Jodoh Cinta (Update)

Kepada Yang Tercinta,
Pemilik jiwaku dan jiwa yang Kau janjikan untukku

Yang Tercinta, kusampaikan pada-Mu kerinduanku yang mendalam melalui surat ini. Aku tak pernah berputus harapan dari menanti tunainya janji-Mu padaku. Tentang dia, Sang Jodoh Cintaku.

Yang Tercinta, mungkin memang masih Kau simpan ia dengan mesra dariku, dan Kau masih mengujiku, seberapa taat, sabar dan pantasnya aku mendapat anugerah ini dari-Mu.

Yang Tercinta, kupuja Engkau dalam setiap sujudku. Dan Dalam menunggu, kuurai pengertianku lewat beragam kisah para pemuda muslim dalam memperjuangkan jodoh cinta mereka. Semoga aku pun dapat meniru semangat dan keyakinan seperti mereka.

Yang Tercinta, ini bukan suratku yang pertama dan terakhir, bahkan hingga nanti saat telah Engkau sampaikan langkahnya padaku…

(Back Cover “Jodoh Cinta, update”)

———————————————————————–


Ternyata Kinoysan (Mbak Ari Wulandari), penulis “Jodoh Cinta” sudah mengeluarkan lagi buku “Jodoh Cinta, update” . Kalau yang pertama berkisah tentang muslimah lajang dalam mencari jodoh, buku yang kedua ini merupakan kumpulan kisah pemuda muslim lajang yang mencari belahan jiwanya. Membaca buku yang kedua ini, membandingkannya dengan buku pertama, saya sepakat dengan Mbak Ari bahwa: setiap orang ingin cepat menemukan jodohnya dan menikah. Tidak hanya muslimah, para muslim pun begitu. Bagi kita yang sedang dalam masa pencarian, harus sabar, berusaha dan tawakal. Sementara melihat mereka yang belum bersanding dengan belahan jiwanya, tak perlulah kita mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati tak nyaman . Mendukung dan mendoakan, itu lebih baik untuk dilakukan. Bukan begitu? ^^v

Untuk buku yang satu ini, sepertinya saya tidak akan menuliskan note untuk salah satu kisah. Menulis note untuk satu kisah dari buku pertama saja sudah sepanjang itu. Capek :p. Saya cuma ingin mengutip pemikiran Firman (salah satu pemuda yang dikisahkan dalam buku ini) tentang jodoh:

Jodoh itu seperti pakaian. Terlalu sulit mendeskripsikan untuk menjelaskan tentang jodoh. Dia itu seperti seseorang yang dilahirkan sebagai bagian dari kita, kemudian dipisahkan oleh jarak, waktu, keadaan, tempat, dan lain-lain; hingga akhirnya dipertemukan kembali . Sebagai bagian dari diri kita, sepertinya ada sesuatu yang tak kasat mata yang membuat kita mengenalinya.

Jodoh itu pasti cocok dan pas, apapun keadaannya. Betapapun orang menganggap tidak sebanding, pasti Allah telah mengukurnya. Jodoh kita adalah bagian dari diri kita. Tidak mungkin bagian itu tidak tepat.

Note ini ditutup dengan mengutip firman Allah SWT:
“… Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan…” (QS. Adz Dzariyat:49)

Maka, kita harus yakin bahwa setiap orang sudah ditetapkan siapa jodohnya oleh Allah. Jangan takut kehabisan stock :p. Jangan jadi terburu-buru menikah hanya karena omongan orang yang terasa tidak enak di telinga dan tidak enak di hati. Persiapkan diri, itu pasti. Berusaha, itu harus. Yang paling penting dan pertama sekali adalah: luruskan niat . Serta libatkan Allah SWT dalam prosesnya (salah satunya dengan istikharah). Karena ternyata menikah itu bukanlah tujuan, tapi gerbang awal kehidupan baru kita bersama pasangan, untuk meraih hidup bahagia di dunia, di akhirat dan juga yang terpenting: ridha Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah dia menjaga separuh yang lain dengan bertakwa kepada Allah.” (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik)

Iklan

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s