atau Sjech Qoera, oleh Praboe Siliwangi mengawali proses Islamisasi di kalangan istana.

Dari pernikahan tersebut, lahir tiga orang putra, yang merupakan perintis awal Dinasti Praboe Siliwangi penganut agama Islam:
1. Walang Soengsang (1423 M)
2. Njai Rara Santang (1426 M)
3. Radja Sangara (1427)

Dinasti Praboe Siliwangi ini kemudian berperan besar dalam membangun kekuasaan politik Islam atau Kesoeltanan: Tjirebon, Djajakarta dan Banten.

Dari dinasti ini pula lahir salah seorang Wali Sanga, yaitu Sjarief Hidajatoellah atau Sunan Gunung Djati dari pernikahan antara Njai Rara Santang dengan Maolana Soeltan Mahmoed atau Sjarif Abdoellah. Pernikahan keduanya dilakukan setelah Njai Rara Santang bersama Walang Soengsang melakukan ibadah haji. Setelah pulang dari berhaji, Walang Soengsang lebih dikenal dengan nama Hadji Abdoellah Iman, sedangkan Njai Rara Santang lebih dikenal dengan Saripah Moedim.

Karena pengaruh kakeknya, Ki Gedeng Tapa (ayah Njai Soebang Larang), sebagai Sjah Bandar Moeara Djati Tjirebon dan sebagai Radja Singapoera, Walang Soengsang membuka wilayah baru di Kebon Pasisir sebelah selatan Goenoeng Amparan Djati. Di tempat ini, Walang Soengsang menikahi Njai Kentjana Larang, putri Ki Danoesela atau Ki Gedeng Alang Alang. Setelah pernikahan itu, wilayah Kebon Pasisir berubah nama dari Lemah Wungkuk menjadi Caruban Larang dan Walang Soengsang lebih dikenal sebagai Ki Tjakra Boemi atau Pangeran Tjakraboena.

LangkahKi Tjakra Boemi merintis pembangunan wilayah baru, Cirebon Larang, mendapat penghormatan dari Praboe Siliwangi dengan memberikan gelar Sri Mangana dan panji-panji kerajaan pada Ki Tjakra Boemi . Pengantar panji-panji kerajaan adalah Radja Sengara yang kemudian karena pertemuan itu memeluk Islam dan segera menunaikan ibadah haji (lebih dikenal dengan panggilan Hadji Mansoer setelah pulang dari Makkah).

Peristiwa sejarah keluarga Praboe Siliwangi masuk Islam merupakan sebuah contoh sejarah betapa terbukanya sikap raja dan bangsawan Hindu atau Buddha dalam menyikapi masalah peralihan agama atau konversi ke Islam. Proses Islamisasi melalui jalan niaga dan pernikahan merupakan ciri umum penyebaran Islam. Selain itu, para ulama melalui pesantren merupakan katalisator Islamisasi Nusantara Indonesia. Penyebaran Islam tidak pernah dengan cara kekerasan, seperti yang dilakukan oleh imperialis barat dengan peperangan, penjajahan, dan pemaksaan untuk beralih agama.

(Dituliskan kembali dengan ‘sedikit’ perubahan)

Iklan

6 Comments

  1. @aan
    masyarakat muslim yg terpengaruh ritual hindu,, dgn kata lain: kejawen (sebutan utk masyarakat jawa yg mencampurkan tradisi hindu dlm peribadatan Islam),,
    belum baca sampai k sana euy,, :p

    @ery
    terpengaruh tulisan tempo doeloe ya ry 😀

  2. Putra putri Prabu Siliwangi dr Nyai Subang Larang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Jawa Barat…tidak ada salahnya bila kita sesekali menziarahi kuburnya dan mendoakan sbg tanda rasa terima kasih…kuburannya ada di Astana Gunung Jati 6 KM sebelah utara Cirebon…wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s