Saat saya menulis blog ini, perasaan saya masih bingung antara ingin tertawa atau sebal atas apa yang saya alami hari ini dan kemarin. MasyaAllaah.. ckckck.. innalillaah… alhamdulillah..
Ceritanya saya memarkir sepeda saya 2 hari lalu d kampus Kawauchi. Saya kunci dengan rantai, sementara kunci rodanya saya tinggalkan seperti biasanya, karena saya memang gak tahu cara mencabutnya. Saya tinggalkan begitu saja, aman, pastinya, seperti biasa. Malamnya saya terpaksa menginap di rumah mbak agni di Sanjoumachi, karena kemalaman berobat ke rumah pak dokter arif. Si Seine (nama sepeda saya) tak sempat saya ambil dan seharian setelahnya masih di parkiran Kawauchi.
Kemarin malam, saya berencana pulang kampus naik sepeda. Turun dari bus kampus yang membawa saya dari Aobayama ke Kawauchi, saya bergegas menuju parkiran sepeda, paling ujung, tempat saya menaruhnya. Tuh, kan, si Seine masih anteng parkir di sana. Alhamdulillah. Saya buka kunci rantai, saya naikkan standar-nya, lalu saya jalankan mundur ke belakang.. lho.. lho.. macet?? Saya majukan lagi, maju beberapa senti.. macet lagi! Hee.. doushite.. saya bingung dan langsung mencari-cari apa yg aneh dari si Seine. Dan mata saya langsung menemukan bahwa kunci roda yang saya tinggalkan karena tak bisa saya cabut itu tak ada lagi ter-cantol di sana. Hee??!!
Waduuh, kemana ya?? Gak mungkin bisa jalan sendiri kan, itu kunci. Pasti ada yg ngambil, dan itu pasti orang. Duh, orang iseng kah?? Waah, ini kan sepeda pinjeman! Hati saya was-was.. kalau yg kena iseng sepeda sendiri mungkin bisa lebih tenang ini hati.
Saya kembalikan standar sepeda supaya si Seine bisa berdiri sendiri lagi. Mata saya menjelajah sekeliling tempat saya memarkir Seine, dalam gelap. Di antara rerumputan, gak ada. Di keranjang, nihil. Di mana lagi kira-kira orang iseng itu mungkin membuangnya?? Dalam gelap mata saya kurang bisa diandalkan, jadi saya putuskan untuk mengunci kembali si Seine dan terpaksa saya tinggal lagi di sana, karena mustahil juga saya geret pulang. Akhirnya saya jalan kaki sampai dormitory saya, sambil berusaha menghubungi beberapa orang yg saya pikir bisa membantu saya berpikir. Sebab saya sudah kehabisan akal plus panik saat itu.
Kemungkinan lain selain orang iseng adalah satpam kampus yg mengamankan si kunci. Kalau saya tanya ke satpam esok hari, mungkin si kunci bisa kembali ke tangan saya, tanpa saya harus membuka paksa dengan kekerasan, hehehe. Tapi saya tak bisa bahasa Jepang… para satpam itu pastinya orang Jepang dan jarang sekali yg bisa berbahasa Inggris. Saya putuskanlah menelepon mahasiswa Indonesia yg Nihongo-nya sudah level atas.
Pertama saya hubungi mbak Yuli, gak nyambung. Harapan kedua adalah Jimmie, sebelumnya saya sms dulu, memastikan Jimmie bisa di-ganggu. Jimmie pun menelepon saya setelah membalas sms, akhirnya saya ceritakan semua kronologis kejadiannya. Salah satu solusi yg ditawarkan Jimmie adalah membawa Seine ke toko sepeda untuk membuka kuncinya, tapi opsi ini mengharuskan saya punya surat kepemilikan sepeda. Takutnya montir sepeda menanyakan dan kalau tidak punya bisa dianggap mencuri sepeda. Wah, surat sepeda ini tak pernah saya pegang sejak saya pinjam dari Bu Fajar. Katanya memang suratnya belum ketemu juga. Solusi lain, usul Jimmie, adalah membuka dengan kekerasan, seperti yg juga saya pikirkan sebelumnya. Digergaji! Saya sampaikan opsi lain bahwa yg mengamankan kunci adalah satpam Kawauchi dan Jimmie berjanji akan membantu menanyakan ke satpam tapi baru bisa pekan depan. Akhirnya kami sampai pada kesimpulan bahwa Seine harus ditinggal 2 hari lagi di parkiran dengan mengunci plus mengaitkannya pada sesuatu, seperti pagar, supaya gak bisa dibawa kabur orang lain. Berhubung saya sudah di tengah jalan menuju dormitory, saya katakana pada Jimmie dan juga berjanji pada diri sendiri untuk melakukannya besok pagi.
