Mimpi di Siang Bolong, Sah-Sah Saja ^^

Bismillah,,,

Pengajian SIAware (30 November 2008)

Hari itu selasar TVST terlihat ramai. Sekelompok mahasiswa tengah duduk dan bercengkrama, hanya satu wajah yg kukenal, Hani FT05. Aku melirik jam tangan, pukul 9.30.

Menurut SMS yg kuterima malam sebelumnya, pengajian SIAware diadakan hari itu, jm9 pagi, di selasar TVST. Temanya : Dreams. Alumni SIAware ternyata memang mengagendakan rutin pengajian ini setiap 2 pekan sekali. Biasanya di rumah salah seorang anggota SIAware, bukan di area kampus seperti hari itu. Dan peserta pengajiannya ternyata seluruh alumni SIAware, bukan hanya SIAware 14. ”Sekaligus silaturahim juga,” kata mbak Riozz. Karena TVST semakin ramai, kami memutuskan pindah ke selasar PLN, duduk lesehan dan melingkar. Saat itu, sudah hadir : Hani, Mbak Riozz, Ajeng, Echi, Kang Acil, Kak Ilham, Nanang, dan Zie.

Sekitar pukul 10, ustadz yg ditunggu datang bersama Salim (alumni SIAware). Ustadz Hanan, begitu beliau biasa dipanggil. Seorang ustadz muda, sepertinya masih awal 30an. Tidak lama kemudian, pengajian dibuka oleh Mbak Riozz dilanjutkan dengan membaca asmaul husna bersama-sama. Setelah itu, Kang Acil membacakan Surat Al Baqarah : 200-202, beserta artinya.

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Pengajian pun dimulai…

”Saya ingin membuka dgn sebuah diskusi, sebenarnya apa itu mimpi? What is dream?” Ustadz Hanan memulai pembicaraan. ”Apa mimpi terbesar teman2 dlm hidup ini?”

”Saya ingin menjadi jembatan,” kata Kang Salim. ”Menjadi perantara agar orang lain tahu sesuatu. Karena itu, saya juga aktif di majalah sekarang.”

”Saya ingin menjadi seperti rumput ilalang. Meskipun kecil dan sering diinjak-injak, ia kuat!” seru Zie.

”Saya merasa tidak ambisius mengejar mimpi. Mengalir seperti air. Tapi sering mendapat yg baik, yg mungkin diimpikan orang lain. Sekolah terbaik, masuk ITB dan beberapa lainnya… Saya masih meraba mimpi, setidaknya jd orang yg bermanfaat,” kataku.

”Saya ingin jadi orang kaya, membantu banyak orang, jadi istri yang baik” kata mbak Riozz bersemangat. Aamiin, mbaaak J. Jadi kapan nih, undangannya??? Hehehehe.

Kemudian Hani melanjutkan, dengan kata-kata yg nyaris sama denganku, hidup yg tidak berambisi dgn mimpi, tapi saat ini, setelah masuk ITB, ia menemukan mimpinya, ”kuliah di Jerman, doakan ya teman-teman…” Aaamiiin… didoakan ya Ni….

Bagi Echi, mimpinya sederhana, ”Saya bahagia ketika menjadi inspirasi bagi orang lain…”

Mirip-mirip dengan Kak Ilham, ”Saya bahagia membantu orang menemukan dirinya…”

Begitu juga dgn Kang Acil, ”… mimpi saya adalah Bahagia – Berkontribusi – Diterima”

Sedangkan bagi Nanang, mimpi itu mungkin sudah sangat jelas, hingga ia sdh merumuskan dan mempersiapkan dgn cermat dari sekarang, ”Saya ingin membangun negara dan agama. Saya berusaha memperhatikan masalah2 bangsa ini, dan memikirkan bagaimana yg harus Saya lakukan jika Saya seorang Presiden. Saya menuliskannya, agar Saya tidak lupa ketika nanti Saya ada di atas…” Wah, calon presiden Indonesia masa datang nih ??

Selagi diskusi berjalan, datang Kak Galih, Kang Firman, Teh Elma dan putri kecilnya, serta Rini yg segera berbagi mimpi dgn kami pagi itu.

Galih berkata, ”Mimpi Saya adalah pendidikan gratis, di bidang IT terutama”

Dilanjutkan dengan kang Firman, ”Yang Saya inginkan adalah pemahaman hidup, kesadaran sebagai hamba Allah, setiap saat. Kenapa Saya ada. Karena tidak ada yg sia-sia yg Allah ciptakan, itu yg ingin Saya temukan, kesadaran itu. Untuk sosial, Saya ingin berkontribusi, di wilayah kota. Karena kalau skup-nya negara, Saya tidak bisa melihat di depan mata kepala Saya sendiri, kondisi rakyat.” Nah, kita punya calon walikota dan presiden sekarang J .

