Posted by: 37degree on: Februari 20, 2009
Sudah sebulan lamanya laki-laki itu mendekam di penjara. Ia ditangkap polisi saat sedang melakukan aksinya, menjual ganja. Kali itu ia salah sangka, terjebak polisi yg menyamar jadi pembeli. Seperti biasa, ia tak menaruh curiga, pada lelaki bertampang preman yg menanyakan padanya tentang tempat membeli ganja yg bagus. “aku bayar mahal,” kata polisi itu, dan ia percaya saja.
Ia tak menyangka akan berakhir seperti ini, mendekam di penjara. Terancam hukuman penjara 10 tahun. Matanya nanar, dalam gelapnya sel yg dihuninya seorang diri itu. “Aku memang ditakdirkan jadi penjahat, ” gumamnya pelan sambil mondar mandir di dalam sel.
Ia terbayang wajah istri dan anaknya semata wayang yg datang menjenguknya pagi tadi. Ada gurat kecewa dalam wajah sang istri yg tidak pernah menyangka bahwa uang belanja yg diterimanya setiap bulan adalah hasil dari pekerjaan haram. Menjual ganja!
“apa yg kau harap dengan memberi kami makan dari uang haram?!”
Terngiang kata-kata istrinya di telinga. Terus terngiang, semakin keras, berulang-ulang. Sampai ia jejalkan telapak tangannya pada telinganya, berharap tak lagi mendengar suara itu yg membuat dunia di matanya berputar-putar. Laki-laki itu jatuh terduduk di lantai sel yg dingin. Lemas….
“diam! diam! diaaam! aku memang ditakdirkan jadi orang jahat! jangan salahkan aku! Tuhan tak pernah ingatkan aku. Ia yg ingin aku jadi seperti ini….”
Malam itu, langit tanpa rembulan. Di dalam sel yg gelap, sesosok lelaki tergugu di lantai. Laki-laki yg menyalahkan Tuhan, karena nasibnya yg malang.
( – mungkin – bersambung… ^^)
nah,, ini ceritanya mau dikembangkan jadi cerpen,, tampak seru kalo dibuat cerpen bersambung. ada yg tertarik? silahkan teman2 yg ingin menyambung cerpen ini, hingga nanti kita dapat satu buah cerpen karya kita bersama ini,, syaratnya : mengacu pada judul dan paragraf2 sebelumnya, jgn melenceng terlalu jauh ya. Inti dari cerpen ini sebenarnya ttg butanya mata hati kita dari melihat ‘tanda2 Cinta’ Allah. Merasa tak pernah di’selamatkan’ oleh Allah, tak pernah diseru pd kebenaran, tak pernah diberi hidayah. Padahal tanda2 itu tersebar dimana-mana dan hidayah itu sesungguhnya ‘diupayakan’.
ok,, let’s start!
(saran lain dipersilahkan,, monggo,,)
hahayyy…! since u’re asking me to continue this story. ok, i’ll try hehe.. i’ll continue the story. hehee, let me meditate first just like a hermit, kekekekekkk
hadiahnya dulu apa…
Februari 20, 2009 pada 5:43 pm
Cuman pengen Pertamax…