Setelah itu, saya menelepon bu Fajar, mengabarkan kejadian hilangnya kunci, sekaligus menanyakan keberadaan surat sepeda. Alhamdulillah-nya kalau ada, si Seine tinggal dibawa ke toko sepeda. Bu Fajar berjanji mencarikan, dan memaklumi musibah ini. Dalam hati, saya sudah khawatir kalau bu Fajar akan menghakimi saya sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Dipinjamkan barang kok ya gak amanah T____T. Astagfirullah, maafkan saya ya bu….
Dan esok itu adalah hari ini, saya berangkat lebih awal dari biasanya, berjalan kaki menuju Kawauchi. Saya sudah pasrah, sudah berusaha pasrah lebih tepatnya. Yah, ini cobaan dari Allah. Pasti ada jalan keluarnya. Pasti. Meski harus dengan kekerasan :p.
Ah, itu dia si Seine masih di sana, menunggu saya. Saya buka kunci rantainya, saya naikkan standar-nya, berpikir kira-kira di mana bisa men-cantol-kan Seine. Di sisi parkiran yang satu parkirannya beratap dan ada tiangnya… Aha! Ada besi penghubung tiang juga! Yosh, mari kita kaitkan di sini saja, pikir saya, pasti aman. Dan begitu saya selesai mengunci rantainya, mata saya tiba-tiba melihat sesuatu yg berkilat di dalam keranjang sepeda rusak yang dgantungkan antara tiang parkiran sepeda itu. Hah?? Itu kan??
Ya ya ya! MasyaAllaaah.. Alhamdulillaah.. Tak habis pikir saya, bisa menemukan kunci sepeda itu di sana. Kaget, haru, bersyukur… (sebalnya juga masih ada, hehe).. langsung saya ambil dan saya masukkan ke dalam lubang kunci roda. Masuk! Yak, keluarkan.. eh.. gak bisa.. hmm.. ternyata masih macet. Masa saya tinggalkan lagi di sini.. berpikir keras.. nanti ada orang iseng lagi. Tapi kan si orang iseng juga bisa, masa saya gak bisa?? Coba deh, sepertinya harus dibeginikan, sambil memutar satu bagian dari pengunci roda sepeda ke arah yg bisa diputar, tahan, dan memutar kunci-nya. Klik! Dan bisa dicabut, saudara-saudara! Alhamdulillaah.
Heu.. terimakasih ya, orang iseng-kah atau orang baik hati-kah yang mengamankan kunci roda sepeda si Seine. Terimakasih sudah mengajarkan saya tentang bagaimana mencabut kunci roda dan lebih berhati-hati memarkir sepeda!
Dan alhamdulillah.. Allah sungguh Maha Baik, sehingga si Seine masih jadi rejeki saya :’)


buahahahaha.. serunyaaa:))
persis kaya nasib acit sekarang nii jeng. gatau dimana kunci sepedanya..huhu. di rumah gada, di jaket2 gada, di sepedanya pun ga ada T.T
Hehehe serunyaaa, bisa ya begitu? Walhamdulillah..masih rezekimu Jeng..
@acit:
wah, nasib kita sama
ayo diingat2 lagi acit, dmana terakhir naruhnya.. ada probability klo diambil orang iseng juga gak? hihihi
@raras:
haha, seru pisan.. jantung udah kebat kebit, shock terapi malam2.. trus paginya calm down dan langsung dapat shock terapi lagi.. alhamdulillaah.. Allah Maha baik :’)
ribet baca tulisannya… wkwkwkwkw…
tapi sepeda nya keren :mupeng:
seribet perasaan pas lg nulis :p
sepeda pinjeman emang keren, hehehe
seru Jeng
seru, tp jgn sampai keulang lg X(
ini kasusnya sama dengan si aku yang dititipin *TM tapi endingnya ga sama
(
TM itu kepanjangannya naon pi?
bukan TM tapi (bintang)TM..
aaaa :p