”Saya ingin kuliah di luar negeri, menjadi istri sholehah,” ujar Rini yang duduk di sebelahku. Kami segera meng-amin-nya. Sudah ada 2 undangan sebentar lagi, hehehehe.

Terakhir, teh Elma menceritakan mimpinya, yg senada dgn kang Firman, ”Saya hanya ingin menjadi khalifah terbaik di hadapan Allah. Bukan berarti dibandingkan dgn orang lain, tapi terbaik untuk diri Saya sendiri. Bagi Saya, saat ini adalah yg terpenting. Seperti berkendara di malam hari di jalan tanpa lampu jalanan. Jarak pandang hanya 20 m ke depan, maka yg Saya percayai adalah sebatas 20 m itu akan membawa Saya ke tujuan akhir yg entah apa. Tapi Saya yakin, itu sesuatu yg besar. Saat ini, Saya berusaha melakukan sebaik-baiknya apapun peran yg diberikan Allah.” Subhanallah teh, dalem banget,,,

Hari itu aku, belajar dari banyak orang bagaimana mimpi bisa membuat mata seseorang berbinar-binar. Ternyata mimpi bukan sekedar obsesi, tapi sesuatu yg membuat seseorang bahagia ketika menemukannya. Tidak harus sesuatu yg besar. Begitu kata ustadz Hanan. “Bukankah ketika kita tidur kita juga tidak merencanakan ingin bermimpi apa, tapi ketika malam itu kita bermimpi indah, rasanya bahagia kan….” Di alam bawah sadar kita, mungkin bisa dikatakan mimpi adalah sesuatu yg benar-benar kita inginkan dalam hidup ini agar menjadi orang yg bahagia.

Dan pagi itu, Ustadz Hanan memaparkan dengan ringan bagaimana seni meraih mimpi. Bagaimana orang-orang besar terdahulu, seperti para Nabi, para pahlawan dlm sejarah menjadi orang-orang besar. Ternyata mereka menjadi sejarah karena 4 hal : 1) Mendengar Bisikan Tuhan, 2) Lebih dari Sekedar Melihat, 3) Membeli Keajaiban, dan 4) Menjaga Neraca Diri.

Mendengar bisikan Tuhan adalah tentang bagaimana menjemput takdir Allah yg petunjuk untuk itu telah ada dalam ayat2-Nya di alam ini; pada desau angin, dalam setiap hembusan nafas, dalam lantunan bacaan Al Quran.

Lebih dari sekedar melihat adalah tentang belajar menjadi ahli hikmah. Mengambil kebaikan dari keburukan, itu adalah kunci kesuksesan yg sebenarnya.

Membeli keajaiban adalah tentang keberanian mengambil resiko, keberanian untuk bermimpi. Seringkali ketidakyakinan membuat orang takut tantangan dan meninggalkan mimpinya di belakang.

Menjaga neraca diri adalah tentang keseimbangan. Untuk materi ini, Ustadz Hanan belum memaparkan secara rinci. Beliau memberi keyword : Mizan (timbangan) dan mengajarkan sebuah do’a agar ikhlas dalam bekerja : “Ya Allah, aku bekerja untuk ridho-Mu, dan Kau tahu kebutuhanku…(maka penuhilah)”

Nah, bagaimana versi lengkap pemaparan Ustadz Hanan??? Penasaran bagaimana seni meraih mimpi yg diceritakan ustads Hanan??? Ground rules SIAware berlaku juga utk pengajian kah? Hehehehe. Yang pasti, pagi itu banyak hal yg kupelajari ttg mimpi dan seperti mendapat pencerahan! Eureka! Perasaan itu sulit diceritakan teman, hanya ini yg dapat kutuliskan sekarang ttg pengajian SIAware kemarin. Takut terjadi distorsi juga,,, nanti malah salah paham, jadinya justru menyesatkan. Pengajian selanjutnya, datang yaaa… dan buktikan sendiri, feel the different J.

Pengajian SIAware selanjutnya : 14 Desember 2008

Tema : Seni Meraih Mimpi (2), Menjaga Neraca Diri

Waktu dan tempat dlm konfirmasi.

Seperti tidur dgn mimpi indah

Bermimpilah ketika terjaga,

agar benar2

hidup

Wallahua’lam

Pencari mimpi

Diah Ajeng Setiawati (15304080)

Environmental Engineering ITB

bagi yg tertarik ikutan, silahkan datang ^^.

Iklan

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s