Masjid : rumah Allah dan amal jariyah

Perjalanan kemarin memberi sebuah bekas di hatiku. Bahwa ternyata masih ada saja orang-orang yang keliru memahami tentang amal jariyah.

——————————————————————————-

Sebanyak 11 bus ekonomi melaju di atas jalan tol menuju jakarta. Matahari masih belum terbit. Gelap masih melingkupi bumi. Ya, pagi itu, pagi-pagi buta kami berangkat dari Bandung hendak menuju Gelora Bung Karno di Senayan. Ada perayaan besar di gelar di sana, mengundang tokoh-tokoh nasional, termasuk SBY bahkan.

Rencana akan berangkat pukul 2, baru jalan kira-kira pukul 3. Sudah pasti shubuh akan ditemui di tengah jalan. Tak apalah, toh banyak rumah Allah yg bisa disinggahi.

Hampir pukul 5.30 pagi, bus yg kutumpangi (bus terakhir di rombongan itu), mengikuti jejak bus lainnya, berhenti di depan sebuah masjid megah berwarna putih. Kulihat di depannya tertulis : “Masjid Agung At Tin”. Mata ini terpaku memandang keelokan masjid yg baru pertama kulihat itu, subhanallah… (hehehe, maklum, masuk TMII aja baru pertama kali ini..).

Mengikuti penumpang lain yang bergerombol di depan masjid, pikirku ‘kenapa gak langsung masuk aja?’. Koordinator rombongan tampak sedang berdiskusi dgn orang-orang yg tampak seperti penjaga masjid itu. Kami cuma bisa menunggu dalam harap-harap segera bisa masuk dan melaksanakan sholat subuh. Takut-takut waktunya sebentar lagi habis.

Tapi jawaban yg kami dapat waktu itu mengecewakan. Sangat-sangat mengecewakan, masakan kami tak boleh masuk rumah Allah.

“Masjid ini akan digunakan utk peringatan 100 hari meninggalnya pak Harto”, begitu salah satu alasan yg kudengar. Ah, kasihan sekali pak Harto, namanya dibawa-bawa. ‘Kalau mau buat alasan jangan pakai nama orang yg sdh meninggal dong’, geramku dlm hati. Menambah dosa beliau saja… hehehe.

Namun ada satu alasan yg membuatku geleng-geleng kepala, tak habis pikir… “Masjid ini dibangun utk mengenang ibu Tin”… MasyaAllah, alasan yg aneh!

Masjid itu ya dibuat utk beribadah, bukan utk mengenang seseorang saja. Bukankah alasan dibangunnya masjid itu sebagai amal jariyah beliau juga, mengalirkan pahala yg tak henti-hentinya selama masjid itu masih digunakan utk beribadah oleh orang lain.

“Kalau gitu, ganti saja namanya : Masjid Agung At Tin jadi Monumen At Tin”

Akhirnya kami mencari masjid lain yg ada di dekat sana, masih di daerah TMII. Ada, sebuah masjid yang ukurannya jauh lebih kecil dan tak semegah masjid At Tin. Sebagian ada yg sholat di masjid itu, sisanya memilih sholat di dalam bus saja. Takut tak sempat karena harus bergiliran dan mengantri.

Alhamdulillah… lega, satu kewajiban tertunaikan. Meski menyisakan luka yg belum terobati.

Sesampainya di Senayan, kami langsung disambut oleh ratusan orang yang tampak ingin mengikuti acara yg sama. Saudara-saudara seiman, seperjuangan. Mengguyur luka kami dengan syukur dan keharuan. Tak sia-sia datang ke sini. Lantas, kamipun segera larut dalam pekik takbir, pesan-pesan hikmah, seruan semangat, alunan nasyid menghentak. Kami sudah lupa.

Tiba-tiba, lembar koran tergeletak di depan bangku di mana aku dan teman-teman duduk. Ada berita yg menggelitik kami. Mengingatkan kami akan luka pagi ini, intinya “peringatan 100 hari meninggalnya pak Harto akan dihadiri anak-anak dan keluarga, dilaksanakan setelah maghrib nanti“…. “ckckck, acaranya ba’da maghrib, kok ya gak boleh ikut sholat shubuh. Persiapannya lama bener ya”

Iklan

6 Comments

  1. yup…

    sekarang ini lagi ngetren2nya orang berlomba-lomba bikin tempat ibadah semegah-megahnya… masih ada lagi, masjid kubah emas depok… halamannya luas sekali, kubah bagian dalamnya berlukiskan langit biru dan awan2 dan bisa berubah warna sesuai warna langit benerannya… org2 berdatangan utk sekedar wisata (termasuk saya :))… ada lagi masjid agung jateng di semarang… megahnya luar biasa… meniru arsitektur masjid nabawi (klo g salah)… di situ gak ada sekre2 macem gamais, mata’, YPM dll. adanya butik, toko jilbab, toko makanan, dll…

    tp menurut sy itu peluang yg bagus jg utk syiar Islam. asal di-manage dg bagus pula oleh orang yg bagus.

  2. @ madrid
    riya jariyah… hmm, kosakata baru tuh
    ya, harus waspada krn niat ga terlihat,, bahkan oleh kita

    @errick
    sy pernah jg ke kubah emas,, subhanallah, bagus banget

    katanya d sana bakal dibangun semacam islamic centre,, ada sekolah islam, rumah sakit islam, xyz islam,, kita doakan sj makin bertumbuh dan bermanfaat utk masyarakat sekitarnya

    ya, sepakat, syiar Islam memang harus melalui masjid, as the centre of everything,

    tentunya masjid yg bukan sekedar monumen atau sekedar objek wisata ^^

  3. memang aneh…hanya firaun yang membuat monumen untuk mengenang dirinya…membuat makam saat dirinya masih hidup…seperti bu tien sudah punya makam bersalut emas di giribangun selama ia masih hidup.wallahua’lam.ada benarnya juga ungkapan ridwan,riya jariyah

  4. Assalamualaikum..wbt

    Salam perkenalan… saya dari Malaysia…. saya tertarik dengan seni bina masjid-masjid yang terdapat di Indnesia, terutamanya masjid agong At-Tin, jadi kepada sesiapa yang sudi utk mengirimkan gambar-gambar menarik & unik masjid agung At-Tin ini dari dalam dan luar bolehlah e-mailkan kepada saya di e-mail addresnya : putera_sunni@yahoo.com… sekian terima kasih

  5. wa’alaikummussalam

    wah, ada saudara serumpun dr malaysia, salam kenal juga

    nah, siapa yg punya bnyk koleksi ttg masjid at tin, silahkan langsung berhubungan sj dg ahamad ya… (jd perantara gini ^^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s