Episode Cahaya *)

Malam itu penuh berkah.
Malam dinaikkannya seorang hamba, seorang Nabi, seorang Rasul, Muhammad SAW ke sidratul muntaha.
Malam bertemunya seorang manusia yang mulia dengan pencipta-Nya, Allah SWT, Dzat Yang Maha Mulia, Maha Berkuasa.
Malam itu, Rasul menerima langsung perintah shalat wajib, 5 kali dalam sehari.
Malam itu kita kenal dengan nama, Isra’ Mi’raj.

Sungguh, Allah Maha Bijaksana. Bahwasanya ibadah sholat wajib 5 waktu adalah ibadah yang amat dahsyat dan istimewa. Oleh karena itu, penetapan wajibnya shalat seyogyanya perlu melewati rantaian peristiwa luar biasa spektakuler, sebuah episode kehidupan bernama Isra’ Mi’raj.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Israa’ (17) : 1 )

Ya, bayangkan saja, di zaman dimana teknologi belum secanggih sekarang, seorang manusia biasa bisa melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (di Mekkah) ke Masjidil Aqsa (di Palestina) bahkan kurang dari hitungan detik! Dan kemudian melesat melampaui tujuh lapis langit, menuju sidratul muntaha. Di zaman sekarang pun kita baru sampai ke bulan, bahkan belum bisa menembus lapisan langit pertama! Sungguh, Allah Maha Besar. Bagi Allah SWT, segala sesuatu mungkin, jika Ia Berkehendak.

Bouraq, itulah nama makhluk berkecepatan cahaya yang dibawa Malaikat Jibril untuk membawa Rasulullah menghadap-Nya. Kendaraan tercepat yang pernah ada di dunia.

Karena sholat adalah ibadah yang agung, maka Rasulullah menerimanya tidak sekedar wahyu dari Jibril, sebagaimana biasanya. Allah SWT menghendaki langsung bertemu Rasulullah untuk memberikan perintah sholat 5 waktu. Sungguh indah, menganalogikan bahwa ketika sholat itulah saat terdekat seorang hamba dengan Rabb-Nya. Saat sholat itulah kita bisa bertemu Allah SWT, seperti Rasulullah bertemu Allah SWT di sidratul muntaha.

Bahwasanya yang membedakan seorang muslim dengan yang lain adalah sholat. Bukan dari tulisan : ISLAM yang tertera di KTP. Tapi dari sholat yang kita lakukan sebagai wujud penghambaan pada Allah SWT. Sesungguhnya, ibadah sholatlah yang pertama kali akan dihisab di akhirat nanti. Ketika baik sholatnya, maka barulah dihisab amal yang lainnya. Ketika buruk sholatnya, maka amal-amal lain tidak akan dihisab. Tragisnya, pintu neraka sudah terbuka untuk kita. Naudzubillahimindzalik.

Ya Allah, lindungilah kami dari lalai mengerjakan sholat. Berikanlah kami hati yang khusyuk. Jadikan kami senantiasa merindukan seruan adzan, melangkahkan kaki kami menuju rumah-Mu. Sungguh, bukan Engkau yang membutuhkan penghambaan, tapi kami yang membutuhkan-Mu. Kami yang mengharap rizki dari-Mu.

Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thahaa (20) : 132 )

Seorang teman bertanya dengan nada heran yang sangat, ”Bukankah sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar? Tapi kenapa ada orang yang sholat tapi masih saja melakukan kejahatan?”.

Ya, inilah fenomena di Indonesia. Mayoritas penduduknya muslim, tapi kejahatan dimana-mana. Entah itu kejahatan kelas teri seperti mencopet, maling jemuran, mencuri ayam, menipu (mencontek juga bisa dibilang menipu : membohongi guru / dosen bahwa itu pekerjaan kita), dll. Sampai kejahatan kelas kakap mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, perzinahan, dsb. Kalau korupsi? Wah, itu kejahatan kelas paus! Menyengsarakan banyak orang, bahkan bisa dikategorikan pembunuhan massal. Tanya kenapa?

Sedih, karena kenyataanya pelaku-pelaku kejahatan itu sebagian adalah mereka yang di KTP-nya tertulis ISLAM. Mereka sholat, tapi ternyata tidak ada efeknya. Sholat tidak mencegah dari melakukan perbuatan keji dan munkar. Kalau begini, salahnya dimana?

Mungkin ada yang jadi berfikir, ”kalau begitu, mending gak sholat. Sholat gak ada efeknya kok”. Waspadalah kawan, kata-kata itu menjerumuskan. Karena sesungguhnya, ketika sholat yang dilakukan tidak memberikan efek positif, berarti sholat kitalah yang belum benar. Karena ’mencegah dari perbuatan keji dan munkar’ itu adalah parameter keberhasilan sholat. Bukan sekedar efek samping dari sekedar melakukan.

Sedari awal, kita hendaknya berniat : ’saya akan sholat, maka saya tidak boleh melakukan perbuatan keji dan munkar sesudahnya’. Itulah awal sholat yang baik. Bukannya : ‘ya sekarang sholat dulu, habis itu terserah saya. Kan sudah sholat ini’. Inilah awal sholat yang gagal / sia-sia. Lihat, niatnya saja berbeda. Hasil akhirnya juga pasti berbeda.

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,(QS. Maryam (19): 59)

Maka kita akan terus sholat – sholat – dan sholat. Karena kita telah sepakat, setiap saat manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan. Namun, kita juga tahu bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat. Marilah kita bertemu Allah SWT, dalam sholat kita. Meskipun kita tidak bisa melihat-Nya, yakinlah Allah SWT melihat kita. Ia melihat bagaimana kita ruku’, melihat bagaimana kita sujud. Sungguh… Ia melihat bagaimana kita menangis memohon ampunan-Nya.

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (QS. Al Israa’ (17) : 25 )

Dan seketika hati kita akan diterangi oleh cahaya-Nya. Kita terselamatkan dan hidup kembali.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At Taubah (9):18 )

Mungkin bisa dikatakan dengan sholat kita sedang melakukan napak tilas episode cahaya yang dialami Rasulullah SAW. Ya, semoga hati kita senantiasa bercahaya dengan melaksanakan dan menjaga sholat 5 waktu setiap harinya. Dimanapun, kapanpun, bagaimanapun keadaannya.

Selamat Hari Isra’ Mi’raj,, 27 Rajab 1429 H.
(Telat sehari, daripada tidak sama sekali)

NB : Ramadhan sebentar lagi, maaf lahir bathin ya… yg punya hutang puasa, jgn lupa segera dilunasi

Iklan

8 Comments

  1. @kak ardian
    namanya juga lagi belajar,,, alhamdulillah pas dapet ‘pencerahan’… aamiin…

    @rosi
    doakan ya suatu saat jd penulis beneran 🙂
    sering2 mampir ya ^^

    @anni
    melankolis sempurna??? maksudnya???
    sip2, ditunggu link-an-nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s