angin… berhembuslah!

Suatu malam, aku mengantar Pipi ke Warung Ibu Ayu, memesan katering utk acara wisudaan salah satu himpunan di ITB. Nyaris jam 9 malam, kami beranikan diri mengetok pintu rumah yg sudah gelap itu.
“Assalamualaikum… tok tok tok”, belum ada respon.
“kayaknya udah tidur pi…”. Kami menunggu dalam senyap, tiba-tiba daun pintu itu bergerak pelan.
Sesosok wajah menyembul dari balik pintu, Ibu Ayu, dengan wajah terkantuk-kantuk. “Maaf bu..”, kata Pipi… “oh eneng, kirain teh, pesanannya gak jadi….

Ibu Ayu mempersilahkan kami duduk di dalam. Sepi. Semua orang tampak sdh tidur. Kami jadi tak enak. Selebihnya setelah itu, aku hanya pendengar. Urusan bisnis yg tak kumengerti. Sesekali, ketika Pipi sibuk mengkonfirmasi kepastian pesanan Patra via SMS dan telepon, aku mengobrol dengan Ibu Ayu tentang usahanya berjualan makanan dan harga-harga yg makin mahal sekarang ini.

“Ibu masih pakai kompor minyak atau sdh ganti gas bu?”, tanyaku.
“Sekarang udah pake gas neng, harga minyak sekarang mahal, Rp 9000/liter, jawabnya.
“Wah, mahal sekali bu. Di daerah saya (Mataram), masih Rp 3500/liter”
“Di Cianjur jg masih murah neng, kemarin dibawain anak, banyaaak. Masih Rp 2800/liternya, neng…”

Di suatu pagi, aku ceritakan peristiwa itu pada Ibu. Beliau baru tiba dari Mataram kemarin siang. Responnya, seperti yg kuduga, heran dan … kesal.
“Kok bisa ya?? Bandung kan dekat dari Jakarta. Kota besar lagi. Di Mataram saja, masih Rp 3500”
“Mungkin karena konversi minyak tanah ke gas itu bu”, pikirku kalau harga minyak dinaikkan maka masyarakat akan ‘terpaksa’ membeli gas ‘3 Kg’ yg di’tawarkan’ pemerintah. Pemerintah pun tak susah-susah ‘membujuk’… pendekatan yg tidak efektif, menurutku.
“Mungkin juga Pertamina-nya gak tahu klo harganya naik. Kalau dikonversi jg, masa semahal itu naiknya?!”
Mungkin juga sih, pikirku. Dan Ibu melanjutkan lagi dengan kata-kata yg kutafsirkan bebas menjadi : Demonstrasi ^^. “Tapi kok ya kondisi ini gak pernah ada di berita2. Kalau infonya sampai ke Pertamina, mungkin kan bisa disuplai lagi minyak tanahnya. Supaya harganya stabil. Harus ada yg ‘memberitahu’ ini (ke pemerintah)”
Aku jadi tertarik! Baru saja, kemarin, aku ikut aksi terakhir dg status Mahasiswa. Rupa-rupanya, euphoria! Ternyata jiwaku lebih memilih ‘di jalan’ daripada mengikuti acara pelepasan wisudawan yg diadakan prodi TL hari itu.
“Oh, gitu ya bu. Klo gitu gimana cara kita menyuarakan ke pemerintah ya bu. Apa kita aksi aja, seperti kemarin?”, kataku sambil tersenyum. Setitik kelegaan menyusup di hatiku. Ibu diam, tidak membantah, tidak juga setuju. Ups, harus dinetralisir dulu. “Ya, begitulah media bu. Berita buruk bisa jadi baik, berita baik kadang kelihatan buruk. Seperti demo mahasiswa. Kalo kita lagi aksi damai, gak pernah diberitakan. Kalau ada yg lagi bentrok, digembor2kan.”

Ya, begitulah, media massa yang seharusnya netral, bisa saja jadi tunggangan oknum tertentu yg punya banyak kepentingan. Kalau sudah begini, mudah saja mengadu domba. Mudah saja membuat buruk citra seseorang, atau sebaliknya membuat orang yg tidak layak jadi pemimpin terasa pantas kalau duduk di pemerintahan. Berita bisa dibeli, oleh mereka yg punya banyak uang dan kekuasaan…
=====================================================================

Suatu siang, beberapa hari setelah percakapan itu…
“Syif, tahu gak harga minyak tanah sekarang berapa? Rp 9000”, aku menoleh pd Syifa yg duduk di sebelahku.
Ia menggeleng, “Di Geger Kalong sudah Rp 13000!”

Siang itu, aku merasa…. kering
===================================================================

Angin serasa tak berhembus…
malas

tak ada kabar
yg bisa dibawakannya….

kabar angin tentang negeri bahagia
makmur dan sentosa
hanya dlm mimpi
berjuta kepala rakyat Indonesia
setiap malam

setiap malam
yang gelap…
karena
lampu minyak sdh padam
tak bisa lagi
menyala…

Iklan

3 Comments

  1. Hahaha… oups… sebenernya gak terlalu berkorelasi jelas sih ya… kalo mafianya tetep merajalela naik mah tetep wae naik…
    Maksudnya nyinggung2 bandung itu karena 1) bandung udah masuk wilayah pemberlakuan konversi minyak tanah, 2) kebijakan ini ternyata dimainin sama mafia minyak tanah dengan mematok harga sesukanya… pas ngobrol sm tukang nasi uduk di deket kosan lama mereka ngeluh juga… katanya pemkot nggak turun ngerazia permainan harga ini… jadi… biang keroknya ya… walikota terpilih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s