KuN Fa Ya KUn…

Ini bukan tentang film yang diproduksi ustadz Yusuf Mansyur yang baru saja tayang di bioskop dua pekan kemarin.

ini tentang padang rumput di pinggir jalan tamansari, tepat di seberang kantor rektorat ITB. Kira-kira sejak 2 tahun yang lalu, padang rumput itu ada. Ya, ada… ada begitu saja.

Setiap hari padang rumput itu menyapaku, dengan lambaian hijaunya. Menemani langkah kakiku menuju angkot yang akan membawaku ke kampus. Kadang ketika senja, masih sempat kunikmati indahnya pemandangan hijau bercampur jingga. Dengan latar jembatan pasopati, gagah menjulang. Ahh, subhanallah….

Entah sejak kapan, aku tak sadar, padang rumput itu muncul, tiba-tiba.

Dulunya kawasan itu adalah pemukiman penduduk dan pertokoan. Hidup! Orang-orang ramai, sibuk berlalu lalang, sibuk berjualan. Bangunan-bangunan sederhana menampung segala macam orang, entah dari mana saja datangnya. Yang pasti, sebagian mereka adalah pendatang yang sudah lama tinggal di Bandung. Menetap.. bekerja di kota ini, yang makin sempit oleh manusia.

Tiba-tiba sudah harus rata, rumah-rumah mereka.. toko-toko mereka…. Aku sudah lupa kapan tepatnya. Kata banyak orang, akan dibangun taman kota di sana. Ada juga yang bilang, akan dibangun kembali pasar Balubur di atasnya. Pasar tradisional di ujung jalan Gelap Nyawang itu dulunya berada di tempat ini tho. Pantas namanya pasar Balubur!

Entah, aku tak pernah tahu alasan sebenarnya, sampai sekarang. Kenapa akhirnya bangunan-bangunan itu harus rata dengan tanah dan penghuninya harus berpindah. Mungkin pun bagi mereka, yang paling pantas resah, alasan itu belum jelas. Karena sampai sekarang, 2 tahun kemudian, tak tampak pasar baru dibangun pemerintah… ataupun taman kota yang katanya akan ada… tak pernah!

Hanya panas, sejak tak ada lagi bangunan-bangunan yang jadi penghalang sinar matahari. Ditambah lagi debu beterbangan karena lalu lalang kendaraan. Kapan akan berubah, pikirku waktu itu (hingga kini?).

Tetap… tak ada yang berubah, dari gundukkan tanah, batu bata pecah belah, potongan kayu tiang rumah yang sudah belah… tak ada yang berubah. Hanya bertambah hijau yang bisa kulihat sejauh mata memandang. Hijau yang diciptakan Allah dengan kalimat Kun! Fa Ya Kun (jadilah! maka jadilah ia). Hijau itu ada tanpa campur tangan manusia. Hijau itu ada tanpa uang dana pemerintah.

Ya, hijau itu ada begitu saja. Pengobat resah jiwa-jiwa yang gundah, yang rumahnya digusur rata dengan tanah. Dan mungkin juga bagiku, bagi siapapun yang melewati padang rumput hijau dengan bunga matahari kecil yang mahkotanya berwarna putih (sebenarnya tak tahu bunga apa itu, yang pasti mirip bunga matahari ^^).

Ya, mudah saja bagi Allah. Bukankah Allah menciptakan alam semesta ini dengan kalimat itu. Bukankah kita pun diciptakan Allah dari kalimat itu. Sungguh Allah Maha Berkuasa, Maha Berkehendak. Allah tidak butuh bantuan siapapun dalam segala urusan-Nya. Begitu mengatakan ‘Kun! Fa Ya Kun!’ tak ada yang bisa menyangkal, apapun bisa tercipta.

Sungguh, ciptaan-Nya sempurna

sungguh ciptaan-Nya indah…

Karena Allah adalah Yang Maha Indah…

“…bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri…”

QS. As Sajdah (32) : 27

Iklan

10 Comments

  1. alam butuh waktu untuk tumbuh,sabar dan penuh amal.saat kita menutupinya ia penuh rendah hati mengalah untuk tampak gersang.saat kita pergi ia pun tetap rendah hati menghibur hati kita dengan tampak rindang

  2. hai saliii,, senang dirimu bisa mampir, sering2 yaa

    wah, alhamdulillah kalo gitu, jadi bakalan benar2 hijau daerah itu ya,, senang ^^
    terimakasih infonya, kita doakan saja smg terwujud segera, aamiin

  3. kamu emang rajin, merhatiin yang kecil2 tapi sebenarnya bisa punya makna yg luar biasa, Teteplah jadi anak yang baik, kita semua (saya) butuh tulisan yg bagus seperti ini. salam kenal dari saya ya.

  4. wah, sayang sekali,, sekarang daerah itu udah di-rombak jadi pusat belanja Balubur,,

    apa yang kata sali bilang, ‘daerah itu akan dibuat taman kota yg bertema galeri pot’, sepertinya gak akan pernah terwujud lagi,,,

    padahal menurut saya, lebih baik daerah itu jadi taman hijau saja,, kenapa harus ‘memaksa’ membangun mall satu lagi d bandung, yg notabene udah ‘kebanyakan’ mall,,,

    ckckckck,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s